
Ban 24.
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Raka menatap ke arah ponselnya yang berdering, pria itu terdiam beberapa saat melihat nama penelponnya sebelum dia mengulurkan tangannya mengambil ponsel tersebut Lalu mengangkat panggilan telepon itu.
Raka tidak mengatakan apapun, tapi orang di seberang telepon langsung berkata, "aku sudah menyelidiki perempuan itu, dia telah menikah 5 tahun yang lalu tetapi pernikahan mereka hanya beberapa hari saja lalu bercerai, bahkan bulan madu mereka juga tidak berjalan dengan baik. Dia juga sudah memiliki seorang Putra, tapi kenapa kau menyuruhku mencari tahu seorang perempuan yang memiliki Putra? Aku juga berusaha mencari foto putranya, tapi tidak ada satupun diupload di akun media sosial perempuan itu, dan yang lebih aneh lagi, anaknya tidak terdaftar di sekolah manapun, padahal umurnya sudah 4 tahun lebih."
Raka yang mendengarkan ucapan pria di seberang telepon kini menggerakkan mousenya membuka sebuah email yang baru saja masuk, lalu dia menurunkan ponsel dari telinganya dan me-rejec panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
Dengan begitu tenang Raka membaca semua informasi mengenai Melisa dan pria itu memegang erat-erat mouse-nya ketika dia melihat informasi-informasi yang tertera di layar komputernya.
'Anak? Anak laki-laki?' ucap Raka dalam hati dengan jantung yang berdegup amat kencang.
Saat ini dia semakin yakin bahwa tujuan melisa datang ke kantornya bukan untuk benar-benar bekerja, karena dia melihat informasi tentang Melisa yang mendapat tawaran pekerjaan dari banyak perusahaan untuk posisi-posisi yang tinggi, tetapi perempuan itu menolak semua tawaran tersebut.
Bahkan beberapa posisi tinggi di perusahaan utama juga ditolaknya, dan memilih menunggu selama bertahun-tahun sampai posisi sekretaris terbuka barulah mengambil tawaran itu untuk pindah ke perusahaan utama.
Tok tok tok...
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuat Daffa melihat ke arah pintu lalu melihat seorang perempuan memasuki ruangannya yang ternyata adalah sekretaris utamanya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Raka dengan nada suara yang begitu menekankan karena pria itu berada dalam suasana hati yang sangat buruk.
Marsita yang sudah cukup lama bekerja untuk pria di depannya langsung mengetahui bahwa Raka sedang berada dalam suasana hati yang sangat buruk sehingga perempuan itu dengan berhati-hati berkata, "maafkan saya mengganggu, tetapi ini mengenai orang yang akan menemani anda untuk rapat dengan perwakilan perusahaan K, saya rasa--"
"Melisa akan tetap menemaniku, jadi keluar dari sini sekarang juga!!" Perintah Raka pada perempuan di depannya langsung membuat marsita segera berbalik meninggalkan ruangan CEO tanpa berkata apapun lagi.
Raka yang merasa gerah kini mengulurkan tangannya mengambil kopi miliknya lalu dia pun menghabiskan kopi tersebut sebelum berdiri dan berjalan memasuki kamar mandi.
'Perempuan itu, sepertinya aku harus memberinya sedikit pelajaran,' ucap Raka dalam hati sambil mengepal kuat tangannya sebelum pria itu membasuh mukanya dengan air dingin.
Sementara marsita yang meninggalkan ruangan rapat, perempuan itu merasa sangat cemas, 'CEO sedang berada dalam suasana hati yang buruk, jadi kalau Melisa yang pergi bersamanya dan Melisa melakukan kesalahan, ini bisa berakibat fatal!' ucap marsita dalam hati yang kini merasa cemas bahwa Melisa mungkin akan langsung dipecat hari itu juga karena dia ditugaskan untuk menemani CEO saat CEO sedang berada dalam suasana hati yang buruk.
__ADS_1
Meski begitu, marsita tidak memiliki sebuah ide untuk menggagalkan Melisa pergi bersama dengan CEO sehingga dia hanya bisa berpasrah dan menunggu waktu menjawabnya, entah Melisa berhasil melalui ujiannya ataukah perempuan itu harus meninggalkan pekerjaannya.