
Seperti hari-hari kemarin, hari ini Raka juga pergi ke sekolah Fernando untuk menemui putranya.
Dia berjalan dengan tenang menuju kelas Fernando sambil memperhatikan keadaan sekitar, sebab saat itu dia datang kesiangan hingga ketika sudah sampai, waktu itu adalah jam istirahat.
Namun ketika dia berada tak jauh dari kelas putranya, Raka Mengerutkan keningnya ketika ia melihat ada banyak anak-anak yang berkumpul di depan kelas Fernando.
Lalu beberapa anak berlari di sekitar Raka sambil berkata, "Anak genius itu mengamuk di kelasnya!!"
"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa mengamuk?" Ucap siswa yang lain sambil terus melangkahkan kaki mereka menuju kelas Fernando.
Raka yang mendengarkan percakapan anak-anak itu kini langsung berjalan menuju kelas Fernando dengan rasa khawatirnya.
"Beri jalan!!" Tegas Raka berusaha menyingkirkan satu persatu anak yang menghalanginya hingga akhirnya dia tiba di depan pintu, namun pintu tersebut terkunci sehingga Raka mengintip lewat jendela yang ditempati oleh murid-murid lain mengintip.
Dia bisa melihat Fernando sedang melemparkan satu persatu bola percobaan fisika ke dinding sehingga bola tersebut pecah di dinding dan meninggalkan noda kotor pada dinding.
Raka sangat terkejut hingga dia dengan cepat mendobrak pintu di sana, namun sayangnya pintu itu cukup keras sehingga salah seorang murid berkata, "guru sedang mencari kunci serepnya, dia akan datang sebentar lagi."
__ADS_1
Raka yang mendengarkan ucapan murid tersebut, ia tidak memperdulikannya, Ia hanya terus berusaha mendobrak pintunya sampai akhirnya pintu tersebut berhasil terdoblak.
Maka Raka langsung berlari ke dalam ruangan lalu menghampiri seorang pria yang tampak tenang melemparkan bola-bolanya ke dinding, namun dalam ketenangan Fernando, Raka bisa melihat amarah yang begitu kuat yang ditahan oleh pria kecil itu.
Oleh sebab itu, Raka langsung berdiri di samping Fernando dan menatap ke arah dinding yang sudah sangat berantakan.
Fernando sangat terkejut dengan kedatangan Raka hingga pria kecil itu menghentikan gerakannya lalu menatap ke arah Raka dengan tatapan tidak senang.
"Kau sedang melukis dinding dengan bola-bola itu? Ini pertama kalinya aku melihat lukisan sebagus ini dan cara melukisnya sangat unik," ucap Raka dengan suara yang begitu tenang sambil memperhatikan dinding di hadapannya.
Sementara Raka, ia kini melihat Fernando, "apa lukisannya sudah selesai atau kamu mau melanjutkannya lagi?" Tanya Raka.
Fernando pun berbalik menatap Raka selama beberapa detik sebelum dia berjalan ke arah ember berisi air yang diletakkan di dalam gelas, lalu dia mencuci tangannya sampai bersih sebelum kembali ke mejanya lalu duduk disana.
Raka pun segera duduk di hadapan Fernando dan memperhatikan pria kecil di hadapannya yang kini mengambil kotak bekalnya.
Sebenarnya Raka masih ingin mengajak pria kecil di hadapannya berbicara, tetapi wajah Fernando menyiratkan perasaan tidak ingin diganggu sehingga mereka hanya duduk di tempatnya memandangi Fernando sampai setengah bekal Fernando telah habis.
__ADS_1
Maka Raka kemudian berdiri sambil meletakkan sebuah kartu di atas meja Fernando sebelum pergi meninggalkan Fernando.
Begitu keluar dari kelas, Raka melihat seorang guru yang sedari tadi menunggu di depan kelas.
"Maaf, kami harus menagih biaya perbaikan pintu ini. Atau kalau anda tidak membayarnya sekarang maka kami akan memasukkannya dalam tagihan biaya sekolah Fernando, Karena bagaimanapun beasiswa yang diberikan oleh kepala sekolah pada Fernando hanya senilai 50% saja," ucap Sang guru.
Raka yang mendengarkan ucapan guru, ia kini merogo sakunya lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil tumpukan dolar dari sana.
"Jaga Putra saya baik-baik," kata Fernando sambil meletakkan uang tersebut ditangan guru.
"Terima kasih sudah mengerti untuk menjaga fasilitas di sekolah ini dan kami pastikan akan menjaga Fernando dengan baik!" Kata Sang guru dengan sebuah senyuman indah terukir di wajahnya karena merasa senang dengan tumpukan uang di tangannya.
Sementara Raka yang mendengarkan ucapan guru tersebut, ia tidak terlalu memperdulikannya dan hanya pergi meninggalkan guru itu.
Sambil berjalan menuju gerbang sekolah, Raka bisa mendengar beberapa anak-anak bergosip tentang Fernando, ada yang bergosip baik dan ada juga yang menggosipkan Fernando dengan kata-kata yang buruk.
'Apakah anak-anak ini tidak pernah diajari oleh orang tua mereka untuk tidak mengurusi urusan orang lain?' gerutu Raka dalam hati tanpa ada niat untuk mengurusi anak-anak yang ada di sana.
__ADS_1