
Setelah Hardi kembali ke rumahnya, ia melihat 3 orang yang ia tinggalkan di rumah sedang duduk di depan TV sambil berbincang-bincang.
Oleh sebab itu, Hardi tidak ingin mengganggu mereka dan hanya terus ke kamar untuk mengganti pakaiannya sebelum pria itu menghampiri semua orang dan duduk di sofa tunggal.
"Kakek kapan pulang?" Tanya Fernando yang tidak menyadari kedatangan kakeknya karena tadi dia terlalu fokus pada TV yang sedang memperlihatkan story seorang ilmuwan.
"Baru saja, tapi kakek ingin bertanya sesuatu padamu, Apa benar kau pernah bertemu dengan pria bernama Raka?" Tanya Hardi yang tadinya ketika mereka sedang makan bersama, ia menanyakan masalah itu pada Raka dan Raka mengiyakan pertanyaannya.
Pertanyaan Hardy pun langsung membuat Novia dan juga Melisa menatap ke Arah Feenando, dan saat ini Melisa baru menyadari bahwa dia tidak pernah menanyakan masalah itu pada putranya karena terlalu fokus pada hal lain.
Sementara Fernando yang ditanyai, pria kecil itu menatap ke arah Ibunya, dan dia bisa melihat raut wajah ibunya yang tampak cemas akan jawabannya.
Melisa yang melihat putranya tampak mempertimbangkan ekspresinya untuk menjawab, ia akhirnya berkata, "tidak apa-apa, katakan saja."
Setelah mendengar ucapan ibunya, Fernando pun menatap kakeknya sambil berkata, "ya, dia datang ke sekolah."
Melisa sangat terkejut, sehingga dia kembali bertanya, "apa kau berbicara dengannya?"
Dengan ragu-ragu, Fernando mengangkat kepalanya hingga semakin membuat Melisa dan kedua orang tuanya sangat terkejut.
"Kau bicara? Apa yang kau katakan padanya?" Tanya Melisa yang tak menyangka bahwa ternyata putranya berbicara pada Raka, Padahal selama ini putranya tak pernah berbicara dengan orang lain selain dengan dirinya dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Aku tanyakan namanya, lalu dia suruh aku menebak dia siapa," ucap Fernando.
"Kau benar-benar berbicara dengan pria itu?" Tanya Novia yang tak menyangka cucunya akan memiliki kemajuan untuk membuka diri dengan seorang pria lain yang ternyata pria itu adalah Raka.
Fernando menjawab pertanyaan neneknya dengan cara menganggukkan kepalanya.
Hal itu membuat suhu tubuh Melisa langsung meningkat dalam sekejap, 'apa Fernando mau berbicara dengan pria itu karena pria itu adalah ayahnya? Tapi,,, kenapa dan Apa yang harus kulakukan?' ucap Melisa dalam hati yang sangat senang karena putranya sudah bisa berbicara dengan orang lain selain mereka bertiga, tetapi yang membuatnya tidak senang ialah putranya berbicara dengan pria yang ia benci.
Fernando pun berbalik menatap Ibunya dan dia bisa melihat raut wajah ibunya yang tampak tidak karuan sehingga Fernando berkata, "Ibu tidak marah kan? Waktu itu aku hanya terkejut karena dia tiba-tiba datang ke kelasku."
Melisa langsung menggelengkan kepalanya karena dia tidak mau membuat putranya tertekan Jika dia sampai marah atas apa yang telah terjadi.
"Sudah, kita lanjutkan pembicaraan ini nanti saja, ayo makan malam, kalian semua pasti sudah lapar," kata Novia sambil berdiri, karena dia tahu Ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh suaminya pada Fernando, tapi dia cemas mungkin ada pertanyaan suaminya yang akan melukai hati Fernando sehingga lebih baik membicarakannya saat mereka bertiga saja.
Maka setelah itu, semua orang berpindah ke meja makan Dan mereka makan bersama-sama sambil membahas menu makan malam mereka hari itu yang cukup banyak disediakan oleh Novia dan Melisa.
Barulah setelah makan malam dan Melisa selesai menidurkan putranya, lalu Melisa pun turun ke lantai bawah menemui ayah dan ibunya yang saat itu berada di dalam kamar.
"Masuklah," kata Novia yang membukakan pintu untuk putrinya karena mereka memang perlu berbicara.
Maka Melisa pun segera masuk ke dalam kamar, diikuti Fernando yang langsung berlari kecil ke arah depan pintu kamar neneknya untuk menguping pembicaraan Ketiga orang itu.
__ADS_1
'Tidak apa-apa aku membohongi Ibu kalau aku sudah tertidur tapi masih di sini menguping pembicaraan Mereka, lagi pula ibu tidak bisa menceritakan semuanya padaku. Dia akan pingsan lagi kalau dia mau menceritakannya, tapi tadi siang dia sudah mengizinkanku untuk mengetahui semuanya.
'Jadi kalau aku menguping di sini untuk mendengarkannya, maka Ibu tidak perlu pingsan dan aku tetap bisa mengetahui apa yang sudah terjadi,' ucap Fernando dalam hati sambil berdiri menempelkan kupingnya ke pintu kamar kakek dan neneknya.
Sementara di dalam kamar, Melisa yang telah duduk di sofa kini menatap ayahnya, "Bagaimana pembicaraan Ayah dengan Raka?" Tanya Melisa.
"Sama seperti yang kau ceritakan, Darren menjualmu pada asisten Raka lalu Raka membawamu pergi ke kamar Raka dan kalian pun tidur bersama. Tapi menurut Raka, dia sama sekali tidak bersalah karena dia pun tidak terlalu ingat apa yang terjadi pada malam itu karena dia berada di bawah pengaruh obat," ucap Hardi sambil mengambil laptopnya lalu mencolokkan flashdisk ke laptop tersebut.
Sementara Novia, perempuan itu mengerutkan keningnya sambil berkata, "itu memang bisa dipercaya, tapi harus ada bukti!"
Melisa pun menganggukkan kepalanya sebagai pertanda bahwa dia setuju dengan ucapan ibu nya.
"Dia memberikan flashdisk pada Ayah, katanya flashdisk ini berisi bukti tentang apa yang terjadi," kata Hardi sambil menggerakkan jarinya di laptop miliknya.
Fernando yang menguping pembicaraan itu pun langsung berlari meninggalkan ke lantai 1 dan pergi ke lantai 2 mengambil komputer milik neneknya.
Pria kecil itu dengan cepat menyalakan komputernya dan langsung meretas komputer milik kakeknya melalui celah jaringan wi-fi di rumah mereka sehingga di meja belajarnya, Fernando bisa menonton Apa yang sedang ditonton oleh tiga orang yang ada di lantai 1.
Pria kecil itu terdiam dalam rasa tercengangnya ketika ia melihat video yang diputar di laptop yang ada di hadapannya.
Juga ketika ia mendengar suara percakapan dua orang di 5 tahun yang lalu Paman tangan Fernando langsung terkepal kuat dan kemarahan melingkupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1