Satu Malam Dengan Pria Asing

Satu Malam Dengan Pria Asing
69


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Fernando pun diijinkan pergi ke kamar mandi untuk buang air terlebih dahulu sebelum dia disuruh naik ke tempat tidur lalu tangan dan kakinya kembali diikat, namun saat ini ada tali lain yang dihubungkan lagi ke sandaran ranjang agar pria itu tidak meninggalkan ranjang.


Oleh sebab itu, Fernando menjadi semakin frustasi bahwa dia tidak akan bisa kabur dari daren sehingga Fernando hanya diam saja dengan wajah murungnya terbaring tempat tidur.


Pria kecil itu terus teringat akan ibunya dan juga nenek serta kakeknya, tetapi meski merindukan Ketiga orang itu, Fernando sama sekali tidak menangis pria kecil itu bersikap kuat dengan menahan air matanya agar tidak merembes ke pipinya.


Sementara Daren, pria itu kembali keluar dari apartemen dan mendapatkan sebuah koper besar yang tadinya lupa ia beli.


Setelah itu, Daren kembali ke apartemen lalu tidur di sana menunggu sampai pagi hari menjelang barulah Daren mengambil salah satu ponsel miliknya.


Pria itu mengirim pesan pada nomor ponsel Melisa yang berbunyi, *kalian punya waktu sampai setengah hari untuk mentransfer 250 miliar dan siapkan juga 2 miliar cash!*


Setelah mengirim pesan itu pada Melissa, Daren pun memesan makanan ke apartemen tempat ia berada sebelum mereka sarapan lalu pergi meninggalkan apartemen menuju ke sebuah tempat pembuatan paspor ilegal.


Pria itu hanya pergi dengan menarik sebuah koper besar miliknya dan juga sebuah tas ransel yang ada di punggungnya hingga dia mengurus surat-surat palsunya selama beberapa waktu sebelum dia melanjutkan perjalanannya menuju dermaga.


Saat tiba di dermaga, Daren memeriksa rekeningnya dan mendapati bahwa uang yang telah Ia minta sudah ditransfer sehingga pria itu tersenyum penuh bahagia karena saat ini dia telah menjadi orang yang sangat kaya.


Sementara di tempat lain, saat ini Melisa Novia dan Hardi sedang dalam perjalanan untuk bertemu dengan Raka di sebuah restoran milik Raka.


Sementara dalam perjalanan, Novia menatap suaminya sambil berkata, "Raka yang menyediakan semua uangnya?"


Hardi mengganggukan kepalanya, "Ya, lagi pula kita tidak punya uang sebanyak itu untuk diberikan pada pria yang telah menculik Fernando. Untungnya ada Raka yang bisa membantu kita, kalau tidak ada Raka, Ayah tidak tahu lagi akan terjadi apa pada Fernando," ucap Hardi yang jelas tahu bagaimana situasi yang mereka hadapi.


Seandainya tidak ada uang yang mereka siapkan untuk memenuhi permintaan Daren, maka keselamatan Fernando menjadi taruhannya.


Melisa yang duduk di belakang ayahnya kini menyadari apa yang terjadi, perempuan itu memikirkan uang ratusan miliar yang harus dikeluarkan oleh Raka.


Hal itu membuat Melisa merasa bahwa dia harus membuka pikiran untuk melihat bagaimana Raka yang sebenarnya memperhatikan mereka.


Sementara Novia yang duduk di tempatnya, perempuan itu menatap keluar jendela dan saat ini pikirannya tidak tertuju pada pembahasan mereka namun sekarang lebih memikirkan Fernando yang sudah diculik selama satu hari satu malam, dia cemas Apakah pria kecil itu sudah makan atau tidak, Dan apakah tidurnya lelap dan Apakah pria kecil itu akan baik-baik saja saat mereka berhasil menyelamatkannya.


Ketiga orang dalam mobil terus terdiam sampai akhirnya mereka tiba di restoran milik Raka lalu mereka memasuki restoran dan melihat restoran itu sedang tutup, namun saat mereka selesai memarkirkan mobil, seorang pria menghampiri mereka dan mengajak mereka untuk segera masuk ke restoran.


Begitu tiba dalam restoran, ketiganya langsung disambut oleh Raka yang saat itu sedang duduk sambil memegang ponselnya.


"Silakan duduk," ucap Raka pada tiga orang yang baru saja datang.


Maka Melisa bersama kedua orang tuanya langsung duduk dengan tatapan Melisa terus terpaku pada Raka yang tampak tenang di hadapannya.


Pria itu tidak terlihat sedih, tidak terlihat khawatir, tetapi dari apa yang telah dilakukan oleh Raka membuat Melisa tahu bahwa pria itu sebenarnya sangat khawatir namun tidak menunjukkannya pada semua orang.


"Apakah sudah ada kabar?" Tanya Raka pada Hardi.


Hardi pun mengambil ponsel Melisa, lalu dia menggelengkan kepalanya, "tidak ada kabar apapun," ucap Hardi.


"Kalau begitu, kita hanya perlu menunggu sampai mereka memberitahu kita kemana harus mengantar uang 2 miliar yang sudah disiapkan." Ucap Raka bersamaan dengan beberapa pelayan yang menghampiri mereka lalu menyediakan makanan.


"Aku menyiapkan makanan yang sehat supaya kita semua punya tenaga untuk berjuang hari ini," ucap Raka dijawab anggukan Hardi hingga Hardi pun mulai makan.


Novia juga makan, tetapi Melisa, dia terdiam di tempatnya dengan tangan yang begitu dingin dan saat ini dia malah teringat Bagaimana putranya yang telah diculik, entah sudah makan atau belum.


Raka yang saat ini memegang sendok dan garpunya bisa melihat wajah cemas Melisa sehingga pria itu mengambil sepotong daging dan meletakkannya di piring Melisa yang masih kosong.


"Kalau nanti kita berhasil menyelamatkan Fernando, dia akan sedih melihat ibunya tanpa kurus dan tidak terawat," ucap Raka langsung membuat Melisa menatap ke arah Raka.


Hal itu membuat Raka langsung melemparkan senyuman pada Melisa hingga membuat Melisa terpaku, 'Pria ini,,' ucap Melissa dalam hati sebelum dia akhirnya mulai memaksakan dirinya untuk makan makanan yang telah berada di piringnya.


Maka keempat orang itu pun mulai makan sampai di tengah makan mereka, ponsel Raka tiba-tiba saja berdering hingga Raka pun mengambil ponselnya dan melihat sebuah panggilan telepon yang berasal dari neneknya.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Raka sudah tahu apa yang hendak dibicarakan oleh neneknya sehingga dia mematikan panggilan telepon itu dan kembali menyimpan ponselnya ke dalam sakunya dengan harapan neneknya tidak akan mengulangi panggilan telepon tersebut karena saat ini ia sedang bersama-sama dengan Melisa dan kedua orang tuanya, jadi tidak baik Kalau Ketiga orang itu mendengarkan percakapannya dengan neneknya.


Tetapi beberapa saat kemudian, ponsel Raka kembali berdering hingga membuat Hardi berkata, "angkat dulu teleponnya, mungkin saja itu sangat penting."


Raka menganggukan kepalanya sebelum dia berdiri dan pergi meninggalkan tiga orang yang ada di sana untuk mengangkat panggilan teleponnya.


Melisa sangat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Raka dengan orang yang menelepon hingga perempuan itu dengan cepat berdiri.


"Aku akan ke toilet sebentar," ucap Melisa sambil mengikuti Raka yang memang berjalan ke arah toilet.


Melisa pun terus mengikuti Raka sampai ia melihat Raka yang sudah tiba di depan toilet malah berbelok ke arah sebuah kolam ikan yang terletak di samping toilet sehingga Melisa bersembunyi di balik tembok untuk mendengarkan percakapan Raka.


"Halo," ucap Raka mengangkat panggilan telepon dari neneknya.


"Apa yang kau lakukan?!! Kenapa kau menggunakan begitu banyak uang perusahaan dan bahkan membatalkan begitu banyak proyek?!! Nenek sampai terkejut ketika mendapat banyak telepon dari para klien mu yang telah kau batalkan proyek kerjasamanya! Bahkan nenek sudah mengetahui kalau kondisi keuangan perusahaan langsung menjadi sangat buruk gara-gara kau menarik uang dalam jumlah yang sangat banyak!!!!" Teriak Nyonya rosmania dari seberang telepon.


Raka jelas tahu bagaimana pengaruh uang 500 miliar itu terhadap kondisi perusahaan mereka yang saat ini menjalankan begitu banyak proyek, sehingga pria itu hanya bisa meminta maaf dengan berkata, "Maaf Nek, setelah masalahku selesai Aku akan kembali memperbaiki masalah perusahaan dan akan memastikan uang yang telah kutarik bisa dikembalikan dalam--"

__ADS_1


"Diam!!" Teriak Nyonya rosmania menyela ucapan cucunya, "ku beritahu padamu, sekarang juga pergi ke kantor dan selesaikan semua masalah di perusahaan atau nenek akan kembali menghampirimu!!!" Bentak Nyonya rosmania dari seberang telepon.


"Maaf Nek, tapi aku benar-benar tidak bisa kembali ke perusahaan sekarang, Aku tutup dulu teleponnya," ucap Raka langsung mematikan panggilan telepon itu lalu dia pun mematikan ponselnya supaya neneknya tidak menghubunginya lagi.


Sementara Melisa yang mendengar percakapan Raka dengan neneknya, perempuan itu terdiam di tempatnya dengan tangan gemeter menutup mulutnya karena tak menyangka bahwa ternyata Raka membuat kekacauan di perusahaan hanya untuk menyelamatkan Fernando.


Baru saja perempuan itu hendak pergi dari sana karena takut ketahuan, ia tiba-tiba mendengar suara gedebuk yang sangat besar.


Buk!


"Sial!!" Gerutu Raka sambil menggertakan giginya meninju tembok hingga tangan pria itu terluka namun luka di tangannya tidaklah lebih sakit daripada apa yang ia rasakan.


'Apa yang baru saja ia lakukan?' ucap Melisa dalam hati yang mana kini ia merasa dilema untuk pergi dari sana atau malah pergi menghampiri Raka.


Namun ketika ia melihat ibunya datang mendekat ke arahnya, maka Melisa pun dengan cepat pergi dari tempat itu agar tidak ketahuan oleh ibunya bahwa dia datang ke sana untuk menguping pembicaraan Raka dengan orang yang menelponnya


Novia yang melihat putrinya melangkah terburu-buru, ia kemudian berkata, "Apakah semuanya baik-baik saja?"


"Iya," jawab Melisa sambil menganggukkan kepalanya.


"Daren sudah mengirim pesan baru," ucap Novia.


"Apa?!" Melisa langsung berlari cepat untuk menghampiri ayahnya disusul oleh Novia.


Begitu mereka tiba di meja makan, Hardi langsung memperlihatkan sebuah pesan yang berkata, *bawa uang cash 2 miliar ke pelabuhan xx, dan pastikan tidak ada polisi yang mengikuti kalian karena mata-mataku ada di pelabuhan!! Kalau sampai aku melihat kalian membawa satupun orang yang memiliki senjata, maka Aku tidak akan segan-segan untuk segera menceburkan Fernando ke laut!!*


Setelah membaca pesan itu, Melisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan saat ini ia kembali gemetar dengan ancaman yang akan dilakukan Daren pada putranya.


Novia langsung memeluk putrinya dengan erat, dan dia tahu bagaimana perasaan perempuan itu sehingga dia hanya bisa memeluk Novia ada kata kata untuk menghibur putrinya.


Bagaimanapun, Novia mengerti bahwa kata-kata apapun tidak akan bisa menenangkan putrinya sebab dari kemarin dia sudah terus mengatakan kata-kata penghiburan pada putrinya, tetapi Tentu saja kata-kata itu tidak akan berefek lebih baik daripada ketika Melisa melihat sendiri putranya dalam keadaan baik-baik saja.


.. ... ... ...


... ... ... ..


Raka terus berdiam diri di tepi kolam selama beberapa waktu lamanya sebelum pria itu meninggalkan kolam untuk kembali menghampiri 3 orang yang masih ada di meja makan.


Tetapi Raka tidak menyadari ada darah yang keluar dari tangannya yang ia gunakan menunjuk tembok, karena pria itu hanya merasakan sakit pada tangannya namun tidak memeriksa tangannya yang sakit.


Begitu Raka hampir tiba di meja yang ditempati oleh ketiga orang, Raka melihat 3 orang yang ada di sana sedang fokus pada ponsel Melisa.


Maka Raka mempercepat langkah kakinya hingga ia melihat Hardi mengulurkan ponsel padanya.


Raka pun membaca pesan yang ada di ponsel Melisa, namun tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh dua tangan yang terulur meraih tangannya.


Lebih terkejut lagi ketika ia melihat orang yang meraih tangannya ternyata adalah Melisa, dan perempuan itu langsung menarik ponsel dari tangan Raka sebelum dia membalut tangan Raka menggunakan selendang miliknya.


"Kau tidak boleh terluka, Putraku membutuhkan untuk menolongnya," ucap meLisa dengan suara yang begitu serak sambil meneteskan air matanya.


Tiga orang yang ada di sana sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Melisa, namun tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara sampai Melisa selesai membalik tangan Raka yang terluka.


"Ada kotak P3K di mobil, Ayo sekarang kita pergi ke dermaga sambil mengobati tanganmu di mobil!" Ucap Hardi yang jelas tahu bahwa selendang saja tidak akan menyembuhkan luka di tangan Raka.


Setidaknya luka pria itu perlu diberi obat dan dibungkus menggunakan kain kasa yang bersih agar tidak infeksi.


"Ya, ayo," ucap Melisa menganggukkan kepalanya hingga keempat orang itu pun segera pergi ke arah mobil dengan Raka yang menarik sebuah koper besar berisi uang 2 miliar.


Begitu mereka tiba di mobil, Raka langsung menyimpan koper di bagasi mobil, sementara Hardi dan 2 perempuan yang lain langsung masuk ke dalam mobil.


Setelah menyimpan koper, Raka pun hendak membuka pintu penumpang depan, tetapi ternyata di sana ada Novia sehingga Raka membuka pintu penumpang belakang dan melihat Melisa sudah menatapnya dengan kotak P3K yang telah dibuka perempuan itu di atas pahanya.


Jantung Raka langsung berdegup amat kencang sembari masuk ke dalam mobil lalu tangannya langsung diraih oleh Melisa dan diobati dengan telaten.


Keheningan pun terjadi dalam mobil sampai tangan Raka selesai diobati lalu Melisa berkata, "untuk sementara tanganmu tidak boleh terkena air."


"Baik," jawab Raka sambil tersenyum dan dia merasa senang karena dia bisa melihat Melisa tulus mengobatinya.


Saat itu juga, Novia yang duduk di kursi penumpang depan kini menoleh ke belakang sambil berkata, "ini pesan yang dikirim oleh Darren."


Raka yang mendengar itu, ia langsung mengambil ponselnya dan membaca isi pesan tersebut dengan seksama sebab tadinya dia memang belum sempat membaca semua isi pesannya karena tangannya langsung diraih oleh Melisa.


Setelah membacanya, Raka menekan-nekan layar ponsel Melisa untuk menghubungi seseorang.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


"Halo," jawab seseorang dari seberang telepon.


"Kali ini di Dermaga xx, tapi harus lebih berhati-hati dan tunggu kode dariku," ucap Raka yang sudah membicarakan tentang kode yang akan ia gunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang akan membantunya.

__ADS_1


"Baik," jawab sang pria di seberang telepon sebelum panggilan telepon itu diakhiri.


Begitu Raka selesai berteleponan, Novia pun langsung berkata, "tidak bisakah kita langsung menyerahkan uang itu dan mengambil Fernando? Aku sangat takut kalau Daren sampai melakukan sesuatu yang sangat buruk pada Fernando kalau dia mengetahui kita membawa orang-orang ke tempat itu."


"Nyonya Tenang saja, saya sudah mengaturnya dengan baik dan kali ini tidak akan ketahuan. Orang-orang itu tidak akan bergerak sebelum kita memastikan Fernando berada dalam kondisi aman," ucap Raka.


Novia yang mendengarkan itu masih merasa khawatir, tetapi Hardi menenangkan Novia dengan berkata "jangan khawatir, semuanya telah diatur dengan baik."


Novia melirik ke arah suaminya suaminya sebelum dia melemparkan tatapannya keluar di jendela dengan perasaan cemasnya.


Melisa pun duduk sambil meramas-remas tangannya, perempuan itu sangat khawatir dan cemas menyadari mereka hampir tiba di dermaga.


Meski begitu, Melisa maupun 3 orang yang ada di dalam mobil tidak mengatakan apapun sampai mobil mereka benar-benar tiba di dermaga lalu sebuah pesan kembali masuk ke ponsel Melisa.


*Parkirkan mobil kalian di antara dua mobil putih di depan kalian!*


Isi pesan itu dibaca oleh Novia hingga Hardi pun dengan cepat mengikuti perintah pada isi pesan tersebut.


Setelah mereka memarkirkan mobil, sebuah pesan kembali masuk, *hanya satu orang yang boleh keluar dari mobil, tentukan siapa dan bawa uangnya menuju penyu!*


Setelah Novia membaca isi pesan itu, keempat orang dalam mobil langsung melihat ke arah penyu yang di parkirkan di dermaga sebelum Hardi menatap ke arah Raka.


"Apa kau pandai berenang?" Tanya Hardi yang mana dirinya tidak pandai berenang dan tidak mungkin orang yang tidak pandai berenang akan pergi menyelamatkan Fernando, Bagaimana kalau Fernando tiba-tiba dilemparkan ke laut Lalu dia tidak bisa menyelamatkannya karena dia tidak bisa berenang?


"Ya, biar aku yang pergi," ucap Raka langsung membuka pintu mobil untuk segera mengambil uang yang terletak di bagasi mobil.


Tetapi saat itu, tangannya tiba-tiba dicekal oleh dua tangan dari belakang Raka hingga membuat Raka menghentikan gerakannya dan berbalik menatap Melisa yang tampak menatapnya dengan wajah yang cemas.


"Tolong berhati-hati," ucap Melisa langsung dijawab anggukan neraka sebelum Raka benar-benar keluar dari mobil.


Setelah keluar dari mobil, Raka pun mengambil koper besar di bagasi mobil.


Namun saat itu, ponsel milik Raka yang diletakkan di dalam sakunya tiba-tiba saja tersenggol dan terjatuh sehingga Raka tertunduk untuk mengambil ponselnya, namun tatapannya terhenti ketika ia melihat di kolong salah satu mobil putih yang terparkir di samping mobil milik Melisa ternyata terpasang sebuah bom.


Hal itu membuat Raka menelan airnya liurnya yang terasa begitu pahit sebelum dia berdiri tangan yang memegang erat ponselnya.


Pria itu terdiam selama beberapa saat, 'pria itu membutuhkan uang cash untuk pelariannya, jadi dia tidak mungkin membiarkan uang cash ini lenyap begitu saja. Apalagi dia tidak akan bisa menarik uang dari Bank internasional dengan mudah karena hanya bank-bank tertentu saja yang memiliki akses untuk menarik uang dari Bank internasional,' ucap Raka dalam hati yang bisa mengerti mengapa Darren menyuruh mereka menyiapkan uang cash.


Maka, Raka pun menarik koper tersebut ke arah samping mobil dan membuka pintu mobil, "cepat keluar dari mobil!" Perintah Raka langsung membuat 3 orang yang ada di sana kebingungan.


Meski begitu, Hardi tetap membuka pintu diikuti oleh Melisa dan Novia hingga keempat orang itu segera keluar dari mobil.


"Berikan ponsel Melisa," ucap Raka langsung membuat Novia menyerahkan ponsel Melisa pada Raka sebelum mereka pergi dari mobil tersebut.


Saat itu, ponsel yang ada di saku Raka kembali bergetar, tetapi Raka tidak mau melihat ponsel itu dan hanya berjalan saja seolah-olah dia tidak menyadari getaran pada ponselnya.


Sambil menjauhi mobil, Raka lalu berkata, "sekarang juga kalian pergi ke kantor Polisi terdekat dan tunggu aku di sana."


"Apa?! Tapi,,," Melisa hendak protes, tetapi Raka menggelengkan kepalanya pada perempuan itu.


"Mobil putih yang ada di sana dipasangi bom," ucap Raka langsung membuat tubuh Melisa bergetar dan terasa begitu lemas hingga perempuan itu pun langsung terkulai jatuh ke tanah tetapi untungnya ditahan oleh Raka.


"Tolong segera pergi," ucap Raka langsung membuat Hardi dengan cepat menggendong putrinya sebelum dia berlari bersama istrinya meninggalkan dermaga.


Raka pun berdiri diam memandangi kepergian 3 orang itu, dia berdiri di sana sampai melihat Hardi dan kedua perempuan yang bersamanya sudah keluar dari pos penjagaan dermaga barulah pria itu berbalik pergi menuju penyu yang telah disiapkan oleh Daren.


Begitu tiba di atas penyu, Raka pun menyalakan mesinnya dan mengemudikan penyu tersebut ke tengah laut sambil mengambil ponsel dari sakunya dan melihat sebuah pesan yang berturut-turut masuk ke ponsel Melisa.


Pesan-pesan itu adalah pesan yang mengingatkan mereka supaya tidak meninggalkan mobil.


Ada juga beberapa panggilan tak terjawab sehingga Raka terdiam memandangi ponsel tersebut.


Beberapa saat terdiam, ponsel tersebut kembali menerima sebuah panggilan telepon sehingga Raka dengan cepat mengangkat panggilan itu.


"Halo," ucap Raka mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Kenapa kau tidak melihat ponselmu?!!" Teriak pria dari seberang telepon dengan nada suara yang begitu marah.


"Ah,, maaf, tari ponselnya ada di sakuku jadi aku tidak tahu kalau kau kembali mengirim pesan dan juga melakukan panggilan telepon, tapi sekarang aku sudah ada di atas penyu dan Ke mana aku harus pergi?" Tanya Raka


"Sial!!" Teriak pria dari seberang telepon sebelum dia berkata, "foto isi koper yang kau bawa dan kirimkan padaku!"


"Ah,, baiklah," jawab Raka yang jelas tahu bahwa pria di seberang telepon akan sulit untuk percaya bahwa mereka benar-benar membawa uang Cash.


Maka panggilan telepon pun langsung diakhiri lalu Raka dengan cepat memotret isi koper yang ia letakkan di atas penyu sebelum mengirimkannya pada Daren.


Setelah itu, sebuah panggilan telepon kembali masuk, "laju kan penyunya ke arah timur laut! Kau akan menemukan sebuah kapal dengan bendera warna merah hijau. Bawa uangnya ke situ," perintah pria dari seberang telepon sebelum panggilan telepon itu diakhiri lalu Raka pun mengikuti perintah daring dengan melajukan mobilnya ke arah sebelah timur laut.


Sambil menunggu penyunya tiba, Raka keluar dari ruang kemudi lalu melihat-lihat sekitarnya.


Pria itu sesekali menyentuh wajahnya dan juga rambutnya bahkan beberapa kali menepuk-nepuk dinding penyu sebelum dia kembali masuk ke ruang kemudi.

__ADS_1


Seorang pria yang berada di sebuah ruang pengamatan dari luar angkasa, iya menatap layar monitor yang memancarkan sebuah tangkapan gambar yang diambil menggunakan kamera resolusi tinggi yang dipasang di satelit luar angkasa.


Pria itu pun menangkap semua kode yang diberikan oleh Raka lalu mengirimkannya pada beberapa rekan mereka yang sudah bersiaga di posisi mereka masing-masing.


__ADS_2