Satu Malam Dengan Pria Asing

Satu Malam Dengan Pria Asing
66


__ADS_3

Begitu tiba di parkiran Dufan, Hardi langsung melihat istrinya yang telah menunggunya di parkiran sehingga Hardi pun langsung menghampiri istrinya yang wajahnya tampak sangat suram.


"Apa yang terjadi?" Tanya Hardi langsung membuat Novia menarik suaminya ke sebuah ruangan dan memperlihatkan Putri mereka yang sedang terbaring lemas di tempat tidur dengan mata yang sembab dan juga wajah yang pucat.


"Tanganku gemetar, aku tidak bisa membawa mobil dari sini," kata Novia sambil meneteskan air matanya langsung membuat Hardi mengangkat Melisa lalu membawa perempuan itu ke mobilnya.


"Mobilmu tinggalkan saja di sini, biar nanti seseorang datang mengambilnya," ucap Hardi ketika dia telah membaringkan putrinya di dalam mobil sementara Novia telah duduk di kursi penumpang depan.


"Ya, hiks,, hiks,," jawab Novia yang masih kesulitan mengendalikan dirinya karena dia belum menceritakan pada suaminya tentang Fernando yang hilang dan dia kebingungan harus memulai ceritanya dari mana sehingga perempuan itu hanya bisa terisak di tempatnya.


Sementara Hardi, dia telah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi sambil menyalakan mesin mobil.


Saat Hardi hendak melajukan mobilnya meninggalkan Dufan, Hardy pun menghentikan tekanan kakinya pada gas mobilnya lalu menoleh ke arah istrinya sebelum melihat putrinya yang ada di kursi penumpang belakang.


Satu orang tidak ada! Fernando!


"Di mana cucuku?" Tanya Hardi dengan tetapan yang kembali ditujukan pada istrinya.


Mendengar pertanyaan suaminya, maka Novia kembali terisak dengan lidah yang begitu kelu untuk berbicara.


"Aku tanya padamu, Di mana cucuku?!" Tanya Hardi dengan raut wajah yang kini sangat panik karena Fernando sudah tidak pergi bersekolah dan tidak mungkin anak kecil itu ditinggalkan di rumah sendirian ketika Melisa dan Novia keluar berjalan-jalan ke Dufan.


Tetapi saat itu, Novia masih terlalu sulit untuk berbicara hingga Hardi pun dengan cepat mengambil air mineral dalam mobilnya lalu memberikannya pada istrinya.


"Minum ini dan tenangkan dirimu," ucap Hardi masih dengan wajah yang sangat panik meski dia berusaha menahan diri agar istrinya bisa berbicara dengan tenang.


Novia yang diberikan air putih kini meminum air tersebut sebelum perempuan itu kembali menyeka air matanya yang terus bercucuran.


Novia tidak mampu berbicara sehingga Novia merogoh tasnya lalu mengambil ponsel Melisa dari dalam tasnya dan memperlihatkan pesan dari seorang anonim.

__ADS_1


Awalnya Hardi kebingungan karena dia malah diberikan ponsel Melisa, tetapi ketika pria itu membaca isi pesan yang masuk ke ponsel Melisa, maka wajah Hardi langsung berubah pucat.


"Apa ini?" Ucap Hardi dengan tangan gemetar memegang ponsel Melisa.


Novia yang ada di sana pun tidak mampu berkata-kata lagi, perempuan itu hanya terdiam sambil mengurusi air matanya yang terus bercucuran.


Hardi juga terdiam saja, pria itu tampak kebingungan selama berapa saat sampai akhirnya dia melajukan mobilnya meninggalkan Dufan untuk pergi ke rumah sakit.


Setidaknya putrinya harus mendapatkan perawatan dari dokter sebelum mereka memikirkan nasib Fernando.


Sementara Raka yang sedari tadi mengikuti mobil Hardi, pria itu mengerutkan keningnya saat ia melihat mobil Ardi tela memasuki UGD di salah satu rumah sakit di kota mereka.


'Apakah Melisa sedang sakit?' ucap Raka dalam hati sambil memerkirkan mobilnya sebelum pria itu berjalan ke arah UGD untuk mendapatkan informasi.


Raka belum tiba di ruangan UGD ketika ponselnya sudah berdering hingga Raka pun mengambil ponselnya dan dengan cepat mengangkat panggilan telepon yang masuk.


"Anak perempuan itu diculik oleh seseorang," ucap pria dari seberang telepon langsung membuat Raka mempercepat langkahnya memasuki UGD dengan kepanikan yang melanda seluruh tubuhnya.


"Rincikan dengan jelas!" Perintah Raka.


"Aku sudah mendapatkan gambar pria yang menculik Putra perempuan itu. Meski wajah pria itu tidak kelihatan karena menggunakan topeng, tapi setidaknya kau bisa melihat dengan jelas pria itu pergi membawa Putra dari perempuan yang pingsan itu! Informasinya sudah kukirimkan juga ke surel mu, periksalah di sana," jawab pria dari seberang telepon sebelum Mereka mendengarkan nada panggilan telepon yang diputuskan secara sepihak.


Maka Raka menghentikan langkahnya lalu dengan cepat membuka surelnya lalu melihat foto-foto seorang pria yang dikirim ke surelnya.


'siapa pria ini?' ucap Raka dalam hati sebelum dia melanjutkan langkahnya menghampiri Hardi yang berdiri dengan wajah cemas Sambil memandangi tirai yang ditutup karena dokter sedang memeriksa keadaan Melisa.


"Fernando diculik?" Tanya Raka langsung membuat Hardi menatap ke arah Raka dengan raut wajah bingungnya.


"Dari mana kau tahu kalau cucuku diculik?" Tanya Hardi yang kini merasa aneh Fernando mengetahuinya begitu cepat.

__ADS_1


Pria itu bahkan berpikir bahwa apa yang terjadi merupakan akal-akalan Fernando untuk mendapatkan hati mereka.


Fernando berkata, "Aku menyuruh seseorang untuk menyelidikinya, sekarang aku akan menghubungi polisi untuk--"


"Tidak!" Kata Hardi menyela ucapan Raka, "penculiknya mengirim pesan ini pada Melisa."


HArdi memperlihatkan layar ponsel Melisa pada neraka hingga Raka pun segera membaca pesan yang terdapat pada ponsel tersebut.


"Berikan nomor ponselnya padaku," ucap Raka langsung membuat Hardi menyipitkan matanya menatap Fernando sambil menjauhkan ponsel Melisa dari hadapan Fernando.


"Kau sedang berusaha membantu kami atau kau adalah dalang dari penculikan ini?!" Tetes Hardi yang masih belum percaya pada pria di hadapannya.


"Mana mungkin aku melukai Putraku sendiri? Dengan menculiknya akan membuat dia merasa trauma dan ketakutan, kesehatannya juga akan terganggu dan bisa berpengaruh pada mentalnya, Jadi bagaimana bisa aku melakukan hal itu pada Putraku yang berumur 4 tahun?! Tolong berikan nomor ponselnya!!" Tegas Raka yang kini merasa kesal pada Hardi karena pria itu sama sekali tidak mempercayainya, padahal dia selalu berkata jujur.


Hardi yang mendengarkan ucapan Raka, ia juga merasa bahwa apa yang dikatakan oleh pria itu benar sehingga Hardi pun memberikan ponsel Melisa pada Raka dan membiarkan pria itu mengambil nomor ponsel dari akun anonim yang mengirim pesan.


Maka setelah Raka mendapatkan nomor ponsel anonim tersebut, Raka kemudian menelpon seseorang dan menyuruh seorang itu untuk melacak lokasi penggunaan ponsel itu.


HArdi memperhatikan Raka, dan dia bisa melihat Kalau pria itu tampak serius sehingga Hardi tidak terlalu memikirkannya lagi dan saat ini dia menghampiri dokter yang telah memeriksa Melisa.


"Bagaimana keadaan putriku?" Tanya Hardi pada dokter yang bertugas.


"Kondisinya tidak terlalu baik, saya sudah menginfusnya, jadi biarkan dia beristirahat sampai infusnya habis barulah dia boleh pulang," ucap sang dokter langsung membuat Hardi menganggukkan kepalanya sebelum pria itu kembali menghampiri putrinya dan melihat juga istrinya yang tampak terdiam duduk di kursi sambil meneteskan air matanya.


Hardi bisa melihat mata Novia sudah sangat memerah karena menangis sehingga pria itu memeluk istrinya dengan erat.


"Jangan menangis lagi, aku yang akan mengurus cucu kita dan kupastikan dia akan kembali dengan selamat," ucap Hardi.


Novia yang mendengarkan ucapan suaminya, ia menganggukkan kepalanya meski saat itu air matanya terus berderai karena dia terlalu sedih memikirkan putranya yang baru berumur 4 tahun tapi telah diculik oleh seseorang.

__ADS_1


__ADS_2