
Setelah Raka meninggalkan sekolah Fernando, pria itu berjalan dalam pikiran yang kosong memasuki kantornya.
'anakku menganggap sebagai orang asing? Tapi apakah dia tidak bisa memperhatikan wajah kami yang sangat mirip sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa aku adalah ayahnya?' ucap Raka dalam hati sambil memasuki lift lalu berdiri dalam lift dengan perasaan yang sangat kacau.
Pria itu terus berdiri sampai akhirnya lift berhenti di lantai tujuannya lalu keluar dari dalam lift dan langsung disambut oleh Melisa yang datang menghampirinya sambil membawa sebuah berkas.
Maka Raka langsung memperhatikan perempuan itu dengan mata yang disipitkan, saat ini perasaannya benar-benar tak karuan.
"Tuan Ang baru saja menghubungi saya, dan meminta rapat yang seharusnya besok sore dimanjukan pada sore hari ini. Juga--" ucapan Melissa langsung terhenti ketika tiba-tiba saja ia ditarik oleh Raka kepelukan pria itu hingga membuat seluruh tubuh Melisa menjadi tegang.
Saat ini, ingatan 5 tahun yang lalu langsung memenuhi pikiran Melisa ketika dia tak bisa mengendalikan dirinya merasakan tubuhnya dipeluk erat oleh seseorang yang telah melukainya.
Tetapi pelukan Itu hanya berlangsung cepat sebelum Raka melepaskan pelukan mereka lalu pergi meninggalkan Melisa tanpa berkata apapun.
Sementara Melisa yang tertinggal di tempatnya, dia yang saat ini berada dalam perasaan kalutnya, ia akhirnya runtuh di lantai dengan tubuh gemetar.
Dika yang baru saja keluar dari ruang kerjanya langsung melihat Melisa dan sangat terkejut mendapati perempuan itu runtuh di lantai sehingga Dika dengan cepat menghampiri Melisa.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Dika mengulurkan tangannya membantu Melisa berdiri.
__ADS_1
"Ya," jawab Melisa berusaha meraih kesadarannya lalu perempuan itu pun segera berjalan meninggalkan Dika.
Melihat Melisa yang berjalan dengan langkah yang tidak seimbang, maka Dika pun mengejar perempuan itu sambil berkata, "biarkan aku membantumu sampai kau tiba di ruanganmu."
"Tolong tinggalkan aku sendiri," ucap Melisa sambil membuka pintu ruangannya lalu dia pun segera masuk ke dalam ruangannya sebelum runtuh di lantai dengan perasaan yang masih kacau.
Perempuan itu terdiam selama beberapa saat memikirkan apa yang baru saja terjadi sampai akhirnya ia bangkit berdiri lalu berjalan ke arah toilet dan membasuh wajahnya.
Tidak peduli Apakah make up-nya menjadi luntur atau tidak, tetapi Melisa terus membasuh bagi wajahnya sampai akhirnya pakaiannya pun menjadi basah barulah perempuan itu merasa puas dan mengangkat wajahnya menatap pantulan dirinya yang ada di cermin.
Melisa bisa melihat wajahnya yang basah dan make up nya yang luntur, "Kenapa kau lemah?! Kenapa?!" Bentak Melisa pada dirinya sendiri supaya dia bisa membangkitkan semangatnya yang tampak menghilang setelah mendapat pelukan dari Raka.
Setelah selesai, Melisa kembali ke ruangannya lalu memperbaiki riasan wajah nya dan juga mengganti pakaiannya sebelum mengumpulkan lagi ketenangannya dan pergi ke ruangan CEO.
Tok tok tok..
Melisa mengetuk pintu ruangan Raka sambil menunggu seseorang menjawabnya dari dalam ruangan CEO.
Agak lama dia menunggu sampai akhirnya dia mendengar suara Raka yang berkata, "masuk!"
__ADS_1
Melisa membuka pintu ruangan dan memasuki ruangan CEO sambil menatap ke arah Raka yang tampak menatapnya dengan tenang.
'Pria sialan ini, bisa-bisanya dia bersikap tenang seperti ini ketika dia telah menghancurkan hidupku dan bahkan tadi masih berani memelukku? Tunggu saja, tunggu waktu mu!!!' ucap Melisa dalam hati sambil meletakkan berkas di atas meja Raka.
"Ini adalah bahan untuk rapat nanti sore bersama Tuan Ang. Juga, rapatnya akan dilaksanakan di hotel K, jadi kita harus berangkat pada pukul 3 sore," ucap Melisa dengan suara yang tenang.
"Baiklah, Kau boleh keluar," ucap Raka langsung membuat Melisa menganggukkan kepalanya lalu perempuan itu segera pergi meninggalkan ruangan mereka.
Raka yang melihat kepergian Melisa kini menyipitkan matanya memperhatikan punggung Melisa sampai akhirnya perempuan itu menghilang di balik pintu.
'apa yang ia lakukan setelah kembali ke ruangannya?' pikir Raka dalam hati dengan rasa penasarannya.
Maka setelah berpikir beberapa saat, Raka kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
"Ya, Tuan," jawab seseorang dari seberang telepon yang merupakan salah satu bawahan Raka.
__ADS_1
"Dapatkan kamera mini untukku yang mudah disembunyikan!" Perintah Raka pada pria di seberang telepon sebelum dia mengakhiri panggilan telepon tersebut.