Satu Malam Dengan Pria Asing

Satu Malam Dengan Pria Asing
68


__ADS_3

"Tim a sudah berada di depan pintu!"


"Tim G sudah siap di posisi dan mendapatkan bidikan!"


"Lantai 1 aman."


"Parkiran aman!"


"Di dalam mobil juga aman!"


Satu persatu dari orang-orang bayaran melaporkan keadaan di masing-masing tempat mereka berada sebelum sang atasan yang bernama Jerry memberikan sebuah perintah.


"Sekarang!" Perintah Jerry lewat alat komunikasi yang dimiliki oleh semua anak buah Jerry.


Maka tim a segera membunyikan bel pada apartemen yang ditempati oleh pria yang menjadi target mereka.


Ding dong!


Ding dong!


Begitu bel berbunyi, empat orang yang sudah siap di depan pintu saling memberi kode satu sama lain.


"Siapa?" Tanya sang pria dari dalam apartemen.


Seorang pria yang berpura-pura sebagai tamu berdiri dengan tenang di depan pintu sambil memegang sebuah karton.


Pria itu kemudian berkata "saya tetangga baru dari unit 203, saya mengunjungi seluruh tetangga untuk membagikan oleh-oleh dari daerah saya."


Setelah berbicara, maka pintu apartemen akhirnya terbuka dan memperlihatkan seorang pria berpakaian serba hitam yang mengintip dengan hati-hati.


Maka pria yang memegang karton langsung membungkuk pada pria tersebut sambil berkata, "perkenalkan saya--"


Buk!


Salah satu tim a langsung mendorong pintu dengan keras sehingga pria yang berada di belakang pintu langsung terpental ke belakang.


"Siapa kalian!!" Teriak pria berpakaian serba hitam sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pria yang telah menangkapnya tetapi kekuatannya tak jauh lebih kuat daripada pria yang membimbingnya hingga Dia hanya bisa berpasrah karena tenaganya tidak mampu.


Sementara beberapa anggota lain dari tim a, mereka kini menyusuri ruangan di apartemen itu ke mana namun mereka tidak menemukan Fernando di manapun.


Hal itu membuat ketua tim a langsung melaporkan situasinya pada Jerry, "di sini tidak ada anak kecil, hanya satu orang pria saja! Sekali lagi, Tidak ada anak kecil di sini, hanya ada satu orang!" Ucap ketua tim a sambil menerima sebuah ponsel dari tangan bawahannya yang mana ponsel tersebut didapatkan dari tubuh pria berpakaian serba hitam.


Sementara di dalam mobil yang ditempati oleh Hardy dan juga Raka, ponsel yang ada di tangan Hardi langsung berdering memperlihatkan sebuah nomor baru yang menelpon.


Maka Hardy pun menoleh ke arah samping dan melihat Raka menganggukkan kepalanya sehingga Hardi dengan cepat mengangkat panggilan telepon tersebut.


Hardi memasukkannya ke dalam mode speaker agar mereka berdua bisa mendengarkan pria dari seberang telepon yang berbicara.


"Ha ha ha... Bagus juga, kau menggunakan orang-orang untuk menyekap pria suruhanku? Dengar Melisa, kau tidak akan lebih pintar dariku, jadi sekarang juga bebaskan pria itu dan aku ingin kau mengirimkan uang senilai 500 miliar ke rekening baru yang akan ku kirimkan padamu!!" Teriak pria dari seberang telepon langsung membuat kening Hardy dipenuhi oleh keringat dingin karena tentunya tidak mudah mendapatkan uang sebanyak itu.


Meski seseorang memiliki tabungan sebanyak 500 miliar, tapi tidak akan bisa melakukan transfer dengan jumlah yang banyak seperti itu.


Oleh sebab itu, Hardi berkata, "kami tidak punya uang sebanyak itu, dan di mana cucuku?!"


"Ah,,, ternyata ini bukan Melissa tapi ayah mertua, halo ayah mertua, tidak menyangka kita akan berbicara lagi dalam situasi seperti ini. Apa ayah mertua masih mengenali suaraku?" Tanya pria dari seberang telepon langsung membuat Hardi mengepal kuat tangannya karena dia sekarang tahu bahwa pria yang berbicara dengannya tak lain adalah Daren.


"Pria badjingan!!! Berani-beraninya kau menculik cucuku dan memeras kami?!" Teriak Hardy yang tidak bisa lagi mengontrol emosinya hingga membuat Raka dengan cepat mengambil ponsel dari tangan Hardi lalu pria itu pun mematikan mode speakernya dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.


Daren yang ada di seberang telepon kembali berkata "dasar kau gila!! Sekarang jangan mengada-ngada, aku tidak akan pernah bermain-main terlalu lama jadi cepat usahakan uang itu sebelum malam hari tiba atau cucumu tidak akan pernah selamat!!!"


Raka dengan tenang menjawab, "uang 500 miliar tidak akan bisa ditransfer dalam satu kali transfer, uang sebanyak itu membutuhkan dua atau tiga kali untuk melakukan transfer! Tapi sebelum itu, aku tidak akan mengirim uang padamu sebelum aku memastikan sendiri Putraku masih baik-baik saja!!"


Daren yang ada di seberang telepon kini mengerutkan keningnya mendengar ucapan Raka, "dari tadi kau menyebut Fernando sebagai putramu? Apa kau suami baru Melisa atau kau benar-benar ayah dari pria kecil yang bersama denganku?" Tanya pria dari seberang telepon dengan nada suara yang mengejek.


"Itu tidak penting, yang penting sekarang aku butuh melihat Putraku baik-baik saja!!!" Tegas Raka yang merasa begitu marah namun masih berusaha menahan amarahnya karena tidak ingin pria di seberang telepon tersulut emosi hingga melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan pria itu pada Fernando.


Ucapan Raka membuat Daren tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha.. berani beraninya kau membentakku?! Kau harus mengirim setengah dari uang yang kuminta hari ini juga baru aku akan mengirimkan video keadaan putramu. Lalu setelah itu aku akan menghubungimu untuk memutuskan Bagaimana pembayaran dari sisa uang yang ku minta!!" Tegas Daren sebelum panggilan telepon itu diakhiri diakhiri secara sepihak.


Tut tut tut....


Hardi menatap Raka sambil mendengar nada suara panggilan telepon yang diputuskan secara sepihak, tetapi Hardi tidak mengatakan apapun dan hanya melihat Raka menggerak-gerakkan jarinya di atas layar ponsel.


Raka dengan cepat mengirim nomor ponsel itu pada seorang kenalannya untuk di lacak.


Setelah mengirim nomor ponsel itu, Raka kemudian mengambil teleponnya lalu menghubungi kenalannya.


"Nomor telepon yang kukirimkan padamu itu, cepatlah lacak keberadaannya!!!" Perintah Raka sebelum panggilan telepon diakhiri.


Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan orang yang akan melacak nomor ponsel, Raka pun segera menelpon sekretarisnya untuk melakukan transfer pada sebuah nomor rekening yang sudah diterima ponsel Melisa.


Tetapi ketika Raka melihat nomor ponsel yang mengirim nomor rekening tersebut, Raka mengerutkan keningnya mendapati nomor ponsel tersebut telah berbeda dengan nomor ponsel sebelumnya yang digunakan tarian untuk menghubungi mereka.


"Pria ini memiliki banyak nomor ponsel, Sepertinya dia hanya menggunakannya sekali untuk menghubungi Kita lalu mengganti nomor ponselnya," ucap Raka dengan perasaan kesal, karena Jika seperti itu caranya maka mereka akan kesulitan untuk melacak keberadaan pria itu.


Benar saja, baru saja Raka memberikan nomor rekening pada sekretarisnya, sebuah panggilan telepon kembali masuk.

__ADS_1


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


"Bagaimana?" Tanya Raka Setelah dia mengangkat panggilan telepon dari pria yang ia tegaskan untuk melacak keberadaan Daren.


"Nomor ponsel yang kau berikan padaku sudah tidak aktif lagi, jadi aku tidak bisa melacaknya. Apa kau punya nomor ponsel yang lain?" Tanya pria dari seberang telepon langsung membuat Raka memberikan nomor ponsel yang baru saja mengirim nomor rekening padanya.


Tetapi beberapa saat kemudian, Raka juga mendapat informasi bahwa nomor ponsel itu sudah tidak aktif lagi hingga membuat raka merasa sangat kesal.


Pria itu memukul setir mobilnya sebelum dia membenturkan dahinya ke setir mobilnya dan duduk diam dalam mobilnya dalam perasaan kacaunya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ucap Hardi yang kini merasa frustasi Bagaimana caranya dia akan bertemu dengan istri dan juga putrinya Setelah dia gagal menyelamatkan Fernando.


Raka juga berada dalam rasa frustasinya, tetapi pria itu hanya menyimpan seluruh unek-uneknya dalam hati tanpa ada niat untuk berbicara dengan hardi hingga kedua pria itu terdiam dalam mobil untuk waktu yang lama.


Keduanya baru menarik diri dari lamunan masing-masing ketika ponsel Melisa yang masih dipegang oleh Raka tiba-tiba saja berdering.


Raka dengan cepat mengambil ponsel itu dari sakunya dan melihat nama pemanggil adalah kontak yang diberi nama ibu sehingga Raka pun menyerahkannya pada Hardi karena Raka berpikir itu adalah panggilan telepon yang berasal dari Novia.


Hardi yang melihat kontak yang menelpon, ia kini terdiam memandangi layar ponsel Melisa dengan 0% keberanian untuk mengangkat panggilan telepon itu.


Raka bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh hardi sehingga pria itu dengan cepat menyalakan mesin mobilnya, "aku akan mengantar Anda ke rumah sakit," ucap Raka yang merasa bahwa Melisa dan Novia masih berada di rumah sakit.


Hardi pun tidak mengatakan apa-apa lagi, dia hanya melihat layar ponsel Melisa yang telah menjadi gelap karena panggilan telepon dari Novia telah diakhiri.


Tetapi beberapa saat kemudian panggilan telepon kedua kembali masuk ke ponsel Melisa, namun sama seperti sebelumnya, Hardi tidak memiliki keberanian untuk mengangkat panggilan telepon itu dan hanya menunggu mobil mereka tiba di rumah sakit agar dia bisa berbicara secara langsung dengan istrinya dan juga putrinya


... .... ...


... .... ...


Pada akhirnya, Hardi dan Raka kembali ke rumah sakit, dan saat mereka tiba di rumah sakit, saat itu juga Melisa telah terbangun.


Melisa sedang berpelukan bersama Novia dengan Melisa yang kembali menangis hingga membuat Hardi yang ada di balik tirai kini merasa tidak sanggup untuk membuka tirai tersebut dan bertemu dengan dua perempuan yang ada di dalamnya.


'Bagaimana bisa aku mengatakan kabar buruk ini pada mereka?' ucap Hardi dalam hati sambil berdiri menatap tirai berwarna hijau di depannya.


Raka pun berdiri tak jauh dari Hardi dan dia tahu apa yang dicemaskan oleh pria itu sehingga Raka mendekati Hardi dan hendak berbicara dengan pria itu ketika ponsel Melisa yang sedang dipegang oleh Hardi tiba-tiba saja berdering.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


"Kalian sudah pulang?!" Tanya Novia yang terkejut mengetahui kedua orang itu ternyata sadari tadi sudah berada di balik tirai.


Sementara yang Melisa yang melihat Raka, perempuan itu tertegun di tempatnya dan entah kenapa saat ini hatinya menjadi lebih sakit lagi.


Meski begitu, Melisa tidak mengatakan apapun dan dia hanya fokus menatap ayahnya yang saat itu telah mengangkat panggilan telepon dan memasukkannya dalam mode speaker.


"Kalian belum mentransfer uangnya?! Sekarang juga transfer uang itu atau satu jari tangan anak kecil ini akan ku potong!!" Tegas pria dari seberang telepon.


Melisa yang mendengarkan itu langsung meneteskan air matanya dengan tubuh gemetar.


Tetapi Raka yang ada di sana, pria itu segera berkata, "berikan bukti terlebih dahulu bahwa Putraku baik-baik saja baru aku akan mentransfer uang itu!!"


Pria di seberang telepon terkekeh sebelum berkata, "Apa?! Tid--"


"Kau tidak mau uangnya?!" Bentak Raka menyelah ucapan Daren.


"Hah! Sial!! Baiklah, akan ku perlihatkan Putra kalian!!" Ucap Daren dari seberang telepon dengan nada suara yang kesal sebelum panggilan telepon Itu dimatikan.


Novia yang sementara memeluk putrinya yang menangis, perempuan itu menatap dua pria yang ada di hadapan mereka, "Kenapa kalian tidak berhasil membawa Fernando kembali?" Tanya Novia dengan suara yang serak.


Hardi menggelengkan kepalanya, "pria itu menipu kami, maaf," ucap Hardi yang merasa begitu bersalah.


Mendengar ucapan suaminya, maka Novia hanya bisa kembali memeluk putrinya dan saat ini perasaannya benar-benar kacau atas apa yang telah terjadi.


"Melisa, tenangkan dirimu dan jangan terus menangis, kalau kau pingsan lagi maka Ibu tidak tahu harus melakukan apa," ucap Noviq yang merasa stress memikirkan putrinya dan juga cucunya pikirannya terbagi-bagi dengan penuh kecemasan.


"Ibu,, hiks,, hiks,, bagaimana bisa aku tenang kalau Putra ku saja tidak diketahui keadaannya?" Ucap Melisa masih terus menangis dengan begitu sedih.


Sementara saat itu, Hardi yang sedari tadi memegang ponsel Melisa kini mendapatkan sebuah pesan yang merupakan sebuah video.


Maka Hardi langsung membuka video tersebut sambil berkata, "Daren mengirim video Fernando."


Mendengar itu, maka Melisa dengan cepat mengambil ponsel dari tangan ayahnya dan memandangi layar ponselnya melihat putranya yang sedang di video oleh Darren.


Terlihat Fernando sedang tertidur dengan dua tangan dan dua kakinya diikat hingga membuatmu bisa semakin sedih lagi.


"Hiks,, hiks,, hiks,, putraku!" Isak Melisa kembali memeluk ibunya.


Sementara Raka yang melihat bahwa Fernando berada dalam kondisi yang baik-baik saja Meski saat ini dia sedang ditahan oleh Daren, pria itu langsung menghubungi sekretarisnya.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...

__ADS_1


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


"Ya tuan," jawab seorang perempuan dari seberang telepon.


"Sekarang juga, kirimkan uang rp250 miliar itu ke rekening yang sudah kukirimkan padamu!" Perintah Raka sebelum dia mengakhiri panggilan telepon tersebut Lalu berbalik pergi meninggalkan 3 orang yang Saya dari tadi bersamanya.


Raka pergi keluar UGD dan duduk di kursi tunggu sambil memegang ponselnya dengan erat.


Dia terdiam dengan pikiran yang berusaha ditenangkan supaya dia bisa berpikir jernih untuk mengambil keputusan.


Entah berapa lama Raka terdiam di sana sampai akhirnya Hardi bersama Melisa dan Novia kini keluar dari UGD karena infus Melisa telah habis dan sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang.


"Kalian sudah mau pulang?" Tanya Raka dijawab anggukan Hardi.


"Ya, mereka berdua perlu istirahat. Kau juga pulanglah dan beristirahat besok pagi baru kita pikirkan lagi apa yang harus dilakukan," ucap Hardi langsung dijawab anggukan Raka.


Raka pun memandangi kepergian 3 orang itu sampai mobil Hardi menghilang barulah Raka memasuki mobilnya lalu pergi meninggalkan Rumah sakit dengan pikiran yang terus tertuju pada Melisa dan Fernando.


Sementara di tempat lain, Daren sedang duduk sambil melihat catatan rekeningnya di luar negeri yang kini sudah terisi dengan banyak uang.


Pria itu tertawa penuh kegembiraan, "Ha ha ha... Ini bagus sekali, aku menjadi kaya dalam sekejap!! Persetan dengan gosip-gosip yang sudah beredar di negara ini, yang penting aku bisa keluar di negeri dan bersenang-senang menggunakan uang yang tidak akan habis!!" Ucap Daren penuh kesenangan sambil menatap ke arah Fernando yang sedari tadi masih terlelap di atas tempat tidur.


Hal itu membuat Daren penasaran karena sejak dia membawa pria itu dari Dufan, Fernando tak pernah bangun hingga membuatnya merasa khawatir pria itu tidak bisa dijadikan barter kalau sudah tidak bernyawa lagi.


Oleh sebab itu, Daren menghampiri Fernando dan menggoyang-goyangkan tubuh pria kecil itu namun Fernando sama sekali tidak bergeming hingga Daren kemudian mengecek nadi dan nafas Fernando.


Daren Merasa lega karena ternyata pria kecil itu masih bernafas meski tak sadarkan diri.


Maka tanpa perduli apapun, Daren langsung pergi meninggalkan Fernando dan memilih untuk keluar dari apartemen mencari makanan.


Begitu pintu tertutup, Fernando yang di baringkan di tempat tidur langsung membuka matanya.


'Orang jahat,' ucap Fernando dalam hati sambil berusaha menggerakkan tangan dan kakinya, tetapi karena terikat oleh tali, maka kakinya maupun tangannya tak bisa digerakkan dengan bebas.


Meski begitu, saat ini Fernando tidak putus asa dan dia berusaha untuk bangun sebelum memeriksa laci-laci yang ada di apartemen tersebut untuk mencari sesuatu yang bisa memutuskan ikatan pada tangannya.


Tetapi sayang sekali karena apartemen itu adalah apartemen kosong, maka Fernando tidak menemukan apapun.


Tetapi Fernando melihat sebuah sudut meja yang cukup tajam sehingga Fernando pun langsung mendekati sudut meja tersebut dan menggesekkan tali di tangannya ke sudut meja tersebut.


Keringat Fernando bercucuran sambil melirik ke arah pintu karena dia cemas pria yang telah pergi akan segera kembali dan menyadari apa yang telah ia lakukan.


Benar saja, belum saja tali itu sempat terputus, Fernando telah mendengar PIN apartemen yang telah dimasukkan oleh seseorang hingga Fernando dengan cepat kembali ke ranjang dan tidur seperti tidak terjadi apa-apa.


Clek!


Pintu terbuka dengan Daren yang langsung masuk ke dalam apartemen sambil berkata, "Aku ingin menyewa dua buah kapal dan 10 orang kru. Kapal itu harus bisa mengantarkanku ke pelabuhan xx tanpa ketahuan oleh aparat keamanan!"


Orang di seberang telepon menjawab, "aku punya satu kapal, tapi harganya 1000 dolar, kau mau mengambilnya atau tidak?"


"1000 dolar? Baiklah, akan ku bayar cash saat aku menemuimu besok siang! Tapi pastikan kau menyiapkan orang-orang yang pandai bela diri dan berenang! Pastikan juga mereka membawa senjata, karena aku hendak berburu," Tegas Daren yang kini merasa khawatir bahwa jika tetap berada di dalam kota, maka dia akan mudah ditangkap.


Jadi Daren berencana untuk melarikan diri ke luar negeri lewat jalur laut.


"Jangan khawatir, mereka adalah orang-orang yang pengalaman!" Tegas pria dari seberang telepon langsung membuat Daren merasa lega hingga dia pun mengakhiri panggilan telepon tersebut dan melihat ke arah Fernando yang masih tertidur di tempat tidur.


"Anak ini sudah seperti putri tidur!" Ucap Daren dengan tetapan acuh tak acuh melihat Fernando.


Dia tidak terlalu peduli dengan pria kecil itu, yang penting pria kecil itu masih bernafas sehingga masih bisa ditukar dengan uang.


Oleh sebab itu, Daren langsung duduk dan membuka makanan yang ia beli di luar lalu mulai makan.


Saat itu, Fernando yang belum makan malam juga kini merasa sangat lapar, pria itu pun secara tak sadar menelan air liurnya bersamaan dengan perutnya yang tiba-tiba saja berbunyi.


Kruyukkkkkkkkk


Hal itu membuat Daren menoleh ke arah Fernando, "kau sudah bagun?" Tanya Daren.


Fernando Sebenarnya masih ingin berpura-pura tidur, supaya nanti dia punya kesempatan untuk melakukan sesuatu, tetapi karena perutnya yang sudah berbunyi maka Fernando pun akhirnya membuka matanya dan berusaha untuk bangun.


Melihat Fernando telah bangun, maka Darin pun menghampiri Fernando lalu membuka ikatan tali pada kaki pria kecil itu dan juga pada tangannya.


Daren sedikit mengeryit ketika ia melihat tali yang ada di tangan Fernando tampak bergerigi, tapi dia pikir tali itu memang seperti itu ketika digunakan mengikat tangan Fernando sehingga dia tidak terlalu memperdulikannya.


Setelah ikatan pada tangan dan kaki Fernando terbuka, maka Fernando pun melepaskan lakban yang membekap bibirnya sebelum dia menatap Daren.


"Tidak usah malu-malu, makanlah bersamaku," ucap Daren sambil berjalan ke arah meja dengan Fernando yang mengikuti pria tersebut.


Fernando melihat makanan di atas meja ada banyak macam, dan pria di depannya memakan semua makanan itu menggunakan sumpit sehingga Fernando pun tidak merasa ragu untuk memakannya.


"Kau tampak tenang sekali, Apa kau tidak merindukan orang tuamu?" Tanya Daren.


Fernando yang sedang duduk memegang sumpit pun membalas tatapan daren dengan tetapan murungnya, tapi dia tidak berkata apapun.


Hal tersebut membuat Daren tersenyum miring, "terserah kau mau merindukan mereka atau tidak," ucap Daren dengan nada suara aja tak acuh.

__ADS_1


__ADS_2