Satu Malam Dengan Pria Asing

Satu Malam Dengan Pria Asing
23


__ADS_3

Bab 23. Satu malam dengan pria asing


Melisa akhirnya tiba di depan ruangan CEO, lalu dia pun mengetuk pintu ruangan tersebut.


Tok tok tok..


Setelah mengetuk pintu, Melisa membuka pintu tersebut dan memasuki ruangan lalu melihat Raka sedang duduk sambil memeriksa berkas-berkasnya.


Saat ini, Melisa menjadi sangat tenang lalu dia meletakkan kopi di atas meja Raka sebelum berbalik untuk pergi ketika dia dihentikan oleh suara Raka.


"Setelah jam makan siang nanti kau akan menemaniku untuk rapat dengan salah satu klien," ucap Raka membuat Melisa berbalik lagi menatap Raka dengan kebingungan nya.


Dia hendak bertanya Mengapa dia yang akan menemani pria itu melakukan meeting, Tetapi dia merasa bahwa hal itu bisa membuat marah pria yang ada di hadapannya hingga Melisa pun hanya menganggukkan kepalanya sebelum dia keluar dari ruangan CEO.


Setelah menutup pintu ruangan CEO, Melisa kemudian pergi menuju ruangan marsita.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya marsita pada Melisa ketika ia melihat perempuan itu hanya datang dengan baki yang ada di tangannya.


"CEO Menyuruh saya untuk menemaninya dalam rapatnya nanti setelah jam makan siang, Kalau boleh, bisakah saya mendapat bahan untuk terdapat yang akan dibahas nanti siang, karena saya cemas nanti saya tidak tahu apa-apa," ucap Melisa sangat mengejutkan marsita.


"CEO menyuruh mu untuk menemaninya rapat nanti siang setelah jam makan siang?" Tanya marsita dengan nada suara tak percaya.


Melihat keterkejutan marsita, maka Melisa menjadi merasa aneh sehingga dia pun berkata, "ya, baru saja dia mengatakannya, tapi Memangnya Ada apa dengan rapat nanti siang? Kak marsita terlihat sangat terkejut?"


Marsita mengambil sebuah berkas yang terletak di atas mejanya lalu dia menyerahkannya pada Melisa, "rapat itu akan membahas sebuah proyek yang sangat besar yang bekerja sama dengan sebuah perusahaan asing. Jadi aku rasa orang yang harus menemani CEO pergi adalah orang yang sangat berpengalaman, Bahkan aku sendiri sudah mempersiapkan diri selama 1 bulan untuk menemani CEO pergi ke rapat tersebut, Tapi aku tidak tahu kenapa tiba-tiba CEO malah memanggilmu untuk menemani nya.


"Meski begitu, Kau pelajari saja berkas itu sebentar, aku akan menanyakannya lagi pada CEO Apakah memang kau yang pergi menemaninya atau tidak," ucap marsita yang merasa khawatir bahwa Melisa mungkin tidak akan bisa menemani CEO untuk proyek yang sangat penting.


sementara Melisa yang mendengarkan ucapan marsita, dia juga sangat terkejut, tetapi perempuan itu tetap berkata, "kalau begitu, tolong katakan pada CEO kalau saya bukan orang yang tepat untuk menemaninya. Berkas ini akan saya bawa terlebih dahulu untuk dipelajari kalau kalau CEO memang menginginkan saya untuk menemaninya pergi."


"Baiklah, kalau begitu nanti aku akan memberikan informasi sebelum jam makan siang," ucap marsita dijawab anggukan Melisa sebelum Melisa meninggalkan ruangan marsita.

__ADS_1


Begitu Melisa tiba di ruangan para sekretaris, semua orang langsung menatap ke arah Melisa dengan Melisa yang tampak kikuk berjalan ke meja kerjanya.


Kirana yang duduk di kursinya langsung berkata, "Bagaimana bisa CEO secara tiba-tiba menyuruhmu untuk membuatkannya kopi?"


Pertanyaan itu membuat Melisa terkejut dengan Melisa yang menatap ke arah Kirana, "aku juga tidak tahu, tetapi kemarin ketika aku pergi menyetor berkas pada kak marsita, saat itu kak marsita sedang sibuk dan CEO mau minum kopi, jadi akulah yang disuruh untuk membuatkan kopi bagi CEO. Mungkin saja buatan kopiku sesuai dengan seleranya sehingga Dia menyuruhku untuk membuatkannya lagi," kata Melisa dengan suara yang tenang.


"Dasar beruntung, lalu berkas apa yang kau bawa itu?" Tanya Kirana sambil menatap berkas yang masih sementara dipegang oleh Melisa.


"Ah,, tadi di ruangannya, CEO berkata padaku untuk menemaninya pada sebuah rapat setelah jam makan siang, jadi Kak marsita memberikan berkas ini untuk mempelajari," ucap Melisa membuat semua sekretaris yang ada di sana terkejut.


"Apa?!"


"Kau menemani CEO untuk rapat?!"


Melisa bisa melihat kebencian semua orang padanya, hingga membuatnya memegang erat-erat berkas di tangannya sambil berkata, "Kak Marsita bilang itu rapat yang sangat penting, jadi dia bilang dia akan berbicara dengan CEO supaya dialah yang pergi bersama dengan CEO. Tapi untuk berjaga-jaga aku masih harus mempelajari berkas ini."

__ADS_1


Ucapan Melissa semakin membuat semua orang merasa sangat kesal hingga mereka semua menggerutu satu persatu namun melisa hanya bisa terdiam di tempatnya.


Melisa jelas tahu bahwa melakukan apapun tidak akan menyelamatkannya dari situasi saat itu sehingga diam adalah pilihan yang tepat.


__ADS_2