Satu Malam Dengan Pria Asing

Satu Malam Dengan Pria Asing
83


__ADS_3

BAB 83. Satu malam dengan pria asing


Tiga orang yang berada di apartemen kini sarapan bersama-sama di depan TV karena Melisa tidak mau membuat Raka harus bersusah-susah lagi pergi ke dapur sehingga dia membawa semua sarapan kedepan TV. 


"Ini rotimu," ucap Melisa memberikan roti pada Raka. 


"Terima kasih sayang," kata Raka sambil mengukir sebuah senyuman di wajahnya hingga membuat pupil mata Melisa jadi membesar dan langsung menatap ke arah putranya yang tampak tersenyum sambil tertunduk menikmati rotinya.


Melisa bahkan merasakan jantungnya berdegup amat kencang hingga membuat perempuan itu sangat tidak nyaman. 


"Ibu makanlah juga," ucap Fernando ketika ia melihat ibunya hanya terdiam saja memegang rotinya dan rotinya masih begitu utuh karena belum pernah digigit oleh Melisa. 


"Ah, iya," ucap Melisa akhirnya menggigit rotinya sambil melirik ke arah Raka dan Melisa bisa melihat Raka tampak memperhatikannya dengan sebuah senyuman di wajah pria itu. 


'kenapa aku sangat kesal?' ucap Melisa dalam hati yang merasa aneh pada dirinya sendiri, padahal tidak ada sesuatu yang seharusnya membuatnya kesal. 

__ADS_1


Sementara Fernando yang duduk di kursinya sambil menikmati sarapannya, pria kecil itu sedari tari tersenyum sambil melirik ke arah tangan ibunya yang terlingkar sebuah cincin yang berpasangan dengan cincin ayahnya.


'Apakah sekarang ayah dan ibu sudah berbaikan? Apakah sebentar lagi mereka akan menikah?' ucap Fernando dalam hati dengan perasaan Yang meluap meluap karena bahagia dan tidak sabar menunggu ayah dan ibunya segera menikah. 


Maka Ketiga orang itu makan dengan tenang tanpa ada satupun yang berbicara, karena mereka masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sehingga setelah sarapan, Melisa pun membersihkan semua peralatan makan dalam keheningannya. 


Begitu Melisa pergi ke dapur, maka Fernando langsung menatap ayahnya sambil berkata, "kapan  ayah Dan ibu akan menikah?"


Pertanyaan putranya yang sangat tiba-tiba membuat Raka terkejut, "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Raka.


"Bagaimana bisa kau membuat kesimpulan seperti itu?" Tanya Raka. 


"Tidakka seperti itu? Kalau kemarin malam Ibu tidur di sofa, maka seharusnya ada bekas selimut dan bantal diletakkan di sini karena tadi saat melihat wajah Ibu, dia benar-benar baru bangun pagi. Meskipun tidak ada selimut dan bantal di sofa ini, tetapi seharusnya aku melihat di mana Ibu meletakkan bantal dan selimut yang kemarin malam ia gunakan tidur di sofa. Tetapi aku sudah memeriksa di dalam kamar dan semua tempat-tempat lainnya dan tidak menekan bekas selimut dan bantal yang dipakai oleh ibu. Lalu ikat rambut ibu berada di tangan ayah dan ibu keluar dari kamar ayah. Juga cincin yang kalian gunakan adalah cincin pasangan, Bukankah seharusnya kalian sudah berbaikan dan berniat untuk menikah?" Tanya Fernando dengan tatapan serius menatap ayahnya. 


Raka Mengukir sebuah senyuman di wajahnya karena tak menyangka putranya memiliki kemampuan analisa yang sangat baik, "Ayah pikir saat kau besar nanti kau harus menjadi seorang detektif. Dan pernikahan kami, tanyakan pada ibumu. Dia yang punya rencana,"  ucap Raka. 

__ADS_1


"Benarkah?!" Fernando sangat terkejut mendengar ayahnya telah mengakui semuanya sehingga pria kecil itu dengan cepat berdiri lalu berlari ke dapur 


Saat tiba di dapur, Fernando melihat ibunya sedang mencuci bekas wadah sarapan mereka sehingga Fernando pun berdiri di samping ibunya sambil menatap ibunya dengan sebuah senyuman lebar di wajahnya.


"Ada apa sayang?" Tanya Melisa.


"Kapan ayah dan ibu akan menikah?" Tanya Fernando langsung membuat Melisa menghentikan gerakan tangannya yang sedang membilas cucian piring nya. 


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya balik Melisa. 


"Ayah yang mengatakannya, katanya kalian akan menikah dan Ibu yang akan merencanakannya," ucap Fernando. 


Mendengar ucapan putranya dan dia juga kesal mengingat Raka yang memberitahukan masalah itu pada Fernando. 


"Tidak ada rencana di kepala ibu, sekarang pergi kumpulkan baju kotormu biar ibu mencucinya," ucap Melisa. 

__ADS_1


Melihat ibunya yang mengakhiri pembicaraan, maka Fernando hanya bisa menghela nafas sambil berjalan pergi meninggalkan ibunya. 


__ADS_2