
Pada sore hari saat jam pulang kerja, Hardi yang keluar dari kantornya langsung mendapat sebuah panggilan telepon dari putrinya.
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Tanpa berlama-lama, Hardi langsung mengangkat panggilan telepon itu, "ya, sayang," ucap Hardi pada perempuan di seberang telepon.
"Apakah Ayah jadi bertemu dengan raka?" Tanya Melisa.
"Jadi, tadi ayah sudah menghubunginya dan kami akan bertemu beberapa menit lagi," jawab Hardi.
"Baguslah, Tapi aku harap Ayah sedikit menahan diri, karena aku takut Ayah mungkin akan dilukai oleh pria itu kalau Ayah mengatakan sesuatu yang sangat buruk. Pokoknya Ayah harus mempertimbangkan keselamatan ayah!" Tegas Melisa yang merasa cemas bahwa ayahnya mungkin akan mendapatkan sesuatu yang buruk kalau ayahnya tidak berhati-hati menghadapi Raka.
"Kau tenang saja, Ayah akan mempertimbangkan semua hal yang ayah bicarakan," jawab Hardi yang mengerti Bagaimana kecemasan putrinya.
"Baiklah Ayah, terima kasih sudah mengerti aku, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya," ucap Melisa dari seberang telepon sebelum panggilan telepon itu diakhiri.
__ADS_1
Maka setelah berteleponan dengan putrinya, Hardi pun melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan lalu pergi menuju sebuah restoran tempat pertemuannya dengan Raka.
Begitu tiba di sebuah restoran, Hardi langsung diantarkan oleh seorang pelayan ke sebuah ruangan private yang terletak di restoran tersebut.
"Selamat datang," ucap Raka langsung dengan menyambut Hardi hingga Hardi pun menganggukkan kepalanya sebelum dia duduk di depan Raka.
"Apa yang membuat Anda tiba-tiba saja menghubungiku dan mengajak untuk bertemu?" Tanya Raka dengan nada suara yang tenang.
"Ini tentang putriku, Sebenarnya apa yang kau inginkan pada putri dan cucuku?" Ucap Hardi langsung masuk ke inti pembicaraan.
"Apa?! Kau menyukai putriku?" Tanya Hardi benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pria yang ada di depannya.
Melihat reaksi Hardi, maka Raka pun tersenyum, "ya, Saya rasa begitu, tetapi Putri Anda datang ke kantor saya untuk melakukan balas dendam atas apa yang terjadi pada 5 tahun yang lalu. Tapi kalau anda berpikir secara logika, dan tidak memberatkan sudut pandang Anda terhadap satu pihak, maka anda akan tahu bahwa saya sama sekali tidak melakukan kesalahan di 5 tahun yang lalu.
"Saya bahkan tidak tahu identitasnya dan bukan saya yang memesan Putri anda ke kamar saya. Saya juga terkejut ketika bangun di pagi hari dan mendekati Putri anda sudah tidur di samping saya," ucap Raka yang sama sekali tidak berbohong dengan apa yang ia katakan.
Dia bahkan langsung memecat asistennya yang saat itu bertugas karena dia terlalu marah pada pria tersebut.
__ADS_1
Hardi pun diam di tempatnya memikirkan masalah itu, dan dia tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Raka memang benar, tetapi dia tidak bisa percaya begitu saja sehingga Hardi berkata, "Kalau begitu, berikan bukti yang bisa membuatku percaya dengan apa yang kau katakan!!"
"Ya tentu," jawab Raka sambil mengambil sebuah FD yang telah Ia siapkan lalu meletakkannya di atas meja.
"Ini adalah segala rekaman sesuatu yang terjadi di 5 tahun yang lalu, Anda bisa memastikan keasliannya," ucap Raka dengan suara yang begitu tenang hingga membuat Hardi merasa bahwa pria di depannya memang tidak berbohong.
Meski begitu, Hardi belum memutuskan apa-apa pun karena tentunya mempertimbangkan perasaan putrinya jauh lebih penting daripada fakta yang terjadi di 5 tahun yang lalu.
Oleh sebab itu, Hardi mengambil flashdisk yang diberikan oleh Raka lalu dia menyimpannya sebelum berkata, "Sekarang aku ingin menanyakan tentang berkas yang kau berikan pada putriku untuk ditandatanganinya!!"
"Ah,,, mengenai itu," Raka tersenyum, "itu hanya berkas yang tidak penting saja, tapi kalau Anda memang penasaran, maka saya akan membawakannya besok. Kita bisa bertemu lagi di sini," ucap Raka.
Hardi pun mengerutkan keningnya melihat pria di depannya tampak sangat tenang, 'Melisa bilang dia dipaksa untuk bekerja seumur hidup di perusahaan pria itu, tapi kenapa pria ini begitu tenang?' pikir Hardi dalam hati yang tidak mengerti mengapa Raka sangat tenang, padahal pria itu seharusnya tahu kalau dia akan sangat marah kalau dia melihat isi berkas tersebut.
Meski begitu, Hardi tidak mengatakan apapun dan dia hanya duduk dengan tenang sambil melihat ke arah pelayan yang kini datang menghampiri Mereka menyediakan makanan mereka.
Meski Hardi sangat tidak suka makan bersama Raka karena dia terus mengingat Bagaimana pria itu adalah pria yang merebut harta berharga milik putrinya, Tetapi dia masih tetap menahan amarahnya karena dia masih ingin menanyakan beberapa hal pada pria di depannya.
__ADS_1