
Raka yang meninggalkan sekolah Fernando kini berada dalam mobil sambil memegang sehelai rambut halus milik Fernando yang sempat ia ambil saat membuka bekal pria kecil itu karena menempel di atas meja.
Pria itu berpikir selama beberapa saat sebelum dia mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit.
Raka melakukan tes DNA pada rambut milik Fernando dan juga rambutnya sebelum pria itu menghampiri seorang dokter yang menangani Melisa ketika melakukan pemeriksaan.
Kebetulan dokter itu mengenal Raka sehingga sang dokter dengan cepat mencari informasi mengenai kesehatan Melisa sebelum sang dokter menatap Raka dengan raut wajah yang tidak terlalu baik.
Dokter kemudian berkata, "Dia sudah mengalami trauma selama bertahun-tahun lamanya, kondisinya men--"
"Trauma? Apakah saya boleh tahu apa yang membuatnya trauma?" Ucap Raka menyala ucapan sang dokter.
__ADS_1
"Mungkin saja ada kejadian yang sangat buruk yang pernah ia alami, Tetapi dia tidak berniat mengatakannya, pasien juga terburu-buru meninggalkan ruangan dokter ketika diperiksa jadi kami tidak bisa memberikan banyak informasi tentangnya. Meski demikian pasien berkata bahwa dia melakukan pemeriksaan di salah satu klinik dan sudah menjalani pengobatan selama beberapa tahun terakhir. Mungkin jika kau mencari tahu tentang klinik itu maka kau bisa mendapatkan informasi yang jauh lebih akurat," ucap sang dokter langsung membuat Raka menganggukkan kepalanya.
Pria itu pun pergi meninggalkan ruangan dokter dengan perasaan yang sangat tidak nyaman, 'Trauma,' ucap Raka dalam hati yang merasa bahwa kemungkinan besar trauma yang dialami oleh Melisa berhubungan dengan dirinya.
Pria itu berkali-kali menghela nafas sampai akhirnya ia tiba di perusahaan dan melihat Melisa sedang buru-buru memasuki ruangan marsita.
Melihat Melisa yang sangat buru-buru, maka Raka kemudian mengikuti Melisa hingga ia tiba di depan pintu ruangan marsita dan melihat Melisa sedang meletakkan kopi di meja kerja marsita.
Tetapi ketika dia sedang mencoba kopinya, pintu ruangannya tiba-tiba saja dibuka oleh Raka hingga membuat marsita terkejut dan menyemprotkan minuman tersebut ke wajah Melisa.
"Selamat siang pak, Ada yang bisa saya bantu?" Tanya marsita sambil berjalan menyambut kedatangan CEO.
__ADS_1
Sementara Melisa yang saat ini menggertakkan giginya, ia mengulurkan tangannya mengambil tisu yang terletak di meja kerja marsita lalu mengelap wajahnya dengan perasaan yang begitu kesal sebelum dia berbalik membungkuk 90 derajat ke arah Raka yang sedang menatapnya.
"Apa yang terjadi di sini?" Tanya Raka dengan tatapan yang tidak senang dengan kejadian yang baru saja ia lihat.
Marsita langsung melihat ke arah Melisa yang kini sudah berdiri dengan tegap, lalu dia pun berkata, "Saya hanya menyuruh Melisa membuatkan kopi, tapi sepertinya dia tidak mengetahui bagaimana sele--"
"Sejak kapan sekretarisku menjadi pembuat kopi untukmu?!" Ucap Raka sambil melemparkan tatapan tajamnya ke arah marsita hingga membuat marsita terdiam di tempatnya.
Setelah beberapa saat keheningan, marsita akhirnya memberanikan diri membuka mulutnya, "Itu, Maafkan saya, lain kali tidak akan saya ulangi lagi," ucap marsita dengan kaki yang agak gemetar.
Setelah mendengarkan ucapan marsita, maka Raka pun memindahkan tempat-tempatnya menatap Melisa yang sedang berdiri memandang ke arah tembok.
__ADS_1
"Mulai sekarang kau menjadi asistenku!" Ucap Raka langsung membuat Melisa menatap ke arah pria itu dengan tatapan tak percayanya, sementara marsita juga melototkan matanya menatap CEO.