
Tek!
Melisa menekan tombol pada korek yang ada di tangannya sehingga api pun menyala lalu Melisa menyalakan sebuah lilin kecil yang ditancapkan di tengah-tengah kue.
Fernando pun melihat kue tersebut dengan mata berbinar-binarnya, "ayo menyanyi," ucap Fernando.
Melisa pun menganggukkan kepalanya lalu kedua orang itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Raka.
Setelah itu, keduanya berdoa singkat sebelum mereka meniup lilin pada kue.
Fuuhh....
Fuuhh....
Setelah lilinnya mati, Melisa dan Fernando serempak menoleh ke arah Raka namun Mereka melihat pria itu masih tertidur pulas sehingga Melisa pun dengan cepat menyerahkan pisau pada putranya.
"Kau yang mewakili ayahmu untuk memotong kuenya," ucap Melisa langsung membuat Fernando menganggukkan kepalanya lalu dia dengan cepat memotong kue yang ada di sana.
__ADS_1
Setelah mendapatkan potongan kecil kue tersebut, Fernando pun meletakkannya di piring lalu mengambil sendok dan mengambil satu suapan yang diarahkan pada ibunya.
Melisa mengangkat sebelah alisnya, "suapan pertamanya untuk ibu?" Tanya Melisa.
Fernando mengangguk pelan, "ya, kalau ayah yang menyiapkan suapan pertamanya, maka suapan pertamanya pasti diberikan untuk ibu," jawab Fernando langsung membuat Karin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu perempuan itu pun menerima suapan dari putranya.
"Biar Ibu menyuapimu juga," kata Melisa mengambil sendok dari tangan putranya lalu dia pun menyuapi putranya sebelum Melisa meletakkan peringnya di atas meja lalu menatap Raka yang tampak tertidur pulas.
"Kau makanlah kuenya, Ibu mau ke toilet sebentar," ucap Melisa langsung dijawab anggukan Fernando hingga Melisa pun pergi ke toilet.
Begitu menutup pintu toilet, Melisa langsung terdiam di tempatnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dia terus terdiam di tempatnya dengan pikiran yang melayang-layang sampai tiba-tiba saja pintu digedor oleh seseorang.
"Ibu!! Cepat keluar!!!" Teriak Fernando dari luar toilet langsung membuat Melisa dengan cepat membuka pintu lalu melihat Fernando berlari kembali ke kamar.
Melisa pun dengan cepat mengikuti putranya dan terkejut melihat Fernando yang telah terbangun.
__ADS_1
"Ayah!! Ayah sudah bangun!!!" Tugas Fernando sambil naik ke tempat tidur.
Melisa pun menghampiri bel darurat di kamar tersebut Lalu menekannya sebelum dia berjalan ke arah ranjang dan melihat pria di tempat tidur menatap ke arahnya.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Melisa sambil memperhatikan Raka.
Mata Raka langsung berubah merah berkaca-kaca mendengar pertanyaan melisa, dan saat itu dia sangat ingin menjawab tetapi tenaganya begitu lemah dan dia kesulitan untuk menggerakkan lidahnya yang sangat keluh.
"Ayah menangis," ucap Fernando dengan panik ketika ia melihat air mata ayahnya telah menetes di pipi.
Melissa pun menjadi sangat panik, perempuan itu hendak berlari keluar untuk memanggil dokter secara manual ketika tangannya tiba-tiba dipegang oleh Raka hingga Melisa menghentikan gerakannya dan berbalik menatap Raka.
Saat ini Melisa kebingungan harus berbuat apa, tetapi kemudian Fernando lah yang turun dari tempat tidur, "biar aku yang panggil dokter," ucap Fernando segera berlari keluar kamar.
Sementara Melisa yang merasakan pegangan Raka pada tangannya, perempuan itu pun membalas pegangan tangan Raka dengan kedua tangannya memegang tangan pria itu sambil berkata, "dokter akan segera datang, Jadi kau tidak perlu khawatir."
Perasaan Raka menjadi semakin tak karuan mendengar perempuan yang ada di hadapannya sangat memperhatikannya bahkan berbicara dengan lembut padanya sehingga air matanya pun semakin merembes keluar dan membuat pandangannya menjadi buram menatap Melisa.
__ADS_1
Melihat air mata Raka yang terus keluar, maka Melisa mengambil tisu yang tersedia di meja samping tempat tidur lalu mengelap air mata pria itu.
"Apakah sangat menyakitkan sampai kau menangis?" Tanya Melisa hanya dijawab oleh satu kedipan mata Raka.