Satu Malam Dengan Pria Asing

Satu Malam Dengan Pria Asing
71


__ADS_3

Melisa dan ibunya terbengong di tempat mereka setelah mendengar cerita Fernando tentang segala sesuatu yang terjadi hingga Raka kini berada di IGD.


Keduanya tak percaya dengan hal berat yang telah dialami oleh Fernando dan juga Raka sampai mereka akhirnya bebas dari darah.


"Orang-orang itu membawa senjata?" Tanya Novia sambil Menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan tubuh gemetar karena dia terlalu takut memikirkan Raka yang telah tertembak.


Melisa pun memeluk putranya dengan erat dengan perasaan yang sangat kacau karena tercampur aduk antara bahagia karena putranya sudah kembali namun karena penculikan itu, saat ini Raka masih belum bisa dipastikan apakah akan selamat atau tidak.


Ketiga orang yang ada di depan IGD terdiam dalam pikiran mereka masing-masing dan semuanya memikirkan Raka yang sedang ada di IGD.


Mereka semua masih terdiam ketika Hardi sudah kembali menemui seorang kenalannya di rumah sakit sehingga Novia dengan cepat berdiri menatap suaminya untuk mendapatkan informasi dari pria itu.


"Bagaimana? Apa kata orang yang kau temui tentang keadaan Raka?" Tanya Novia dengan raut wajah yang sangat khawatir.


Hardi menghela nafas sambil menatap istrinya sebelum dia memindahkan tatapannya pada Fernando dan Melisa.


"Saat ini dokter yang ditugaskan menangani Raka masih memantau keadaan Raka di IGD, tetapi dokter yang kutemui yang sempat pergi melihat keadaan Raka, ia berkata kalau kecil kemungkinan Raka akan selamat sebab ada dua peluru yang mengenai tubuhnya.


"Katanya satu peluru berada di pahanya dan itu tidak terlalu mengancam nyawanya tetapi bisa membuatnya mengalami kelumpuhan pada kakinya yang terkena peluru," ucap Hardi langsung membuat kaki Melisa menjadi gemeter hingga perempuan itu pun hampir terjatuh tetapi untungnya dia ditahan oleh suaminya.


Maka Hardi membawa istrinya duduk di kursi sambil memeluk perempuan itu dengan perasaan yang kacau.


Sementara Melisa dan Fernando, keduanya memperhatikan Hardi dengan Fernando yang tidak sabar untuk mendengar kelanjutan cerita kakeknya sehingga Fernando berkata, "Lalu bagaimana dengan peluru yang satunya?"


Hardi kembali menghela nafas, dan dia merasa tidak bisa menceritakan hal tersebut di depan Fernando, tetapi melihat cucunya yang menatapnya dengan sangat serius, maka Hardi kemudian berkata, "peluru yang itu mengenai punggung Raka, dan meski tidak berada di titik yang sensitif tetapi karena terlalu banyak pergerakan ketika sudah mendapatkan tembakan membuatnya mengalami pendarahan yang cukup banyak, apalagi kata dokter saat itu Raka berada di lautan sehingga sangat berpengaruh terhadap keadaannya sekarang.


"Dia bilang kemungkinan paling besar kalau dia selamat Raka akan mengalami kelumpuhan di setengah badannya karena saraf yang terganggu," ucap Hardi langsung membuat Melisa mempererat pelukannya pada putranya sambil menangis tersedu-sedu karena tidak bisa membayangkan Bagaimana keadaan pria itu saat sembuh nanti.


"Hiks,, hiks,, hiks,," Melisa menangis tanpa bisa berkata apa-apa, sementara Fernando juga memeluk ibunya dengan wajah yang sangat murung.


Sedangkan Novia yang ada di pelukan suaminya, perempuan itu mulai berkata, "Daren,,, pria itu, dia benar-benar gila! Sekarang Apa yang akan terjadi pada Raka, dia masih begitu muda, tapi bagaimana bisa dia harus mengalami kelumpuhan?"


Melisa dan Novia terus menangis sementara Raka dan Hardi terdiam memeluk kedua perempuan itu.


Sampai beberapa menit kemudian 2 perempuan yang ada di sana akhirnya menghentikan tangisan mereka lalu Fernando menyekah air mata ibunya.


"Ayah akan segera sadar, dan kalau kakinya lumpuh aku akan menjadi kaki untuk ayah, dan kalau setengah badannya lumpuh aku yang akan menggantikan setegah badannya yang tak bisa ia gerakkan. Sekarang ibu Jangan menangis lagi, dokter berusaha menyembuhkan ayah," ucap Fernando berusaha menghibur ibunya, tetapi apa yang dikatakan putranya malah semakin membuat Melisa meneteskan air matanya.


"Ibu tahu,," ucap Melisa dengan air matanya yang terus bercucuran dan Fernando yang terus berusaha menyekah air mata perempuan itu.


Mereka menunggu di sana dengan perasaan cemas sampai akhirnya seorang perempuan tua tiba bersama pengawalnya.


Maka hardi langsung berdiri menatap nyonya rosmania yang tampak begitu panik.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Tanya Nyonya rosmania sambil memperhatikan semua orang yang ada di sana yang mana semuanya memiliki wajah yang begitu buruk terutama Novia dan Melisa.


"Raka masih berada dalam IGD," ucap Hardi langsung membuat Nyonya rosmania menghela nafas lalu perempuan itu pun segera duduk di salah satu kursi kosong yang terletak di depan IGD.


Perempuan itu duduk sambil menghela nafas, karena tentunya Raka adalah satu-satunya cucunya dan Putra serta menantunya telah meninggal jadi dia tidak memiliki kerabat manapun lagi selain Raka.


"Bagaimana bisa,, Bagaimana bisa dia masuk ke IGD?" Ucap nyonya rosmania yang sangat tidak tenang atas berita yang baru saja ia dengar.


Tiga orang dewasa yang ada di sana kini tak tahu harus berkata apa, mereka semua terdiam dalam rasa bersalah mereka sampai akhirnya Fernando lah yang berbicara.


"Ayahku tertembak peluru saat dia menyelamatkanku dari penculik," ucap Fernando langsung membuat Nyonya rosmania menatap ke arah Fernando


Wajah Nyonya rosmania tampak sangat pucat, hingga perempuan itu pun harus dipegangi oleh pengawalnya.


"Saya sudah memesankan ruang istirahat di sebelah sana, Ayo ke sana dan beristirahat di sana," ucap Fadilah.


"Ini,,, Bagaimana bisa kau diculik dan siapa yang berani menculikmu?" Tanya Nyonya rosmania sambil memperhatikan Fernando karena dia tak menyangka Ada hal seperti itu yang akhirnya membuat kekacauan.


Dia sangat memberani ada seseorang yang berani menyentuh keluarganya bahkan menyentuh cucu dan cicit satu-satunya.


"Orangnya sudah meninggal, Sekarang nenek harus beristirahat," ucap Fernando sambil mendekati Nyonya rosmania lalu memegang tangan perempuan itu dan menariknya untuk berdiri agar pergi ke ruang istirahat.


Melihat sebuah tangan kecil yang memegang tangannya, maka Nyonya rosmania akhirnya berdiri lalu dia pun pergi bersama Fernando ke ruang istirahat meninggalkan Melisa dan kedua orang tuanya.


"Ibu,, hiks,, hiks,," Melisa memeluk ibunya sambil menangis.


"Tenanglah, semuanya pasti akan baik-baik saja, lihat Putra mu, dia begitu kuat. Kau juga harus kuat," ucap Novia.


"Ya,, ya," kata Melisa sambil menunggu kan kepalanya meski saat itu air matanya terus bercucuran.


Semua orang yang ada di sana terus menunggu informasi dari dokter sampai akhirnya Melisa tidur di kursi.


Novia yang melihat putrinya tertidur kini menoleh ke arah suaminya, "ini adalah Rumah sakit swasta, pesankan satu kamar untuk kita," ucap Novia yang tidak tenang melihat putrinya harus tidur dalam posisi duduk.


"Baiklah," kata Hardi mengganggukan kepalanya karena dari tadi dia tidak memikirkan masalah itu sebab pikirannya terlalu fokus memikirkan neraka.


Maka Raka pun segera pergi untuk mencari kamar, namun dia ditemui oleh Fadilah yang kemudian berkata, "silakan ikuti saya, saya sudah menyiapkan kamar untuk kalian semua."


Mendengar itu, makan Novia dengan cepat membangunkan putrinya lalu mereka mengikuti Fadilah ke arah sebuah kamar yang terletak di samping kamar tempat nyonya rosmania dan Fernando berada.


Kamar itu pun dihubungkan oleh sebuah pintu sehingga ketika mereka tiba di sana Mereka melihat Fernando membuka pintu dari arah kamar Nyonya rosmania.


"Nenek buyut sudah tidur," ucap Fernando sambil menghampiri ibunya yang sudah duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Tidurlah bersama ibu," ucap Melisa menaruh putranya ke atas ranjang hingga kedua orang itu pun tidur dengan Novia yang berjalan ke arah dapur dan membuat minuman untuk dia dan suaminya karena dia tidak bisa tidur.


Setelah selesai membuat minuman, Novia menghampiri suaminya lalu meletakkan minuman tersebut di depan suaminya sambil berkata, "tidak tahu sampai kapan kita akan menunggu. Aku sangat cemas."


Hardi yang mendengar ucapan istrinya langsung meraih tangan perempuan itu lalu dia menggenggamnya dengan erat, "jangan khawatir, kalau takdir memberi kesempatan untuk Raka, maka semuanya akan baik-baik saja. Sebaiknya sekarang kita terus berdoa," ucap Hardi langsung membuat Novia menganggukkan kepalanya sebelum dia memeluk suaminya.


Maka semua orang pun terdiam dalam pikiran mereka masing-masing sampai akhirnya ketika Melisa menyadari putranya telah tidur, Melisa lalu turun dari tempat tidur dan pergi ke dapur membuat makanan, Sebab mereka belum makan siang.


Setelah selesai membuat makan siang, Melisa menyajikan semua jadi meja lalu dia dan kedua orang tuanya mulai makan.


Sambil makan, Melisa menatap ayahnya, "Ayah sudah memberitahu dokter untuk menghubungi kita kalau ada perkembangan tentang keadaan Raka kan?" Tanya Melisa.


"Kau tenang saja, tadi Dokter bilang kalau Raka akan tetap berada di IGD sampai keadaannya membaik dan bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Dia juga sudah mengambil nomor Ayah, jadi akan langsung menghubungi ayah kalau nanti ada kabar terbaru," ucap Hardi.


"Baguslah, sekarang kita hanya perlu menunggu," ucap Melisa sambil menyuap satu sendok makanan.


Tetapi ketika makanan tersebut masuk di mulutnya, Melisa merasakan makanan tersebut begitu hambar sehingga dia benar-benar tidak nafsu untuk makan, namun dia merasa lapar sehingga perempuan itu memaksakan dirinya untuk mengunyah makanan tersebut meski rasanya begitu tidak enak.


Mereka terus menunggu sampai malam hari, lalu pagi hari kembali datang, namun Melisa yang pergi ke depan ruang IGD belum melihat ada tanda-tanda perubahan nama Raka pada daftar pasien yang dirawat di IGD.


Maka Melisa yang memandangi nama-nama tersebut akhirnya berbalik Lalu dia pergi untuk kembali ke kamarnya ketika Melisa menghentikan langkahnya saat ia dihampiri oleh Fadilah.


"Nyonya muda, nyonya besar menyuruh saya untuk menyampaikan pesan supaya kalian kembali ke rumah karena nyonya besar cemas bukan hanya Raka yang akan masuk ke rumah sakit jika kalian terus ada di rumah sakit dan begadang." Ucap Fadilah.


Melisa menggelengkan kepalanya, "tidak, aku tidak bisa pergi, aku akan tetap di sini menunggu sampai dia sadar," ucap Melisa sebelum dia pergi meninggalkan Fadilah dengan langkah yang cepat.


Saat Melisa tiba di kamar, Melisa mendapati Fernando sedang duduk menyusun parcel yang tadi dibeli oleh Hardi untuk menghilangkan kebosanan mereka.


"Ada apa wajahmu seperti itu?" Tanya Novia yang baru selesai mandi.


"Pengawal nyonya rosmania menghampiriku Dan Dia menyuruh kita semua untuk meninggalkan rumah sakit," ucap Melisa.


"Kenapa Nyonya rosmania menyuruh kita pergi?" Tanya Novia kebingungan.


"Aku tidak tahu juga," jawab Melisa sambil menghela nafas.


Sedangkan Fernando yang sudah bosan memainkan puzzel, pria kecil itu akhirnya mengangkat wajahnya menatap ibu dan neneknya, "aku rasa apa yang dikatakan oleh nenek buyut itu benar, kalau kita terus di sini kita bisa terserang penyakit dari rumah sakit hingga membuat kita lebih mudah sakit.


"Lagi pula, Kakek sudah berbicara dengan dokter untuk menghubungi kita kalau ada sesuatu yang terjadi jadi kita hanya perlu menunggu di rumah. Jarak dari rumah ke tempat ini juga dekat, hanya perlu 7 menit saja naik mobil," ucap Fernando yang merasa apa yang dikatakan oleh nenek buyutnya memang benar.


Lagi pula, dia khawatir ibunya atau neneknya mungkin akan jatuh sakit kalau terus berada di rumah sakit.


Baik Melisa maupun Novia, keduanya menatap Fernando dengan tatapan tidak setuju mereka hingga Melisa pun mendekati putranya sambil berkata, "sayang, bukan itu masalahnya, tapi yang paling penting kalau kita ada di sini artinya kita memberikan dukungan untuk ayah agar dia lebih cepat sembuh. Lagi pula berada di rumah dan di sini juga sama saja, kita tetap berada di ruangan yang disekap dengan pasien lain, Jadi ibu rasa tidak apa-apa kalau kita di sini."

__ADS_1


Fernando menatap ibunya untuk beberapa waktu lamanya sebelum dia menganggukkan kepalanya, "baiklah," ucap Fernando.


__ADS_2