Satu Malam Dengan Pria Asing

Satu Malam Dengan Pria Asing
63


__ADS_3

Pada keesokan harinya ketika Melisa terbangun, perempuan itu terkejut mendapati dirinya tidur di kamar Ayah dan Ibunya.


Melisa tinggal di atas tempat tidur berpikir selama beberapa saat mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Hal itu membuat suasana hatinya menjadi sangat buruk, Tetapi ketika dia teringat akan putranya, perempuan itu pun berusaha menepis perasaan buruknya lalu menggantikannya dengan pikiran positif bahwa hari ini dia harus terlihat baik-baik saja di depan putranya.


Melisa segera turun dari tempat tidur lalu dia berjalan keluar kamar dan mendengar suara berisik dari dapur sehingga Melisa berjalan ke arah dapur lalu menemukan Fernando dan Novia sedang membuat kue.


"Selamat pagi Bu!!!" Ucap Fernando langsung turun dari kursi lalu dia membuka lemari dan mengeluarkan jus yang telah Ia siapkan untuk ibunya.


"Selamat pagi sayang," jawab Melisa sambil memperhatikan Putra kecilnya yang telah membawa jus tersebut ke atas meja dan mengambil juga kue buatan pria kecil itu lalu meletakkannya di samping jus.


Setelah itu, Fernando menatap ibunya dengan sebuah senyum di wajahnya, "sarapanlah, itu jus buatanku dan kue buatanku bersama dengan nenek," kata Fernando dengan nada suara yang begitu ceria akhirnya membuat Melisa tersenyum lalu dia pun memperbaiki rambutnya sebelum duduk di kursi.


Novia yang melihat Melisa mencicipi jus buatan Fernando, ia berkata, "Ibu dan Fernando akan pergi untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan, ayahmu juga memberikan kartu kreditnya untuk kita belanjakan hari ini."


Fernando menganggukkan kepalanya, "benar Bu, katanya hari ini kita juga harus menonton di bioskop!!! Tadi kami sudah memesan tiket untuk film Korea terbaru!" Ucap Fernando dengan suara bersemangat karena dia tahu ibunya adalah seorang pencinta segala sesuatu yang berbau-bau Korea.


"Tentu, kita akan pergi," ucap Melisa.


Maka Fernando dan neneknya segera mempercepat pembuatan kue mereka sebelum ketiganya bersiap-siap lalu pergi meninggalkan rumah.


Dalam perjalanan ke pusat perbelanjaan, Fernando duduk di samping ibunya sambil meramas tangan ibunya, "ibu, Ayo sebutkan satu permintaan ibu untuk hari ini, nanti aku dan nenek akan berusaha untuk mengabulkannya!!"


Novia mengangguk, "benar, hari ini kami akan mengabulkan satu permintaanmu,, jadi ayo sebutkan apa permintaanmu," ucap Novia yang sementara menyetir sambil melihat putrinya lewat kaca spion dalam mobil.


Melisa pun mengerutkan keningnya mendengar ucapan kedua orang yang bersama-sama dengannya, "ini bukan hari ulang tahunku, bukan hari yang spesial juga, tapi kenapa kalian tiba-tiba mau mengabulkan permintaanku?" Ucap Melisa sambil menatap heran ke arah putranya.

__ADS_1


Fernando pun mengukir sebuah senyuman indah di wajahnya sambil berkata, "tidak perlu menunggu hari ulang tahun, karena hari ini juga hari yang berharga, jadi ayo cepat katakan apa permintaan ibu!!"


Melisa tersenyum melihat raut wajah putranya yang sangat bersemangat, "Hm,," Melisa berpikir beberapa saat sebelum dia mengambil ponselnya lalu mencari sesuatu di internet, "Ibu sangat ingin naik ke sini dan duduk di bangku paling depan!" Kata Melisa memperlihatkan gambar roller coaster tertinggi di ibukota.


Gambar wahana tersebut membuat Fernando menjadi cemas sehingga dia menatap ibunya dengan raut wajah tidak tenang nya.


"Ibu mau naik wahana itu? Ibu tidak takut?" Tanya Fernando Yang tahu betul kalau ibunya adalah seorang phobia ketinggian, tapi sekarang tiba-tiba saja ingin naik roller coaster?


Bagaimana kalau ibunya pingsan di atas roller coaster yang sedang bergerak dengan kecepatan tinggi?


"Ya," Melisa dengan penuh percaya diri, karena dia berpikir dia akan melepaskan seluruh beban pikirannya kalau dia bisa berteriak sekeras yang ia bisa di atas roller coaster yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Kalau begitu ayo kita pergi menonton di bioskop baru nanti siang kita pergi ke Dufan," Novia yang sementara membawa mobil.


"Ok!" Jawab Fernando sambil tersenyum meski dalam hati ia merasa agak khawatir pada ibunya.


Saat sementara menonton, Fernando yang tidak terlalu senang dengan film hiburan, ia kini tertidur di kursinya hingga Melisa dengan cepat menyelimuti putranya menggunakan jaket miliknya.


Setelah itu, Melisa kembali fokus pada filmnya sampai lampu bioskop kembali menyala lalu Melisa melihat putranya yang masih lelap dalam tidurnya.


"Aku tidak tega membangunkannya," ucap Melisa sambil menatap ibunya yang saat itu telah membereskan barang-barang mereka.


Novia juga melihat ke arah Fernando dan bisa melihat pria kecil itu tidur begitu pulas seolah-olah tak terganggu dengan suara-suara di sekitar mereka yang agak berisik di dalam bioskop.


"Tidak apa-apa, kita masih bisa menunggu beberapa menit," jawab Novia yang juga tidak tega membangunkan Fernando yang tampak begitu nyenyak dalam tidurnya.

__ADS_1


Maka kedua perempuan itu pun hanya bisa diam di bioskop menunggu Fernando bangun.


Sambil menunggu putranya bangun, Melisa menatap ibunya, "ibu, Apakah ibu sudah selesai melihat rekaman yang kemarin malam kita tonton?" Tanya Melisa yang tiba-tiba teringat akan apa yang terjadi kemarin malam.


Novia menganggukkan kepalanya, "Ya, Ibu sudah melihatnya, semua yang dikatakan Raka itu benar, Daren telah menjebakmu Dan Dia menjualmu dengan harga 5 miliar pada asisten Raka," ucap Novia dengan nada suara yang begitu kesal dan juga sedih atas apa yang telah terjadi di 5 tahun yang lalu.


"Apa?!" Melisa benar-benar terpukul mendengarkan ucapan ibunya perempuan itu duduk diam sambil bersandar dengan mata terpejam.


"Apakah ibu perlu mengantarmu ke dokter?" Tanya Novia yang merasa cemas pada putrinya, karena beberapa waktu terakhir putrinya jadi sering pingsan.


Apalagi sekarang ia melihat putrinya tampak sangat tidak baik-baik saja sehingga Novia menjadi cemas kalau putrinya sampai kenapa-kenapa.


Tetapi Melisa menggelengkan kepalanya, "tidak Bu, aku akan baik-baik saja," ucap Melisa yang sedari dulu sudah memiliki niat untuk menyembuhkan dirinya sendiri meski itu sangat sulit.


Meski masih merasa cemas, Novia tetap menganggukkan kepalanya, "Baiklah, tetapi ibu selalu teringiang-ngiang tentang percakapan kita dengan Fernando, ketika Fernando bilang dia berbicara dengan ayahnya, menurut ibu itu adalah sebuah kemajuan yang sangat besar. Lagi pula kalau dipikir-pikir, Raka juga sama sekali tidak salah atas apa yang terjadi, jadi Mengapa kau tidak mengizinkan Fernando untuk bertemu dengan ayahnya?


"Mungkin saja kalau mereka bertemu Fernando bisa lebih membuka diri pada orang lain," kata Novia yang kini merasa cemas kalau suatu saat nanti Fernando akan menderita seperti ibunya, mengalami trauma yang tidak berkesudahan bahkan melekat sampai bertahun-tahun.


Melisa terkejut dengan ucapan ibunya, "Mengizinkannya bertemu?" Tanya Melisa sambil mengerutkan keningnya, Dan Dia merasa bahwa dia tidak bisa membiarkan putranya bertemu dengan neraka, karena dia masih teringat bagaimana ketika Raka memaksanya untuk menandatangani sebuah berkas yang benar-benar mengekangnya.


Pria itu akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya, jadi Melisa merasa cemas Raka mungkin akan memanfaatkan kedekatannya dengan Fernando untuk merebut Fernando darinya.


Kalau sampai itu terjadi, maka Melisa tidak bisa lagi memiliki alasan untuk hidup, mati jauh lebih baik daripada harus hidup terus menderita melihat putranya bersama dengan orang lain.


"Ibu tidak memaksamu untuk melakukannya, Kau boleh memikirkannya pelan-pelan," ucap Novia yang bisa melihat raut wajah putrinya tampak berpikir sangat dalam atas apa yang baru saja ia katakan.

__ADS_1


Maka Melisa pun menganggukkan kepalanya, "baiklah Bu, aku akan memikirkan saran dari ibu," jawab Melisa.


__ADS_2