
Melisa yang kini berada di ruangan asisten, ia sangat terkejut karena ternyata ruangan asisten memiliki pintu yang langsung mengarah ke ruangan CEO sehingga Melisa berdiri di ruangannya dalam rasa bengong yang membuatnya tak mampu berkata-kata lagi.
'Aku menjadi asistennya? Bukankah ini menandakan bahwa balas dendamku semakin dekat lagi?' ucap Melisa dalam hati sebelum perempuan itu duduk di kursinya dan menikmati posisinya yang benar-benar spesial.
Tok tok tok..
Tiba-tiba pintu ruangan Melisa diketuk oleh seseorang sehingga Melisa pun mengarahkan tangannya menekan tombol di bawah mejanya hingga membuat pintu ruangan miliknya kini terbuka.
Saat itu, Dika langsung masuk ke dalam ruangan Melisa sambil membawa 2 buah berkas, "Selamat atas kenaikan jabatanmu menjadi asisten. Oh ya, ini berkas yang telah diperiksa oleh Kak marsita, Dia menyuruhku membawanya kemari supaya kamu memberikannya pada CEO," ucap Dika langsung membuat Melisa mengambil berkas tersebut.
"Terima kasih, Tapi sebenarnya aku merasa tidak enak dengan posisiku ini," ucap Melisa yang merasa bahwa orang-orang yang ada di tempat itu akan berusaha menjatuhkannya karena dia yang menduduki posisi asisten CEO hanya beberapa hari setelah dia masuk ke perusahaan utama.
"Tidak perlu merasa tidak enak, ingat posisimu sekarang adalah asisten CEO, bahkan posisi asisten jauh lebih tinggi daripada sekretarisnya. Oya, kalau kau membutuhkan sesuatu nanti tanyakan saja padaku, asisten yang lama sangat dekat denganku, jadi aku banyak mengetahui beberapa tips darinya," ucap Dika langsung membuat Melisa tersenyum.
"Terima kasih," kata Melisa yang merasa senang bahwa pria di depannya benar-benar mendukungnya.
__ADS_1
Baru saja Dika akan menjawab ucapan terima kasih Melisa ketika pintu ruangan yang menghubungkan ruangan Melisa dengan ruangan CEO tiba-tiba saja terbuka hingga keduanya menatap ke arah pintu tersebut.
"Selamat siang pak," ucap Dika langsung membungkuk 90° pada Raka.
"Keluar!" Perintah Raka pada Dika langsung membuat Dika mengundurkan diri dari tempat itu hingga hanya tersisa Melisa dan Raka saja.
"Apakah bapak membutuhkan sesuatu?" Tanya Melisa pada Raka.
"Tidak ada," ucap Raka sebelum dia berbalik pergi meninggalkan ruangan Melisa hingga membuat Melisa kebingungan sendiri.
'Ada apa dengan pria itu?' ucap Melisa dalam hati yang tak mengerti mengapa Raka tiba-tiba saja datang ke ruangannya, tapi pria itu tidak memiliki kepentingan apapun.
"Hah,,, aku bisa berada di sini karena Kak marsita yang bersikap buruk padaku, jadi aku harus memperlihatkan padanya bagaimana kemampuanku yang sesungguhnya!" Ucap Melisa dalam hati sebelum dia mengambil salah satu berkas dan memulai pekerjaannya pada hari itu.
Dia terus bekerja sampai akhirnya jam alarmnya berbunyi lalu perempuan itu segera mematikan alarmnya dan mengambil berkas-berkas yang ada di atas meja sebelum pergi menghampiri CEO.
__ADS_1
"Ini adalah berkas yang harus bapak tandatangani, sementara jadwal meeting dengan tuan Han ditunda menjadi besok pagi jam 10.00." ucap Melisa sambil meletakkan berkas di atas meja Raka hingga membuat Raka mengangkat wajahnya menatap perempuan yang ada di hadapannya.
Saat ini Raka teringat akan ucapan dokter tentang trauma perempuan itu sehingga Raka membuka lacinya lalu mengambil sebuah kartu kredit dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Melisa.
"Gunakan kartu kredit ini dan beli beberapa pakaian yang cocok untuk menjadi seorang Asisten! Aku ingin pakaian asisten ku adalah pakaian branded," ucap Raka langsung membuat Melisa mengangkat sebelah alisnya.
Saat ini Melisa memang menggunakan pakaian-pakaian mahal, tetapi tidak berasal dari merek-merek paling mewah karena dia masih harus menyisihkan banyak gajinya untuk keperluan masa depan putranya.
Meski begitu, Melisa juga sadar bahwa seorang asisten dari CEO ternama tidak mungkin menggunakan pakaian biasa-biasa saja sehingga Melisa dengan cepat mengambil kartu tersebut, "Terima kasih Pak."
Raka hanya mengangguk pelan lalu membiarkan Melisa meninggalkan ruangannya bersamaan dengan sebuah email yang masuk ke dalam komputernya.
Maka Raka langsung membuka email yang berasal dari temannya, dan dia mengerutkan keningnya ketika membaca informasi pada email tersebut tentang penyebab trauma yang dialami oleh Melisa.
'Jadi selama 5 tahun terakhir dia terus berobat dan sampai sekarang masih mengkonsumsi obat?' ucap Raka dalam hati sambil terus membaca satu persatu kalimat pada hasil laporan kesehatan Melisa.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Raka terdiam ketika ia mendapati sebuah informasi yang sangat mengejutkannya.
'Kondisi kesehatannya berpengaruh pada pola asuh anaknya?' ucap Raka dalam hati yang merasa bersalah mengetahui bahwa ternyata akibat yang ditimbulkan oleh kejadian 5 tahun yang lalu juga ikut berdampak pada Fernando.