
Setelah 3 hari menginap di rumah sakit, akhirnya pada malam hari Melisa dibangunkan oleh ibunya ketika mereka mendapat kabar tentang Fernando.
Maka Melisa dengan hati-hati bangun agar tidak membangunkan putranya lalu perempuan itu ditarik oleh ibunya keluar dari kamar.
"Ada apa Bu?" Tanya Melisa.
"Dokter baru saja menemui Ibu, katanya Raka akan dibawa ke luar negeri untuk menjalani pengobatan," ucap Novia.
"Apa?!" Melisa sangat terkejut.
"Ini adalah keputusan dari keluarga Raka, dan Raka akan berangkat besok pagi," ucap Novia langsung membuat Melisa menggigit bibir bawahnya dalam kedilemaannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Ucap Melisa yang merasa cemas untuk pergi ke luar negeri, Karena membawa putranya yang baru berusia 4 tahun itu sesuatu yang tidak mudah Sebab di rumah sakit luar negeri anak kecil tidak diizinkan secara sembarangan keluar masuk rumah sakit.
"Ayahmu sudah menelpon kalau pekerjaannya sudah selesai dan akan segera datang kemari, nanti bicarakan dengan ayahmu untuk mendapat keputusan," ucap Novia langsung dijawab anggukan Melisa.
"Baik Bu," ucap Melisa.
Maka kedua perempuan itu terus duduk menunggu sampai akhirnya Hardi kembali menemui mereka.
"Ayah," ucap Melisa memperhatikan ayahnya yang masuk ke dalam kamar sambil meletakkan beberapa paper bag yang ia bawa.
"Ini makanan untuk kalian, tapi Fernando sudah tidur?" Ucap Hardi sambil melirik cucunya yang sudah tertidur di tempat tidur, padahal saat itu waktu baru menunjukkan pukul 08.00 malam.
"Fernando sudah makan, tapi aku dengar Raka akan segera dipindahkan ke luar negeri untuk mendapat perawatan di sana. Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Melisa mengabaikan makanan yang dibawa oleh ayahnya meski saat itu dia belum makan malam.
"Ayah sudah mendengarnya, tapi kalau kau mau pergi ke luar negeri kau tidak bisa membawa putramu ke rumah sakit, mungkin bisa kalau kalian berada di luar rumah sakit. Ayah sudah mencari tahu rumah sakitnya dan itu sangat ketat, anak kecil di bawah umur 10 tahun tidak boleh memasuki rumah sakit." Ucap Hardi langsung membuat wajah Melisa menjadi murung sambil menatap ke arah putranya.
"Aku tidak bisa meninggalkan Putraku," ucap Melisa yang tidak tega untuk meninggalkan putranya, dia sudah terlalu trauma setelah kehilangan putranya satu kali, jadi Melisa tidak mau lagi untuk berpisah dengan putranya.
"Kalau begitu Kau tidak usah pergi, lagi pula akan ada orang yang ditugaskan untuk menemani mereka ke luar negeri," ucap Hardi langsung membuat wajah Melisa menjadi murung.
Dia merasa bersalah pada pria itu, dan dia mau ikut ke luar negeri untuk menemani pria itu.
Oleh sebab itu, Melisa terdiam Sambil memandangi putranya yang terbaring di tempat tidur.
Novia menatap Melisa dan bisa melihat kesedihan putrinya sehingga Novia berbalik menatap suaminya sambil berkata, "Apakah benar-benar tidak ada kemungkinan bagi Fernando untuk masuk ke rumah sakit?"
Pertanyaan itu langsung membuat Hardi berpikir beberapa saat sebelum dia menjawab, katanya, "bisa saja kalau nanti Fernando pindah rumah sakit, karena Rumah sakit tempat Fernando akan dirawat adalah Rumah sakit milik pemerintah, tetapi di sana juga ada banyak rumah sakit swasta yang fasilitasnya tidak kalah lengkap dengan rumah sakit pemerintah Jadi kalau dia dipindahkan ke rumah sakit tersebut maka Fernando bisa masuk ke rumah sakit."
Jawaban suaminya langsung membuat Novia menatap putrinya, "Kalau kau benar-benar tidak bisa kalau tidak pergi menemani Raka, maka sebaiknya kau dan Fernando pergi saja. Nanti di luar negeri kau bisa meninggalkan Fernando di hotel sebentar saat kau pergi menemui Raka di rumah sakit." Ucap Novia langsung membuat Melisa menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau meninggalkan Putraku di manapun," ucap Melisa yang sama sekali tidak mau lagi berpisah dengan putranya meski itu hanya hitungan Jam saja.
Mendengar ucapan putrinya, maka Hardi berkata, "seandainya ibumu bisa pergi ke luar negeri maka dia akan pergi menemanimu, tapi dia tidak bisah karena dia mabuk pesawat. Atau bagaimana kalau Ayah menyuruh sekretaris Ayah untuk pergi menemani kalian supaya kalau kalian pergi ke rumah sakit ada sekretaris yang menunggu Fernando sebentar saja di parkiran?"
Ucapan ayahnya langsung membuat Melisa berpikir dan karena dia tidak tenang kalau membiarkan Raka pergi sendirian ke luar negeri, maka Melisa akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku rasa itu pilihan terbaiknya," ucap Melisa.
Dengan selesainya percakapan itu, maka keesokan paginya saat Raka berangkat ke luar negeri, Melisa dan Fernando juga berangkat secara terpisah ke luar negeri dan untungnya mereka sudah memiliki semua surat-surat yang dibutuhkan karena beberapa waktu terakhir keduanya memang sempat pergi ke luar negeri.
__ADS_1
Dalam pesawat menuju luar negeri, Fernando memegang tangan ibunya sambil berkata, "Apakah ayah 1 pesawat dengan kita?"
Melisa menggeleng, "tidak sayang, dia berada di pesawat yang lain yang tenaga medisnya lengkap karena kalau dia berada di pesawat biasa seperti ini, tenaga medisnya tidak lengkap untuk menjaganya sepanjang perjalanan. Tapi nanti di sana kita bisa bertemu dengan ayah di bandara meski hanya sebentar saja yang penting kau bisa melihatnya," ucap Melisa yang belum memberitahukan pada putranya Kalau nantinya pria kecil itu tidak bisa masuk ke rumah sakit untuk melihat ayahnya.
Fernando pun menganggukan kepalanya sebelum dia memperbaiki posisi duduknya lalu mereka berdua menunggu sampai pesawat mendarat di negara xx.
Saat turun dari pesawat, Melisa melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 6 pagi karena mereka memang berangkat subuh-subuh hari.
Makan setelah itu, keduanya langsung pergi mengambil koper mereka sebelum keluar dari bandara dan menunggu di pintu jalur khusus untuk ambulans.
"Kenapa kita menunggu di sini dan tidak langsung pergi ke rumah sakit?" Tanya Fernando.
"Maafkan Ibu sayang, tapi Rumah sakit tempat ayahmu dirawat tidak mengijinkan anak-anak berusia 10 tahun ke bawah untuk masuk rumah sakit," ucap Melisa yang mengetahui kekhawatiran putranya, Sebab di tempat itu pun mereka tidak akan bisa melihat Raka karena Raka akan berada di dalam ambulans.
Fernando memperlihatkan wajah murungnya setelah mendengar ucapan ibunya, namun pria kecil itu tidak mengatakan apapun dan mereka terus menunggu sampai akhirnya sebuah ambulans lewat lalu keduanya menatap ke ambulans itu meski mereka tidak bisa melihat pasien yang ada di sana.
Seorang pria yang merupakan penanggung jawab keluarga besar Fernando yang berada di atas ambulans, ia memperhatikan dua orang itu sehingga pria tersebut langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi nyonya rosmania.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
"Apa kalian sudah sampai?" Tanya Nyonya rosmania ketika panggilan telepon itu sudah terhubung.
"Kami Baru saja tiba, dan saat ini kami ada di ambulance menuju rumah sakit, tadi saya melihat Nona Melisa dan Tuan Muda Fernando berdiri memandangi ambulans yang kami tumpangi, sepertinya mereka menyusul kemari," ucap pria bernama Herdian.
"Apa?! Kalau begitu suruh seseorang untuk menjemput mereka dan biarkan mereka tinggal di apartemen!" Perintah nyonya rosmania yang berpikir Melisa dan putranya tidak akan menyusul ke luar negeri.
Maka setelah itu, Herdian menelpon seorang pria yang lain yang ikut bersamanya ke luar negeri lalu menyuruh pria itu berbalik ke bandara untuk menjemput Melisa dan putranya.
Sementara saat itu, Melisa dan putranya sudah menarik koper mereka untuk memasuki taksi, tetapi Fernando menarik lengan Ibunya dan menghentikan ibunya ketika ia melihat sesuatu yang dijual di dekat bandara.
"Ibu," ucap Fernando menunjuk ke sebuah toko yang menjual jaket.
"Ayo beli jaket untuk ayah," ucap Fernando langsung membuat Melisa mengganggukan kepalanya.
"Baiklah, tapi kau harus memegang koper kecil ini dan menariknya, Apa kau bisa melakukannya?" Tanya Melisa langsung dijawab anggukan Fernando hingga kedua orang itu pun menarik koper mereka berdua menuju toko yang menjual jaket.
Kedua orang itu membeli jaket untuk Raka dan untuk mereka berdua, semuanya adalah jaket pasangan satu keluarga.
"Sekarang kita bertiga punya jaket yang sama," ucap Fernando sambil tersenyum langsung dijawab anggukan Melisa dengan matanya yang terasa panas.
Maka setelah membayar jaket tersebut, keduanya keluar dari toko bertepatan dengan seorang pria yang langsung menghampiri mereka.
"Selamat pagi Nyonya muda, saya diperintahkan oleh Nyonya rosmania untuk menjemput kalian berdua dan membawa kalian ke apartemen yang telah disiapkan Nyonya rosmania untuk kalian," ucap sang pria langsung membuat Melisa mengangkat sebelah alisnya memperhatikan pria di depannya karena saat ini dia cemas Kalau pria itu hanyalah pria yang mengaku-ngaku saja.
Melisa belum berkata apapun ketika putranya yang berdiri di sampingnya lebih dulu berbicara, katanya, "tolong perlihatkan kartu identitasmu."
Ucapan putranya langsung membuat Melisa menatap putranya dan tak menyangka saat ini dia kembali mendengar putranya berbicara dengan orang luar selain Dia dan kedua orang tuanya.
tetapi kebingungan Melisa terhenti ketika sebuah kartu identitas telah diulurkan pada mereka hingga Melisa pun mengambil kartu identitas itu dan melihat kartu identitas itu.
__ADS_1
Melisa juga tak lupa memotret kartu identitasnya itu sambil mengambil wajah pria yang menawari mereka tumpangan lalu dia mengirimkannya pada ayahnya untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu.
"Silakan nyonya," ucap sang pria langsung membukakan pintu untuk Melisa hingga Melisa dan putranya naik ke mobil.
Sang pria pun mengambil koper milik Fernando dan Melisa lalu meletakkannya di bagasi sebelum dia melajukan mobil meninggalkan toko pakaian.
Entah berapa lama mereka berkendara, Melisa tidak terlalu ingat karena perempuan itu fokus membaca buku yang diberikan oleh putranya.
Buku itu berjudul "etika menjadi seorang perempuan"
Barulah ketika mobil berhenti, lalu Melisa mengalihkan fokusnya dari bukunya sebelum mereka turun dari mobil dan terkejut mendapati apartemen tempat mereka menginap adalah apartemen yang sangat mewah.
"Silakan ikuti saya," ucap sang pria yang menemani Melisa dan Fernando hingga Ketiga orang itu pun memasuki lift lalu pergi ke unit 3102.
Setelah mereka tiba di unit 3102, Melisa terkejut mendapati apartemen tersebut begitu mewah, bahkan yang lebih mengejutkannya adalah di apartemen tersebut terdapat empat kamar dan fasilitas-fasilitas mewah lainnya.
"Ini adalah apartemen yang ditempati oleh Tuan Muda setiap kali dia datang ke kota ini, kalian boleh menggunakannya dengan bebas dan kalau membutuhkan sesuatu Silahkan hubungi saya," ucap sang pria sambil menyerahkan kartu namanya pada Melisa.
"Baik," jawab Melisa sambil melihat sang pria yang langsung keluar dari apartemen
"Ini apartemen ayah,," ucap Fernando langsung berjalan-jalan memperhatikan apartemen itu, sementara Melisa menarik kopernya ke ruang tamu sebelum dia memeriksa satu persatu kamar yang ada di sana dan mendapati hanya ada satu kamar yang memiliki tempat tidur berukuran besar.
Maka Melisa menarik kedua koper mereka ke dalam kamar tersebut dan mulai menyusun barang-barang mereka di ruang ganti sambil memperhatikan barang-barang Fernando yang tersusun rapi di dalam lemari.
'lima tahun yang lalu aku tidak pernah berpikir kalau suatu saat aku akan tinggal di rumah pria itu, tapi kalau dipikir-pikir, sekarang Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah terjadi. Apakah kondisi Raka juga menjadi semakin buruk karena obat yang kuberikan padanya?' ucap Melisa dalam hati yang kini mengingat bagaimana dia mencampurkan obat sedikit demi sedikit ke makanan Fernando saat dia menjadi sekretaris dan asisten pria itu.
Saat ini, Melisa terdiam memikirkan masalah tersebut, perempuan itu terus terdiam sampai tiba-tiba saja Fernando datang menghampirinya.
"Ibu baik-baik saja?" Tanya Fernando sambil memperhatikan ibunya yang terdiam memegang sebuah baju yang hendak digantung Melisa ke dalam lemari.
Mendengar suara putranya, maka Melisa langsung menatap ke arah putranya sambil menganggukkan kepalanya, "Ibu baik-baik saja, tadi hanya bingung saja sebentar." Ucap Melisa kemudian menggantung pakaian yang sedari tadi ia pegang.
Setelah selesai menggantung pakaian itu, Melisa berbalik menatap putranya yang sudah membongkar koper kecil milik putranya lalu membantunya menyusun pakaian milik Fernando ke dalam lemari.
Setelah keduanya berbenah, Melisa pun memasak untuk mereka menggunakan bahan makanan yang telah tersedia di kulkas.
'Apakah dari awal sudah ada orang yang hendak menempati tempat ini sehingga ada makanan yang disiapkan di sini?' ucap Melisa sambil memperhatikan satu persatu lemari yang ada di dapur dan semuanya berisi bahan makanan yang segar.
Meski Melisa penasaran, Tetapi dia tidak punya tempat untuk bertanya sehingga perempuan itu hanya diam saja menggunakan semua peralatan yang tersedia di sana.
Setelah makanan selesai dimasak oleh Melissa, maka dia dan putranya pun makan bersama dengan Fernando yang menatap ibunya sambil berkata, "kapan ibu akan pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ayah?"
"Nanti ibu akan menghubungi pria yang tadi mengantar kita ke sana untuk bertanya kapan bisa pergi ke sana," ucap Melisa yang tidak mau juga membuang-buang waktu kalau dia pergi ke sana dan malah tidak bisa menemui Raka jika pria itu masih berada di IGD.
Fernando menganggukkan kepalanya, "nanti aku mau mengantar Ibu, meski tidak bisa pergi ke rumah sakit tapi aku akan menunggu di parkiran," ucap Fernando.
"Tentu saja Sayang, nanti orang yang ditugaskan ayahmu untuk menyusul kita kemari akan datang nanti sore, jadi kau bisa tinggal bersama dengannya di parkiran," ucap Melisa.
"Baik ibu, tapi nanti kalau Ayah sudah sadar, jangan lupa membawakan jaket yang kita belikan untuk ayah," ucap Fernando yang teringat akan jaket yang mereka belikan untuk neraka.
"Tentu," jawab Melisa.
__ADS_1
Maka kedua orang itu terus berbincang-bincang sambil makan malam.