
Lestari belum juga keluar dari kamar milik putri angkatnya, masih ada begitu banyak yang akan mereka bicarakan.
Lebih tepatnya hanya wanita itu yang berbicara, karena Jenna sendiri cukup jadi pendengar saja.
"Abang hanya ingin mendapatkan perhatian dari kamu, sayang. Itu sebabnya selama ini sikap Abang kadang suka membuat mu kesal dan marah, Adek tentu tahu bagaimana perjuangan keras Abang, kan?" jelas Lestari seraya memeluk sayang putri angkatnya itu.
Jenna terdiam sejenak mencerna setiap kalimat yang di ucapkan sang Mama, apa selama ini sikapnya telah menyakiti hati pria itu? pikirnya menerawang jauh ke depan.
"Mama ngga marah kan?" tanyanya yang sebenarnya malu.
"Buat apa Mama marah sama Adek, kalau yang jadi biang masalahnya itu Abang," cebik Lestari menatap malas putri angkatnya tersebut.
"Ish. Jenna nanya serius loh, Mah. Bisa ajah Mama mungkin kesal atau marah karena Jenna sering buat masalah tiap hari, apalagi dengan perkara yang sama terus." Sungut gadis itu sembari menatap malas ke arah sang Mama
Lestari tampak hanya mengulas senyum tipis, menatap teduh wajah manis Jenna yang selalu berhasil memenangkan hatinya.
"Mama ngga marah cuma sedikit kesal ajah." Jawabnya setelah beberapa detik terdiam
"Kalian berdua itu udah pada dewasa loh. Masa iya tiap hari Mama harus teriak-teriak mulu."
Jujur saja, Lestari sangat gemas dengan kelakuan dari kedua kesayangannya.
Ibu mana yang tidak akan bahagia bila melihat kedekatan anak-anaknya, tetapi itu tidak berlaku untuk Aksa dan Jenna.
Dua insan yang di pertemukan di satu atap yang sama namun berbeda pola pikir, karena yang satu ingin menghalalkan sedangkan satunya lagi sangat sulit membuka hati.
.
.
Lestari keluar dari kamar Jenna setelah berhasil membujuk gadis itu untuk makan malam bersama.
Malam ini dia ingin kedua anaknya mau di ajak kerja sama, tanpa adanya drama yang muncul.
"Untung aku bukan ibu yang egois. Kalau ngga, mungkin udah lama tuh anak dua menikah." Kesal Lestari tanpa henti mengoceh sampai di depan pintu kamar yang selama ini dia tempati bersama suami tercinta
Ceklek!
Ketika pintu kamar di buka, terlihat di atas ranjang ada seorang pria tampan yang berusia sekitar 43 tahun tengah sibuk sendiri.
Tampak pria itu begitu asik membolak balik sebuah buku yang entah apa isinya, bahkan kedatangan sang istri pun belum diketahuinya saking serius membaca.
BUKK
Lestari menjatuhkan tubuhnya ke tengah ranjang, hampir saja mengenai tubuh suaminya.
Pria tampan sangat mirip Aksa itu sedikit terkejut melihat kelakuan sang istri tercinta.
__ADS_1
"Mama kenapa lagi, datang-datang dengan muka masam begitu, hmm?" heran Abyan cepat menyimpan bukunya dan berpindah memeluk tubuh langsing wanita halalnya tersebut.
Sebuah kecupan singkat mendarat sempurna di pipi kanan Lestari. Terlihat jelas dari tatapan matanya, betapa pria itu sangat mencintai dan menyayangi istrinya sepenuh hati.
Melihat ada yang tidak biasa dari sang istri membuat Abyan hanya bisa membuang nafas panjang, sebab ia sendiri pun tahu betul masalah apa yang mengusik pikiran Lestari.
"Papa tahu, pasti gara-gara kedua anak itu lagi kan?" tebaknya langsung tepat sasaran.
Lestari menoleh ke arah suaminya seraya mengangguk kan kepala.
"Mama bingung loh, Pah." Adunya dengan wajah lesuh
"Kenapa lagi, hmm?" tanya Abyan yang siap mendengarkan.
"Ya bingung. Awalnya kan, dulu Mama ngga suka waktu Papa dengan santainya bawa Jenna ke rumah ini. Belum lagi gadis itu masuk ke hidup kita dengan status sebagai anak angkat." Lestari mulai bercerita
"Tapi, semenjak Mmama mulai dekat dengannya, tanpa terasa kasih sayang Mama ke Jenna sudah melebihi batas, apalagi permintaan kedua orang tua kandungnya pun sama sekali tidak mau Mama turuti."
"Gadis itu berhasil merebut perhatian Mama, apalagi dulu Mama sampai nekat berdebat dengan kedua orang tuanya yang jelas-jelas lebih berhak atas hidup Jenna--,"
Lestari berhenti sejenak untuk mengatur detak jantungnya.
"Papa tahu, sekarang Mama merasa sudah seperti seorang ibu yang egois terhadap kedua anak Mama. Terlebih pada Jenna sendiri, Mama sangat berharap gadis itu bukan hanya akan menjadi anak angkat Mama, melainkan bagian dari diri Abang dan juga keluarga kita."
"Tapi si Adek masih tetap keras kepala ngga mau buka hatinya, gimana dong?"
Penuturan sang istri sukses mencuri perhatian Abyan yang otaknya tiba-tiba saja di liputi tanda tanya besar.
Sementara Lestari diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Mama sangat ingin Abang dan Jenna menikah, Papa."
GUBRAK
"Ya ampun Papa, apa-apaan sih pake jatuh segala?" pekik Lestari ikut bangkit dari ranjang.
Jawabannya barusan membuat Abyan terjungkal ke lantai akibat gerakan tiba-tiba dari wanita itu.
"Mama ada-ada ajah deh, main jodohin Abang sama Jenna." Gerutu pria itu seraya bangkit dari lantai
Pinggangnya benar-benar sakit.
"Sudah! Lebih baik kita langsung turun ke bawah, mungkin anak-anak sudah disana." Lanjutnya tanpa memghitaukan ocehan Lestari mulai kemana mana
Abyan tidak habis pikir dengan pola pikir istrinya, entah bagaimana nasib kedua anaknya nanti jika tahu malaikat tanpa sayap kesayangan mereka itu sudah main menjodohkan.
.
__ADS_1
.
.
Malam pun tiba.
Di ruang makan sudah ada Aksa dan Jenna, duduk tenang sembari menunggu dua orang dewasa lainnya.
Di antara mereka tidak ada yang berani buka suara, memilih sibuk dengan ponsel masing-masing.
Sementara Lestari dan Abyan tampak baru saja turun dari lantai atas.
Pasangan suami istri itu langsung di buat heran dengan keberadaan putra dan putri mereka.
"Loh, Abang kenapa malah duduk di tempat Mama sih? Pindah sana di samping Jenna!" kesal Lestari menyuruh putranya untuk kembali berpindah tempat duduk.
Mau tidak mau Aksa mengalah, walau sebenarnya ia masih malu sekedar duduk di dekat gadis kesayangannya tersebut.
Mulai sekarang pria itu akan bersikap biasa saja. Ia akan mencoba menerima semuanya walau dengan berat hati.
Rasanya ada yang kurang sayang, kalau Abang ngga bisa gangguin kamu lagi. Ucap lirih Aksa berbicara di dalam hati
Jenna menyadari pria tampan itu tengah memperhatikannya sedari tadi, melalui ekor matanya jelas terlihat raut wajah sedih Aksa.
Dalam hati gadis itu bertanya-tanya, apa sikapnya waktu di kampus sudah menyakiti sang Abang.
"Di makan sayang! Jangan malah di mainin kayak gitu makanannya," tegur Abyan pada Jenna.
Pria itu menyadari ada yang tidak beres dengan putri angkatnya dan sang putra, tetapi belum saatnya untuk bertanya.
"Tidak baik di depan makanan menekuk wajah begitu," sindir Lestari sebetulnya hanya ingin mencairkan suasana.
"Di makan sayang, itu Mama buatnya penuh kasih sayang loh." Tambahnya meminta Jenna agar segera makan
Gadis manis itu mengangkat wajahnya berusaha tersenyum walau di paksakan.
"Maaf Mah, Pah." Sahutnya merasa tidak enak hati
Aksa memilih diam tanpa berniat buka suara. Mungkin lebih baik tidak selalu mengganggu gadis manis kesayangannya itu dalam beberapa hari ke depan merupakan cara yang benar.
Bukan lari dari masalah, melainkan Aksa ingin memberi ruang privasi dan rasa nyaman pada Jenna. Karena terkadang apa yang menurut kita benar, belum tentu orang lain menerimanya.
Usai makan malam, Lestari dan Abyan langsung menuju kamar mereka untuk istirahat, pekerjaan membuat mereka ingin cepat-cepat membaringkan tubuh ke tempat tidur.
Jenna melakukan hal yang sama dengan kedua orang tua angkatnya, tidak terkecuali dengan Aksa.
Perginya gadis manis itu ke lantai atas menuju kamar, membuat perasaan Aksa sedikit tidak nyaman.
__ADS_1
Entah apa yang pria tampan itu pikirkan.
🍃🍃🍃🍃🍃