Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 6 ~ Jujur!


__ADS_3

Aksa terus memandangi wajah cantik alami Jenna, semarah dan sekesal apapun gadis itu tetap saja tidak bisa mengalihkan pandangan Aksa.


Menurut Aksa, setiap kali Jenna marah atau pun kesal terlihat lucu dan sangat menggemaskan.


Pipi chubby Jenna akan mengeluarkan semburat merah ketika ia mulai membahas masalah lamaran yang berkali-kali di tolak Jenna.


Pernah sekali Aksa nekat membawa Jenna ke salah satu orang yang biasa menikahkan setiap pasangan kekasih yang tidak mendapat restu orang tua atau dalam keadaan mendesak, Jenna yang sadar dengan nekat memukuli Aksa habis-habisan tanpa peduli sudah sesakit apa tubuh Aksa.


Hanya karena kegilaan Aksa yang menjadi kesal lamarannya selalu saja di tolak, alhasil ia malah mendapat masalah yang tidak terduga.


Jenna mendiaminya hampir dua bulan lamanya tanpa ada komunikasi sama sekali, segala permohonan maaf Aksa di abaikan Jenna saking kesal dan marah.


Satu jam kemudian semua soal-soal di kerjakan Jenna akhirnya selesai juga, dia sampai bernapas lega kali ini waktunya tidak terlalu malam.


"Akhirnya selesai juga," seru Jenna merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa mulai kaku.


Gadis manis itu menoleh kearah samping di mana Aksa duduk tenang dan tidak lagi mengganggunya.


"Abang ganteng," panggil Jenna pelan.


Merasa namanya di panggil, Aksa mengangkat wajahnya yang semula tengah sibuk bermain ponsel.


"Ada apa?" sahut pria tampan itu bertanya.


Fokus matanya tertuju pada lembaran kertas yang dibereskan Jenna.


"Nih, Jenna sudah menyelesaikan semuanya." Jawab Jenna seraya merapikan kembali lembaran demi lembaran soal lengkap dengan jawabannya


Rasa lelah dan kantuk mulai gadis itu rasakan, yang dia butuhkan sekarang adalah ranjang empuk ternyamannya.


"Yakin sudah semuanya?" tanya Aksa memastikan.


"Kalau ngga percaya periksa saja! Soal-soal gampang begitu mana bisa ada yang salah," balas Jenna mulai bangkit dari karpet bulu.


Rasanya dunia seakan berputar ketika gadis manis itu sudah berdiri tegak, kelamaan duduk dengan kaki di lipat nyatanya kurang baik.


"Abang keluar sana! Tuh ambil semua pekerjaan Abang dan jangan ganggu Jenna lagi!" cebik Jenna dengan tanpa perasaan mengusir Aksa dari dalam kamarnya.


Siapa yang tidak akan di liputi kekesalan bila hampir setiap malam Jenna selalu di beri tugas mengerjakan semua soal-soal yang seharusnya bukanlah pekerjaannya.


Jenna yakin pasti ada yang tidak beres dengan otak sang Abang, hampir setiap hari ada saja yang membuatnya pusing.

__ADS_1


"Jangan kasar-kasar bicaranya Aira, kalau Abang sudah nggak ada baru kamu menyesal." Sahut Aksa dengan nada lembut tidak lupa seulas senyum terukir indah di wajah tampannya


Jenna tidak menggubris ucapan Aksa yang menurutnya tidak lah penting, baginya sekarang tidur lebih menggoda.


"Abang pergi ya, semoga mimpi indah gadis pemarah." Pamit Aksa masih setia menatap lembut ke arah ranjang di mana Jenna berada


"Hmm, Abang juga cepat tidur." Sahut Jenna antara sadar dan tidak


Rasa kantuk yang luar biasa membuat gadis manis itu cepat-cepat berbaring di atas tempat tidur.


"Selamat malam penyejuk hati."


Aksa mendekat kearah meja dekat sofa panjang.


Usai merapikan lembaran soal yang Jenna kerjakan, pria itu keluar sembarimenutup pintu kamar Jenna secara perlahan.


Sementara di balik selimut yang menutupi seluruh badan, Jenna masih dalam keadaan setengah sadar.


Matanya tertutup, namun apa yang di katakan Aksa barusan sangat jelas terdengar di telinganya.


Karena rasa kantuk yang teramat dalam membuat Jenna langsung terlelap menuju alam mimpi, semoga dia tidak sampai bangun kesiangan lagi yang membuat Lestari kembali berteriak di dalam kamarnya.


#Pagi Hari


Entah apa yang ingin di katakan wanita cantik itu mengingat sangat jarang Jenna mendapati Mama angkatnya mau mengantarnya pergi kuliah.


Usai sarapan, Aksa memang sengaja berangkat lebih dulu tampa menunggu gadis kesayangan sang Mama selesai makan.


Pria tampan itu masih pagi sudah di minta Lestari agar tidak berangkat ke kampus bersama dengan Jenna.


Mau tidak mau Aksa menurut saja dari pada nanti hanya akan menimbulkan perdebatan.


.


.


#Di Dalam Mobil


Jenna duduk tenang di samping sang Mama yang begitu setia mengusap lembut surai panjang gadis manis itu.


"Adek," panggil Lestari lembut tanpa melepaskan tangannya dari kepala Jenna.

__ADS_1


"Iya Mama," sahut Jenna sembari mengangkat wajahnya agar terlihat.


"Mama mau tanya sesuatu boleh?" tanya Lestari tiba-tiba.


"Soal apa, Mah?" Jenna penasaran dengan apa yang akan di tanyakan sang mama.


Lestari diam sejenak sebelum menjawab.


"Tapi Jenna harus janji akan jawab jujur!" pinta Lestari begitu serius seolah tidak ingin ada bantahan.


Tawa gadis manis itu langsung pecah mendengar nada tegas sang mama.


"Mama kayak lagi ngomong sama orang lain saja tahu nggak, sampai harus minta Jenna jujur dengan cara di ancam lagi." Kekeh Jenna merasa ada yang aneh dari sikap Mama Lestari


"Idih, Mama benar serius sayang." Kesal wanita cantik itu tidak suka putri angkat kesayangannya malah tertawa


Jenna langsung menghentikan tawanya.


"Iya, iya. Mama mau nanya apa? Jenna pasti jawab jujur kok." Ucap gadis manis itu mengalah


Mendengar sang putri mulai serius, barulah Lestari memberanikan diri untuk bertanya.


"Begini sayang. Mama tanya sama Adek, apa selama ini Adek nggak pernah sedikit saja mau membuka hati buat Abang?" tanya Lestari begitu serius tanpa ada candaan seperti biasanya.


"Biar bagimana pun kalian sudah hidup dalam satu atap yang sama, apa tidak ada rasa itu muncul di hati Adek?" tambahnya.


DEG


Jantung Jenna berdetak kencang mendengar pertanyaan yang sebenarnya sudah lama di hindarinya, tetapi hari ini justru Mama Lestari menanyakan hal itu.


"Kok diam sih sayang, jawab yang jujur! Biar Mama tenang nggak harus mikirin kalian berdua terus," Lestari menatap intens wajah putih mulus putri angkatnya yang terlihat bingung.


"Mama kenapa tiba-tiba nanya soal itu?" hati Jenna tidak karuan bingung mau jawab apa ketika perkara hati mulai di pertanyakan.


"Ya, Mama mau tahu saja sayang. Dua tahun loh Adek, selama dua tahun Abang menunggu jawaban. Apa kamu nggak kasihan lihat Abang kayak gitu?" terang Lestari sedikit mengiba.


Jenna tahu akan ada saat dimana Ibu dari pria tampan yang selalu mengutarakan niat baik padanya akan bertanya perihal lamaran tersebut.


"Mah, sebelumnya Jenna minta maaf selama ini selalu nolak niat baik Abang. Bukan maksud Jenna menyakiti perasaan Abang, hanya saja Jenna harus benar-benar meyakinkan hati Jenna sudah siap nerima Abang atau belum. Mama 'kan tahu sendiri gimana sayangnya Jenna sama Abang, tapi Mama mau ya, kasih Jenna waktu buat ambil keputusan." Tutur Jenna bicara jujur apa adanya


Lestari hanya bisa menghela napas pelan, mungkin dia terlalu khawatir akan perasaan putranya.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2