Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 13 ~ Ampun


__ADS_3

#Flashback On


Tatapan mata tajam Aksa menusuk hingga ke dalam hati Jenna.


Setelah perdebatan hebat antara gadis itu dengan sang sahabat Amira sewaktu di dalam ruangan, tepat satu jam kemudian Aksa meminta Amira pergi ke ruangannya untuk di mintai keterangan.


Jika bukan karena hasutan aneh dari Amira sewaktu keduanya usai berdebat, mungkin Jenna tidak akan nekat memanjat jendela yang berada dalam ruangan kelas.


Amira mengajari hal yang bisa saja merenggut nyawa mereka berdua, dan Aksa tentu tidak terima dengan kenakalan yang di perbuat gadis itu.


Terlebih masalah ini nyaris menggemparkan hampir seluruh kampus, bukan Aksa tidak mau memberikan penjelasan mengenai kenekatan kedua anak gadis itu, jauh lebih baik ia sendiri yang akan menyelesaikan semuanya tanpa campur tangan dari siapapun.


Kini di dalam ruangan Aksa, sudah ada Amira dan Jenna duduk manis di sofa panjang yang langsung berhadapan dengan pria itu.


Kedua anak gadis tersebut diam menunduk tidak berani menatap ke arah Aksa, bagai pisau tajam yang siap menghunus jantung ketika Amira tidak sengaja melihat tatapan tajam Aksa melalui ekor matanya.


Bisa di pastikan semarah apa pria tampan itu pada Amira, salahkan saja dia yang tidak bisa menjaga emosi sesaat.


"Amira, cukup ini pertama dan terkahir kalinya kamu mengajari hal gila pada Aira. Jangan sampai aku melihatnya untuk yang kedua kalinya, PAHAM?" Ucap Aksa setelah hampir setengah jam mereka terdiam


Melihat tatapan tajam Aksa membuat nyali Amira menciut, ini pertama kalinya gadis itu berhadapan langsung dengan pria tampan yang begitu menyayangi sang sahabat, Jenna.


"Maaf Kak Aksa, tadi itu sebenarnya Amira cuma iseng ajah. Tapi malah di anggap Jenna serius, mana Amira tahu kalau ternyata Jenna nekat duduk di sana." Sahut Amira gugup tidak berani mengangkat kepalanya walau sebentar


Katakan saja Jenna yang nekat tanpa takut akan resiko yang di dapat gadis itu, apapun yang membuatnya penasaran pasti akan di coba.

__ADS_1


"Aku tidak akan marah sampai harus menegur mu andai masalahnya tidak seserius ini Amira, lebih baik kamu pulang sekarang! Biar aku yang akan bicara pada Dosen lainnya." Tutur Aksa meminta gadis yang menjadi satu-satunya sahabat dari kesayangannya itu pulang


Bukan Aksa namanya jika masalah tersebut langsung di lupakannya begitu saja, terlebih ia sangat yakin kabar mengenai Jenna sudah pasti sampai ke telinga sang mama.


#Flashback Off


.


.


Dalam perjalanan pulang tampak kedua anak manusia tersebut masih saling diam, tidak ada yang mau buka suara sekedar obrolan ringan demi menghilangkan rasa bosan.


Aksa dengan akal jahilnya mau memberikan hukuman apa pada gadis nakalnya itu, sedangkan Jenna sengaja diam karena takut melihat raut wajah dingin tidak bersahabat dari sang Abang.


"Tuan muda, kita sudah sampai." Reru Pak sopir setelah mobil terparkir indah di halaman depan rumah


"Mau kemana?" tanya pria itu.


"Mau keluar lah, 'kan kita sudah sampai rumah." Jawab Jenna santai


"Paman boleh keluar sebentar? Ada yang mau Aksa omongin dengan Aira." Pinta Aksa tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Jenna


Sang sopir hanya mengangguk paham, kemudian bergegas keluar dari dalam mobil.


"Abang mau ngomong apa?" tanya Jenna langsung.

__ADS_1


Belum sempat gadis manis itu kembali buka suara, tiba-tiba dia merasakan salah satu jarinya seperti di tusuk jarum.


"Kyaaaa, Abang ngapain gigit tangan Jenna?" pekiknya lumayan kuat seraya menatap tangan kanannya yang di genggam Aksa kuat.


"Abang lepas, ihh. Sakit tahu," mohonnya masih berusaha menarik keluar jemarinya dari mulut pria itu.


Aksa seolah mendadak tuli tidak mendengarkan rengekan dan teriakan yang keluar dari mulut Jenna, sejak tadi ia berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak marah. Tetapi, kepalanya sangat pusing dan terasa penuh.


"Huaaa, Abang nakal ihhh. Jangan di gigit nanti Jenna nulisnya susah," jeritan lirih Jenna semakin kuat.


Satu menit, dua menit, tiga menit.


Sampai sepuluh menit lamanya baru Aksa melepas jemari gadis itu dari mulutnya, ada rasa kasihan ketika melihat salah satu jari lentik Jenna mulai memerah dan ada tanda gigitan.


"Abang jahat," kesal Jenna menatap nanar jarinya yang merah dan memiliki tanda gigi milik Aksa.


"Coba ulang! Barusan ngomong apa?" sahut Aksa ternyata mendengar apa yang gadis itu katakan.


"Hehe, ampun. Abang Jangan marah mulu ihh" balas Jenna cengengesan.


Gadis itu sadar akan ucapannya barusan, namun sedetik kemduian Aksa kembali menghukumnya.


"Ampun Abang, jangan lagi." Pekik Jenna yang lagi-lagi jemarinya di gigit oleh pria itu


Tanpa keduanya sadari ternyata sejak tadi sepasang mata tajam menatap murka dari arah tidak jauh dengan posisi mobil yang terparkir.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2