
Jenna menatap lama wajah tampan Aksa yang lima tahun ini terus menghantuinya, sebab mereka tinggal serumah.
"Abang yakin tetap bertahan meski nantinya apa yang Jenna katakan bisa saja menyakiti hati Abang?" seru gadis itu bertanya.
"Jenna tidak yakin masa lalu yang selama ini tertutup rapat harus di ceritakan kembali bisa Abang terima," tambahnya lirih menatap hamparan bunga di taman.
Sebagai anak perempuan dengan masa lalu teramat suram kadang kala menjadi beban terberat baginya, sesekali tanpa sengaja teringat kembali akan kejadian yang membuatnya nyaris bunuh diri sungguh menyiksa.
Akan tetapi, demi masa depannya yang mulai berhasil keluar dari zona nyaman setelah bertemu dengan keluarga pengusaha kaya raya tersebut. Jenna harus bisa melawan traumanya akan keberadaan lawan jenis, terlebih kemunculan Aksa dalam hidupnya sedikit demi sedikit mampu menghilangkan ketakutan dan keraguan untuk melangkah maju.
Tidak ada yang salah dalam masalah keinginan untuk di cintai dan di sayangi dengan tulus bukan?
Sebab hanya itu yang Jenna butuhkan sekarang, namun jika Aksa bukan orang yang dia maksud selama ini mampu menyembuhkan lukanya mungkin kedepannya nanti tidak akan ada lagi pria baik yang dia percaya.
Pletak
Dengan tidak berperasaan Aksa menyentil dahi Jenna yang melamun.
"Sakit Abang ..." kesalnya menatap tajam ke arah pria tampan itu.
"Tidak baik melamun di siang bolong, sayang. Nanti mataharinya cemburu," ucap Aksa dengan kekehan.
"Apa hubungannya coba," dengus gadis itu kesal mendadak hilang keinginannya untuk berbicara.
"Jelas ada lah, memangnya kamu ngga kasihan lihat matahari sedari tadi kalah jauh sama keindahan yang terpancar lewat matamu itu?" goda Aksa sebenarnya asal bicara saja.
"Idih, Abang aneh tahu ngga ..." Jenna merasa ada yang tidak beres dengan otak pria itu.
__ADS_1
"Ckck, ngga asyik banget kalau becanda dengan anak kecil." Cebik Aksa menggeleng pelan
"Hey, Jenna dengar ya ..." sentak Jenna.
Cukup lama keduanya saling melempar candaan yang sebenarnya di jadikan pengalihan oleh Aksa biar gadis itu merasa tenang.
"Ok, waktunya Jenna cerita. Abang dengar ya ..."
Aksa mengangguk paham sebagai tanda ia siap mendengarkan.
Perlahan Jenna mulai menceritakan semuanya, mulai dari kehidupan masa kecilnya yang tidak baik-baik saja karena menjadi korban Broken Home sampai kehidupannya menjelang dewasa yang penuh dengan luka mendalam.
Semua yang pernah gadis itu lalui tidak ada yang terlepas dari luka bathin karena menahan malu dan fitnah dari orang-orang di sekitarnya.
Jenna pernah di fitnah tidak suci lagi hanya karena pernah di pergoki tengah bersama dengan beberapa pria yang sejujurnya pada saat itu mereka ingin membunuhnya, hanya saja kalah cepat dengan kerumunan masa yang datang bersamaan.
Sebuah fitnah yang berujung hampir saja di lecehkan anggota keluarganya sendiri ketika beritanya sudah tersebar luas, waktu itu Jenna berhasil menjaga kehormatannya tetapi tidak dengan bagian tubuhnya yang sempat di sentuh oleh kakak sepupunya tersebut.
Karena marah dan dendam mulai menyelimuti hatinya sampai niat membunuh terbesit di otaknya, menjadikan Jenna sebagai pelaku nyaris menghilangkan nyawa sang sepupu yang berakhir dengan putusnya hubungan keluarga antara dirinya dengan keluarga besar ayahnya.
Dari situ kehidupan Jenna berubah total yang semula merupakan sosok ceria, baik hati, penuh perhatian dan sangat cerewet menjadi pendiam dan menjauh dari dunia luar.
Kehadiran orang tuanya pun bagai angin lalu yang hanya menjadi penyebab takdir hidupnya berantakan, dijauhi teman dan sebagian orang hanya karena menilai dari sisi yang menurut mereka benar.
Kedua tangan Aksa mengepal kuat dengar air mata yang mengalir tanpa di minta, ia tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu menimpa gadis manis kesayangannya.
Dalam hatinya mengutuk semua orang yang pernah menyakiti Jenna terutama pria brengsek yang hampir saja merenggut kesucian gadis itu.
__ADS_1
"Maaf Abang, masa lalu Jenna sangat buruk. Jenna tidak ingin Abang menanggung malu hanya karena memilih Jenna sebagai pendamping hidup Abang." Ucap gadis itu lirih menahan isak tangis tanpa henti
"Jenna malu, bukan suami Jenna yang pertama kali melihatnya. Jenna ..."
Aksa menarik tubuh bergetarnya masuk dalam pelukan.
"Sssttt, cukup! Jangan di teruskan lagi, hmm." Pintanya dengan emosi tertahan ikut merasakan kesakitan yang di alami Jenna
Jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa detik melihat betapa dalamnya luka melalui sorot mata sendu gadis itu.
Ia tidak tahu harus berkata apa, hanya dengan membayangkan kejadian yang di alami Jenna membuat darahnya langsung mendidih siap membunuh pria brengsek yang berkedok kakak sepupu tersebut.
Perlahan Aksa mengangkat wajah sembab penuh air mata Jenna, menatap lekat mata indah yang selalu membuatnya terpesona, timbul rasa ingin memiliki dan melindungi.
"Tatap mataku!"
Masih dengan air mata yang mengalir tanpa mau berhenti Jenna menatap kedua mata teduh milik pria itu.
"Abang ..." jantungnya berdetak kencang merasakan kecupan hangat di keningnya penuh sayang.
Semenit kemudian Aksa kembali menatap lekat wajah cantiknya yang bersemu merah.
Ada desiran aneh menjalar di hati Jenna mendapati pria tampan yang selama ini menjadi alasannya melupakan masa lalu tengah tersenyum hangat.
Air matanya kembali tumpah kala satu kalimat penuh ketulusan terucap indah lewat bibir tipis kemerahan milik Aksa.
"Cukup ingat aku! Lupakan yang pernah terjadi anggap semuanya hanya bunga tidur, jadikan aku pengobat luka bathin dan trauma mu selagi nafasku belum terhenti."
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃