
Setelah memastikan Jenna benar-benar yakin dan sudah berjanji tidak akan kemana-mana barulah Aksa mulai menceritakan perihal kondisi kesehatannya.
Gadis manis itu tetap diam sembari mendengarkan semuanya tanpa memotong pembicaraan, dari apa yang dia ketahui sekarang ini masalah kesehatan sang Abang mulai memburuk.
Adanya benturan keras di bagian kepala akibat sebuah kecelakaan yang menimpa Aksa sekitar enam tahun yang lalu rupanya memiliki efek samping seperti mudah pusing dan merasakan sakit kepala.
Itu sebabnya kadang kala ia mudah jatuh pingsan, tidak boleh lelah apalagi sampai banyak pikiran.
Jenna tidak mampu menahan air matanya agar tidak menetes keluar, ada rasa bersalah hinggap di hatinya kala mengingat selama ini sikapnya terhadap pria tampan itu selalu ketus.
"Maafkan Jenna, seharusnya Jenna tidak memperlakukan Abang sesuka hati." Tangisnya langsung pecah ketika Aksa menariknya untuk di peluk
Perjuangan yang tidak mudah bagi satu-satunya putra Lestari dan Abyan tersebut selama dua tahun lebih, dalam menghancurkan benteng besar pertahanan Jenna, rasa sabar dan keyakinan kuatlah yang mampu membawanya sampai ke titik sekarang.
"Tidak perlu minta maaf, kamu ngga salah apa-apa sama Abang." Bisik Aksa pelan menenangkan gadis manis kesayangannya itu
"Bukannya sesuatu yang baik itu butuh perjuangan besar? Abang rasa selama ini cukup melihat mu tersenyum bahagia tanpa menyimpan beban dalam hati jauh lebih berarti, di bandingkan harus menyaksikan air mata keluar membasahi wajah cantik mu bagi Abang sangat menyiksa." Ungkapnya lirih ikut meneteskan air mata
Jenna menggeleng pelan seraya mengusap kedua mata pria tampan itu penuh kelembutan, bukan air mata kesedihan yang dia inginkan melainkan senyum bahagia.
"Jangan pernah meneteskan air mata kesedihan sebab aku tidak menyukainya, bukankah sekarang keinginan dan doa Abang selama ini telah terwujud?"
__ADS_1
"Tapi ..." bibir tipis kemerahan Aksa langsung di bekap Jenna menggunakan telapak tangan kanannya.
Untuk sekarang gadis manis itu tidak ingin mendengar apapun yang membuatnya semakin sedih apalagi merasa bersalah.
"Stop membicarakan sesuatu yang tidak penting, Abang!" ucap tegas Jenna menatap tajam Aksa.
"Abang harus istirahat sekarang, biar sakit kepalanya berkurang."
Dengan pasrah Aksa membiarkan gadis manis itu membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, benar apa yang Jenna katakan. Sakit di kepalanya masih terasa bahkan rasa pusing mulai menyerang, akan jauh lebih baik bila ia segera istirahat.
Sepuluh menit kemudian Jenna keluar dari dalam kamar Aksa menuju lantai bawah, dia yakin pasti sekarang kedua orang tua angkatnya sudah menunggunya di ruang keluarga.
Pintu lift terbuka, dengan segera gadis manis itu melangkah cepat menuju ruang keluarga.
Lestari yang melihat kedatangan sang putri tercinta langsung bangkit dari tempat duduk, senyum hangat menghiasi wajah cantiknya setelah berhasil memeluk sayang Jenna.
"Abang?" tanyanya langsung.
"Udah tidur, Jenna kemari sebab ada yang mau Jenna bicarakan dengan Mama dan Papa." Jawab Jenna
"Duduk sini, Dek!" pinta Papa Abyan sembari menepuk sisi kosong di sampingnya.
__ADS_1
Jenna menganggukan kepalanya ikut duduk tepat di samping pria tampan mirip Aksa tersebut.
"Gimana, apa Abang udah cerita sama Adek?" kali ini Papa Abyan yang bertanya.
"Iya, Pah. Hanya saja Jenna melarang Abang untuk tidak berbicara lebih banyak lagi, khawatir jangan sampai mempengaruhi kesehatan Abang." Gadis manis itu menjawab seraya menatap sendu kedua mata Papa Abyan
"Apa sakit yang Abang derita sangat parah?" lanjutnya bertanya.
Papa Abyan menggeleng pelan di ikuti Mama Lestari yang sudah berpindah duduk di samping putri angkatnya tersebut.
"Tidak sayang, semua masih dalam kondisi normal. Hanya saja ... kata Dokter keluarga kita sebisa mungkin untuk membujuk Abang pergi berobat keluar negri, tetapi Abang malah--,"
Pria itu tidak lagi meneruskan kalimat terakhir melihat Jenna yang menggeleng pelan.
Gadis itu tahu betul apa yang menyebabkan Aksa sampai detik ini tidak mau berobat, semua karena dirinya yang begitu berarti dalam hidup pria tampan itu.
Antara takut bila harus terpisah jauh atau menunggu sampai Jenna siap ikut bersamanya.
"Papa dan Mama ngga perlu khawatir soal Abang, bisar Jenna sendiri yang akan membujuknya. Bila perlu ... Jenna akan ikut bersama Abang berobat keluar negri."
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1