Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 11 ~ Ada Yang Ganjil


__ADS_3

Seminggu telah berlalu.


Dimana masalah Aksa dan Jenna yang hampir membuat Lestari murka, namun pada akhirnya mereka setuju juga untuk berdamai.


Aksa dengan kerelaan hati meminta maaf atas segalah kekonyolan yang sering ia perbuat pada Jenna, bahkan pria tampan itu juga sudah berjanji tidak akan lagi mempersulit si cantik kesayangan Mama Lestari.


Tepat hari ini, semuanya kembali lagi seperti semula. Namun ada yang ganjil tengah di rasakan oleh gadis cantik dengan segudang prestasi tersebut.


Seminggu sudah berlalu dan selama itu juga Jenna tidak lagi mendapat hukuman dari pria tampan yang sering di panggilnya dengan sebutan Abang.


Aksa benar-benar menepati ucapannya, tidak ada lagi hukuman menghapal Surah seperti biasanya dan tidak ada lagi tumpukan soal-soal yang hampir tiap malam di minta pria itu untuk segera di kerjakan oleh Jenna.


Semuanya hilang bagai di telan bumi, bahkan sikap Aksa pun beberapa hari terakhir ini terlihat dingin dan cuek.


Hal itu membuat hati dan pikiran Jenna tidak karuan dan campur aduk.


"Woyy, ngelamun ajah kerjaan nih anak dari tadi," seru Amira yang duduk di samping Jenna.


Gadis yang biasanya selalu tenang ketika bersama Jenna itu, mendadak langsung berubah menjadi cerewet melihat sang sahabat lebih banyak melamun dan suka berdiam diri di dalam kelas.


"Kamu kalau ada masalah apa cerita sama aku, jangan malah diam kayak gini." Tegur Amira sedikit kesal


"Jangan bilang ini ada hubungannya dengan Abang tampan kamu itu? Secara kan, beberapa hari ini kamu ngga lagi tuh aku lihat di kasih hukuman kayak biasanya."


Amira benar-benar sengaja menyebut Aksa tanpa tahu sudah sekesal apa sahabatnya itu.


"Oh iya, tadi pas aku ke ruangan Pak Arfat ngga sengaja ketemu sama Kak Aksa. Tapi kok sikapnya kayak beda gitu?"


"Atau jangan-jangan lagi putus cinta kali ya, Naa?" Tebak Amira yang langsung mendapatkan cubitan panas dari Jenna di lengannya


"Kalau ngomong kira-kira dulu Ra, emang kamu pernah dengar kalau Abang Aksa punya kekasih?" protes Jenna tidak terima dengan ucapan sahabatnya itu.


"Abang tuh cuma dekatnya sama aku doang, ngga ada tuh aku dengar atau lihat Abang jalan sama cewe lain dengan kedua mataku sendiri." Tambahnya mulai kesal

__ADS_1


Amira yang masih meringis kesakitan menatap tajam ke arah tersangka yang sudah membuat tanda merah di kulit putih mulusnya.


"Kamu tuh kalau becanda jangan main cubit ajah bisa kan? Aku perawatan susah payah biar ngga ada yang kurang. Eh, kamu malah bikin badan aku lecet." Omelnya tidak pernah merasa takut padahal kedua mata sahabatnya itu hampir keluar dari tempatnya


"Lah kenapa jadi kamu yang ngegas kayak gini sih? Lagian aku cubitnya ngga sampai buat lengan kamu berdarah juga kan?" balas Jenna tidak kalah ikut meninggikan nada bicaranya.


Tanpa di sadari, perdebatan keduanya sukses memicu perhatian beberapa mahasiswi yang kebetulan lewat di depan ruang kelas.


Tidak ingin terjadi pertengkaran membuat salah satu dari mereka nekat mencari Dosen tampan yang biasa di juluki Jenna dengan panggilan Dosen galak.


"Cepat cari Kak Aksa! Jangan tunggu nanti ada yang masuk rumah sakit baru bergerak," teriak seorang mahasiswi yang kebetulan lebih dulu melihat kedua gadis itu bertengkar.


Seorang mahasiwa langsung berlari cepat menyusuri koridor kampus demi mencari sosok yang paling di butuhkan.


Beruntung orang yang di cari baru saja keluar dari ruangannya dan berencana akan menuju ruang kelas tempat dimana Jenna dan Amira masih saling menyalahkan.


"Kak Aksa, gawat." Teriak mahasiswa tersebut saat sampai di hadapan Aksa


Pria tampan itu mengenyeritkan dahinya bingung, melihat salah satu teman kelas Jenna berlari ke arahnya dengan raut wajah panik.


"Gawat Kak Aksa, lagi ada keributan di ruangan A." Lapor pria itu pada Aksa membuat sang empu keheranan


"Siapa yang membuat keributan?" tanyanya memastikan apa yang barusan di katakan mahasiswa tersebut.


"Itu tadi, pas saya dan teman-teman yang lain mau masuk ke kelas, tidak sengaja kami lihat Amira dan Jenna lagi adu mulut." Jelasnya dengan nafas tidak beraturan


"Maksudnya, adu mulut bagaimana Kafi? Kalau ngomong itu yang jelas sedikit," gemas Aksa ingin sekali menjitak kepala pria itu.


Aksa sebenarnya memang berniat ingin menemui Jenna di ruang kelasnya, tetapi mendengar mahasiswa itu memberitahu jika gadis manis kesayangannya sedang bertengkar, semakin membuatnya kebingungan.


"Aduh belibet dah urusannya, lebih baik Kak Aksa ikut Kafi ajah kesana biar langsung lihat sendiri noh dua cewek bar-bar masih pada adu mulut."


Bukannya menjelaskan, Kafi malah menarik paksa lengan Aksa menuju ruangan dimana gadis incarannya berada dan katanya lagi berantem.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju ruang A, jantung Aksa sepertinya sangat sulit di ajak kerja sama. Bagaimana tidak, hampir seminggu ini ia tidak lagi banyak menjalin komunikasi dengan Jenna.


Abang harap kamu ngga akan marah kalau kita bertemu nanti. Bathin Aksa penuh harap


.


.


Sementara di ruangan kelas yang menjadi tempat Jenna dan Amira saling berdebat, tampak di luar ruangan mulai banyak mahasiswa dan mahasiswi mengerumuni mereka dan berdesakan ingin menyaksikan dua gadis itu saling adu mulut.


"Biasa ajah kalau ngomong Ra, perasaan aku nyubit masih pake perasaan bukannya ngga." Kesal Jenna mulai kehilangan kendali


Sudah tahu hati dan pikirannya sedang dalam keadaan kacau balau, tetapi sang sahabat justru malah ingin mencari masalah dengannya.


"Bodoh amat. Aku nggak mau tahu sekarang juga kamu harus minta maaf yang benar," hardik Amira masih mempermasalahkan cubitan yang sejujurnya tidak terasa sakit sama sekali tersebut.


"Kamu aneh deh, Ra. Mau kamu harus gimana lagi aku minta maafnya? Bukannya aku udah minta maaf sampai nih bibir rasanya mau copot?" sanggah Jenna tidak suka masalah sekecil itu malah di perbesar.


Amira tersenyum mengejek, tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Kalian jangan berantam lagi bisa kan?"


"Iya nih, mana sebentar lagi ada M.K susulan. Kalau sampai ada yang melaporkan kalian berdua pada Kak Aksa memangnya tidak takut?"


"Amira jangan keras kepala bisa kan? Lagian cuma di cubit dikit gitu kenapa harus di perbesar juga."


"Kalian berdua itu sahabat, tidak baik bertengkar hanya karena masalah sepele."


Jenna mungkin saja mendengarkan apa yang di katakan teman-temanya, tetapi tidak dengan Amira.


Masalah sekecil apapun pasti akan di perbesar, membuat orang lain bisa saja menaruh benci pada gadis itu.


Akan tetapi, Amira tetaplah Amira. Sudah terlanjur basah tinggal mandi sekalian.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2