Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 16 ~ Cuma Perasaan


__ADS_3

Tepat jam makan malam selesai, Aksa memberanikan diri menemui Jenna di dalam kamar gadis itu.


Tok tok tok


Ketukan pintu lumayan keras di lakukan Aksa, sebab ia tahu bagaimana kebiasaan Jenna bila sudah asik menonton drama korea atau membaca sebuah novel.


Dari arah dalam kamar terdengar suara gadis itu yang bertanya.


"Siapa?" teriaknya lumayan kuat.


"Ini Abang," sahut Aksa dari depan pintu kamar Jenna.


Pria tampan itu tidak lagi mendengar suara dari sang pemilik kamar, mungkin Jenna sedang berjalanan menuju pintu yang sengaja di kunci rapat.


Klek!


Terdengar bunyi suara kunci yang di putar dari dalam.


Ceklek!


Saat pintu terbuka lebar, wajah cantik alami milik Jenna lah yang pertama kali di lihat Aksa.


"Ehh, Abang kok mengkhayal sih?" tegur Jenna saat melihat tatapan mata Aksa seolah tidak berkedip.


"Abang," panggilnya lagi seraya menepuk lengan sebelah kanan Aksa.


Jenna tahu betul apa yang sedang di pikirkan pria tampan itu.


"Aaa, maaf sayang. Tadi Abang refleks ngga sengaja," sahut Aksa dengan kekehan demi menghilangkan perasaan malu karena tertangkap basah.


"Ckck, ngga usah bohong. Jenna tahu pasti Abang lagi mikirin yang tidak tidak tentang Jenna kan?" selidik gadis itu menatap curiga ke arah Aksa.


Yang di tatap bukannya takut melainkan kesenangan bukan main, pada akhirnya ia bisa kembali berbicara banyak dengan gadis manis di depannya itu.


"Memangnya tidak boleh?" goda Aksa mengedipkan sebelah matanya pada Jenna.


Kedua pipi gadis itu mulai mengeluarkan semburat merah, jujur beberapa hari ini Jenna rindu akan hukuman dan kejahilan yang di lakukan Aksa.


Melihat tidak adanya kemarahan yang di perlihatkan pria itu, membuat Jenna yakin bila masalahnya di kampus tadi siang bukan menjadi masalah besar.

__ADS_1


Toh dia sudah menerima hukumannya, bukan hanya dari sang Abang yang memarahinya habis-habisan. Tetapi Jenna ikut mendapat hukuman yang di berikan Lestari, sang Mama.


"Iiihh, jadi pengen peluk Abang ganteng ini sih." Pekik Jenna langsung berhambur masuk ke dalam pelukan Abang angkat kesayangannya tersebut


Bohong bila gadis itu tidak merindukan sosok pria tampan di hadapannya sekarang.


Ciuman penuh kasih sayang di berikan Aksa hampir ke seluruh bagian wajah gadis itu, kecuali di area bibir.


Jangan coba-coba berlaku nekat jika tidak ingin mendapatkan hukuman dari wanita cantik kesayangan mereka.


Aksa mengurai pelukannya pada tubuh sedikit berisi Jenna setelah mengingat apa sebenarnya tujuan ia datang menemui gadis itu.


"Kenapa?" tanya Jenna menatap polos wajah tampan sang Abang.


"Abang lupa kalau tadi itu mau mengatakan sesuatu," jawab Aksa dengan kekehan.


Ia tarik lengan Jenna agar masuk ke dalam kamar.


"Ada apa sih, Bang?" tanya gadis itu lagi setelah keduanya sudah duduk di sofa panjang depan TV.


"Ini soal Mama." Jawab Aksa sembari membuka tutup toples kecil berisi kue


"Mama kenapa? Apa ada masalah? Atau ada kabar dari kedua orang tua Jenna?" cerocos Jenna dengan pertanyaan beruntun.


Pletak


"Aww. Sakit Abang," keluh gadis itu meringis kesakitan.


Aksa tanpa dosa menjitak dahi Jenna yang pertanyaannya ngelantur tidak jelas.


"Sejak kapan kamu dengar Mama mau cerita soal mereka?" kesal Aksa mulai hilang selera saat potongan kue masuk ke dalam mulutnya.


Jenna meringis takut mendengar nada kekesalan yang keluar dari mulut sang Abang.


"Ya elah, gitu ajah marah." Cebiknya tanpa dosa membuat pria tampan di sampingnya menatap horor


"Coba ulangi lagi perkataan mu barusan!" titah Aksa tidak main-main.


Gleg

__ADS_1


Jenna sampai menelan salivanya kuat-kuat, melihat raut wajah tidak bersahabat dari Aksa.


Yah, salah lagi deh. De-sahnya pasrah di dalam hati


Sadar akan kesalahan yang barusan di buatnya, mau tidak mau Jenna harus mencari cara agar pria tampan itu tidak marah.


"Abang ganteng, kesayangannya Aira. Jangan marah ya, ya," mohon Jenna mengerjapakan kedua matanya sembari memperlihatkan puppy eyes di hadapan Aksa.


Hal itu sukses membuat jantung Aksa berdetak tidak karuan.


Blush.


Ya Allah, gemas bangat sih pengen gigit. Jerit pria itu dalam hati


Sumpah demi apapun Aksa benar-benar hampir saja kehilangan akal sehatnya, andai kesadarannya hilang.


"Abang jangan marah lagi yaa," rayu Jenna kembali melakukan hal yang sama.


"Kondisikan raut wajah mu itu sayang, jangan sampai Abang khilaf." Tegas Aksa setelah berhasil mengendalikan dirinya


#Ehh


Usai mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke kamar Jenna, tidak berselang lama pria itu keluar dari kamar menuju kamarnya sendiri.


.


.


Di lantai bawah sudah ada Lestari sedang menunggu di ruang keluarga bersama sang suami.


"Papa sadar ngga sih kalau Abang mulai bersikap tidak seperti biasanya?" heran Lestari melihat adanya perubahan dari sang putra.


"Mana ada sih, sayang? Perasaan Mama ajah kali, lagian mereka sudah akur lagi bukan?" Jawab Abyan sembari mengusap sayang punggung istrinya


"Issh, Papa kok gitu sih. Mama serius," kesal Lestari tidak suka akan respon yang di berikan suaminya.


"Sudah ya, mungkin cuma perasaan kamu ajah sayang, beranggapan kalau putra kita berubah." Kata Abyan sebenarnya malas menanggapi


Bukan hanya baru kali ini sang istri memiliki firasat tidak baik pada putra semata wayang mereka tersebut.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2