
Aksa tersentak kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir mungil calon istrinya tersebut.
Akan tetapi, belum sempat ia menjawab. Terdengar suara pemberitahuan dimana pesawat yang mereka tumpangi semenit lagi akan berangkat.
"Adek ngga usah mikirin aneh-aneh, OK?" bisik Lestari pelan berharap Jenna melupakan pertanyaannya perihal siapa gadis yang sempat bertemu dengannya.
"Sudah waktunya berangkat, kalian masuklah ke dalam pesawat!" seru Tuan besar Hansen mengalihkan fokus calon cucu menantunya tersebut.
Jenna tidak lagi bertanya apapun, memilih ikut bersama calon suaminya menuju pesawat.
Sebelum pergi keduanya berpamitan terlebih dahulu pada Lestari dan Abyan, beralih ke Tuan dan Nyonya besar Adhitama serta terakhir anggota keluarga besar Adhitama.
Banyak pesan yang Aksa maupun Jenna terima, semuanya di ingat sampai keduanya tiba di tempat tujuan.
Kebetulan disana sudah ada kerabat dari Mama Lestari yang menunggu kedatangan kedua anaknya, sebab itu mereka tidak perlu lagi merasa khawatir akan tinggal dimana.
.
.
.
Satu jam kemudian.
__ADS_1
Di dalam pesawat, Jenna memilih tidur agar rasa pusing tidak lagi dia rasakan.
Berbeda dengan Aksa yang sibuk membaca sebuah buku dengan sebelah tangannya mengusap lembut pucuk kepala calon istrinya tersebut.
Siapa sangka akan ada hari dimana keinginannya untuk pergi berobat keluar negri bersama gadis manis kesayangan yang berhasil menempati hatinya selama ini akhirnya terwujud.
Pria itu sangat bersyukur niat baiknya untuk menjadikan Jenna sebagai pendamping hidup di terima dengan baik oleh gadis kesayangannya itu.
Perjuangannya selama dua tahun lamanya tidak sia-sia, bahkan sekarang mereka telah resmi bertunangan.
Dan tidak lama lagi akan melangsungkan acara pernikahan setelah Jenna menyelesaikan kuliah nya.
"Terima kasih sudah memilih ku sebagai pendamping hidupmu," bisik pelan Aksa tepat di telinga pujaan hatinya tersebut.
Di luar dugaan, Jenna ternyata mendengar sangat jelas apa yang calon suaminya itu katakan. Membuatnya langsung membuka mata dengan tersenyum sangat manis.
Aksa tertawa pelan tidak menyangka gadis kesayangannya mendengar apa yang barusan ia katakan.
"Kirain masih tidur, habisnya Abang liat kayak nyenyak gitu." Kekehnya mencium sayang pucuk kepala Jenna
"Tadinya masih tidur, cuma kebangun pas Abang bisik-bisik." Cebiknya menatap pura-pura kesal pria tampan itu yang masih tertawa lepas
Melihat wajah masam Jenna yang ditekuk, Aksa panik langsung meminta maaf.
__ADS_1
"Abang lucu," kekeh Jenna tidak mampu lagi menahan diri agar tidak tertawa.
"Kenapa minta maaf, Abang ngga salah."
Merasa kasihan sudah membuat pria itu bersedih, Jenna meraih punggung lebar calon suaminya tersebut dan memeluknya sayang.
"Abang ngga suka," protes Aksa merenggut kesal masih dalam pelukan Jenna yang rasanya begitu nyaman dan menenangkan.
Keduanya mulai mengobrol ringan seputar kuliah, tidak ada yang lebih penting selain bagaimana caranya tahun depan Jenna harus bisa menyelesaikan pendidikannya.
.
.
Di tempat lain, atau lebih tepatnya kediaman Adhitama.
Mereka yang satu jam lalu kembali dari bandara setelah Jenna dan Aksa sudah naik pesawat, tampak serius membicarakan masalah yang sampai detik ini belum juga ada titik terangnya.
Tuan besar Hansen bersama istrinya duduk santai mendengarkan apa saja informasi yang di sampaikan sang putra.
Sementara Lestari begitu sibuk menenangkan anggota keluarga Adhitama yang masih tinggal karena sebuah alasan, yaitu keamanan kedua anaknya.
"Tidak bisakah kalian tenang walau sedikit saja?" kesal wanita cantik itu mulai kehilangan cara.
__ADS_1
"Biarkan Abang sendiri yang menghadapi gadis itu, bukankah mereka sangat suka mengganggu ketenangan Abang?" imbuhnya.
🍃🍃🍃🍃🍃