
Seluruh keluarga besar Adhitama tampak terkejut dengan pernyataan yang keluar dari mulut Lestari.
Beberapa di antara mereka sampai pindah tempat duduk berdampingan dengan Abyan yang memilih bungkam.
Mereka belum yakin mengenai calon menantu bungsu Adhitama yang masih kelihatan gadis kecil dan polos.
Bahkan Tuan besar dan Nyonya besar Adhitama ikut terkejut mendengar sang menantu ketiga berbicara.
"Kenapa pada liatin aku kayak gitu?" heran Lestari bergidik ngeri mendapati tatapan mata penuh selidik dari keluarga besar suaminya.
Abyan memanggilnya dengan bahasa isyarat sebelum pertanyaan demi pertanyaan mulai di layangkan semua orang.
"Duduk sini, Bang!" pinta Lestari setelah berhasil lolos dari tatapan penuh selidik semua orang.
Aksa menggandeng Jenna posesif tidak suka para sepupunya menatap gadis manisnya dengan tatapan yang entahlah.
"Jaga mata kalian!" hardik pria tampan kesayangan Tuan besar Adhitama penuh permusuhan.
Betapa kesalnya Aksa mendapati empat pria yang ketampanan mereka tidak kalah jauh dengannya seakan terpesona melihat Jenna.
"Abang," bisik Jenna menenangkan tidak lupa sebelah tangannya kini sudah berada di dalam genggaman tangan Aksa.
Gadis itu sebenarnya merasa tidak nyaman berada di antara keluarga besar dari kedua orang tua angkatnya, tetapi demi nama baik mereka mau tidak mau Jenna harus bertahan.
Terlahir dari keluarga yang tidak terkenal membuatnya sedikit canggung dan aneh.
"Bersikaplah biasa, kamu bukan orang lain di rumah ini," bisik Aksa sembari mengusap pelan punggung tangan Jenna yang di genggamnya.
Gadis itu menoleh ke arah samping demi bisa melihat wajah tampan Aksa yang tersenyum sangat manis.
"Jangan sembarangan senyum-senyum," protes Jenna menarik pelan wajah tampan Aksa dengan gemas.
"Abang cuma punya Jenna, senyumnya juga punya Jenna," tatapan mata gadis itu beralih ke arah tiga wanita cantik yang sedari tadi terus menatap Aksa penuh damba.
Bibirnya mengerucut tanda cemburu menyadari ada wanita cantik di keluarga besar Adhitama.
__ADS_1
Padahal justru kecantikannya paling menonjol antara perpaduan manis dan imut menjadi satu.
"Cantikan anak Papa dong," seru Abyan peka dengan bangga memuji kecantikan putri angkatnya sendiri di bandingkan beberapa keponakan perempuan yang ikut hadir di sana.
"Iya jelas dong, siapa dulu Mamanya" balas Lestari ikut memamerkan putri angkat sekaligus calon menantu pewaris Adhitama Group di masa depan tersebut.
Semua keponakan cantik Adhitama merengut kesal menatap iri dan cemburu pada Jenna.
Memang benar apa yang di katakan Paman dan Bibi mereka jika gadis yang duduk berdampingan dengan Aksa jauh lebih cantik dan juga manis, tidak sebanding dengan mereka yang pernah operasi plastik demi menunjang kekurangan fisik.
Jenna memiliki tubuh tinggi mungil yang setara dengan tinggi badan Aksa, perpaduan cantik dan tampan yang nantinya mampu menghasilkan keturunan yang nyaris sempurna.
"Sudah, sudah. Jangan ganggu lagi kasihan," seru Tuan besar mengalihkan fokus semua anggota keluarganya.
"Niat awal kita berada di sini karena ingin melihat siapa gadis yang nantinya akan menjadi cucu menantu Adhitama," sambung Nyonya besar tersenyum hangat ketika tatapan matanya bertemu dengan Jenna.
"Benar-benar pilihan yang tepat ya, Bang?" godanya melirik sekilas ke arah sang cucu kesayangan.
Aksa tersenyum simpul.
Semua yang ada di sana ikut tertawa melihat wajah gadis itu sudah memerah bak tomat karena malu.
Menjelang sore, sebagian anggota keluarga memilih masuk ke dalam kamar guna membersihkan diri sebelum malam tiba.
Di ruang keluarga hanya tersisa beberapa orang termasuk tiga keponakan perempuan Adhitama yang tidak suka menyaksikan kebersamaan Jenna bersama Aksa.
Mereka berpindah tempat duduk saling berhadapan nekat mengganggu ketenangan Jenna dan sang Abang.
"Abang cium sesuatu ngga?" tanya gadis itu sengaja mengeraskan suara.
Jenna sungguh kesal ketenangannya di rumah sendiri masih ada yang mengganggu.
Sementara Aksa terdiam sejenak menatap bingung tidak mengerti.
"Ngga ada," jawab pria itu kelewat jujur.
__ADS_1
"Beneran ngga nyium aroma aneh gitu?" tanya Jenna lagi sembari menatap jengah ke arah tiga wanita merupakan sepupu Aksa.
"Aroma apa sayang? Dari tadi Abang ngga nyium apa-apa, eeh ... Kalau nyium kamu boleh juga," kekeh Aksa semabari menahan perih di perutnya.
"Ok, ok. Memangnya kamu nyium apa barusan?"
Bibir Jenna mengerucut hingga beberapa centi saking kesalnya.
"Aroma asam, Bang." Jawabnya ketus namun sukses mengagetkan ketiga wanita di hadapannya
Ketiga sepupu Aksa menatap Jenna dengan mulut menganga lebar.
"Maksud kamu apa?" kesal wanita berambut panjang sebahu dengan mata melotot.
"Aroma apa yang kamu cium?" timpal wanita bermata besar tidak terima.
"Katanya kan, asam ... jangan-jangan aroma ketiak mungkin," seru wanita ketiga asal ceplos.
Jenna malah tertawa lepas di ikuti Aksa.
"Yeee, kalian salah."
Gadis itu hendak bersembunyi di balik punggung sang Abang.
Ketiganya saling pandang tidak mengerti dengan maksud Jenna.
"Kalau bukan, terus apa dong?" tanya mereka bersamaan.
Semuanya menatap ke arah Jenna dengan penasaran termasuk beberapa anggota keluarga Adhitama yang ikut di buat penasaran.
Sedetik kemudian tawa Aksa pecah kala Jenna mengatakan apa yang mereka tanyakan.
"Aroma jeruk nipis, ada asam-asamnya gitu deh."
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1