
Dua puluh menit kemudian Aksa turun dari lantai atas setelah membersihkan diri, ancaman mutlak dari sang Mama berhasil menyulut emosinya.
"Enak ajah calon istri Abang di kira apaan?" sungut pria itu sembari menatap tajam beberapa sepupu laki-laki yang tanpa sengaja berpapasan dengannya.
Padahal Mama Lestari hanya menjahili Aksa, namun sepertinya bukan Aksa namanya bila tidak mencari gara-gara.
Terlihat jelas dari penampilannya malam ini begitu memukau dan sangat mempesona, ketampanan cucu bungsu Adhitama tersebut melebihi semua pria tampan yang berada di lantai bawah.
Kedatangan Aksa mengundang pusat perhatian semua anggota keluarga Adhitama, terutama si gadis manis yang duduk berdampingan dengan Mama Lestari.
"Abang sangat tampan ya, Dek?" bisik wanita cantik itu menggoda Jenna.
Bukannya menjawab gadis itu justru menundukkan kepalanya malu, hal itu membuat semua mata langsung beralih menatap ke arah calon istri Aksa tersebut.
Tuan besar Hansen bersama istrinya tersenyum geli, keduanya seakan kembali memutar masa muda dulu sewaktu baru pertama kali bertemu.
"Abang sangat tampan," puji Nyonya Ranila menyambut kedatangan cucu bungsu kesayangannya.
Wanita paruh baya itu mendapat pelukan sayang juga ciuman di kedua pipinya, meski sudah berumur tidak membuat kecantikannya memudar.
"Ini baru cucu ku," ucap Tuan Hansen menepuk pelan pundak Aksa seraya tersenyum hangat.
"Pergilah, duduk di samping calon istrimu!" Aksa mengangguk paham segera bangkit dari sofa dimana pasangan baya itu duduk.
__ADS_1
Kaki panjangnya begitu cepat melangkah sampai di hadapan sang Mama dan gadis kesayangannya.
Aksa menerobos duduk begitu saja di antara ibu dan anak tersebut, ia tidak peduli sang Mama yang protes karena ulahnya.
"Abang kenapa main nyosor ajah sih? Geseran sana!" kesal Mama Lestari menatap tajam putra semata wayangnya itu.
"Kalau Abang pindah nanti orang lain yang gantiin tempat duduknya," balas Aksa tidak mau menuruti perkataan sang Mama barusan.
Cucu bungsu Adhitama itu sudah menyembunyikan wajah cantik milik calon istrinya ke dalam dada, seketika mode posesifnya mulai aktif.
Baru saja datang nyatanya Aksa menyaksikan bagaimana mata dari beberapa pria keturunan Adhitama menatap kagum gadis manis kesayangannya.
"Jenna ngga bisa nafas, Abang ..." rengek calon menantu cucu bungsu Adhitama tersebut berusaha melepaskan dekapan erat kedua tangan Aksa dari tubuhnya.
Bagaimana Aksa tidak bertingkah posesif, sejak ia tiba di sana beberapa menit yang lalu. Semua mata sepupu laki-lakinya tidak berkedip menatap calon istrinya, salahkan Mamanya terlalu berlebihan merias gadis kesayangannya sampai mengundang tatapan memuja dari para sepupunya.
"Ya ampun, kalau kayak gini aku bisa mati sesak nafas. Abang ..." jerit Jenna begitu gemas akan kelakuan calon suminya tersebut.
"Kalau ngga suka Jenna dandan langsung bilang ajah," sungutnya menghela nafas panjang akibat terlalu malas untuk berdebat.
Aksa menatap kasihan wajah masam gadis itu yang memerah akibat ulahnya, perlahan kedua tangannya di longgarkan namun tetap masih dalam posisi memeluk.
"Maaf sayang, tapi Abang ngga suka mereka liatin kamu terus. Apa di colok ajah ya semua mata mereka biar ngga natap Adek lagi?" ucapnya gamblang membuat semua anggota keluarga Adhitama tercengang menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
Lestari maupun Abyan hanya bisa menggelengkan kepala pelan, tidak ada yang bisa mereka lakukan bila masalahnya sudah menyangkut perasaan sang putra tercinta.
"Jangan begitu Abang, lagian mereka hanya melihat Adek." Tegur Nyonya Ranila pelan berusaha menenangkan sang cucu
Akan tetapi, sepertinya kekesalan Aksa sudah di ambang batas maksimum. Jaket berbahan jeans yang pria tampan itu kenakan langsung dibuka demi menutupi bagian tubuh milik calon istrinya yang terbuka.
"Abang kecewa sama Mama, harusnya berikan Jenna pakaian yang sopan dan tertutup. Bukan malah sengaja memperlihatkan bentuk tubuhnya, mengapa kalian semua begitu suka melihatnya?" geram Aksa tanpa sadar berteriak lumayan kuat ketika mengucapkan kalimat terakhir.
"Apa? Kalian ngga suka Abang ngomong kayak gitu? Kalau iya pulang ajah sana! Lagian acaranya sudah selesai bukan?" imbuhnya secepat kilat menarik lengan Jenna pergi dari hadapan semua orang.
Pria itu membawa calon istrinya keluar rumah bahkan sengaja menulikan kedua telinganya ketika panggilan dari Mama Lestari terdengar begitu kuat.
Sementara Jenna menoleh ke belakang dengan pandangan kasihan mendapati sang Mama berlari pelan mengejar mereka.
"Abang jangan gitu dong, kasihan Mama dan Papa nanti jadi sasaran mereka," tegur Jenna mengusap lembut lengan Aksa demi menghilangkan rasa kesal calon suaminya tersebut.
"Mereka sudah kelewatan sayang, mana ada kamu yang statusnya calon istri Abang mala di biarkan pria lain menatapmu seperti itu." Kesal Aksa masih tetap pada keinginannya untuk keluar meninggalkan semua anggota keluarga besar Adhitama
Tanpa sadar keduanya sudah berada di depan mobil, Aksa membukakan pintu bagian samping kemudi mempersilahkan Jenna masuk. Ia memutar cepat ikut masuk ke dalam mobil duduk di kursi bagian kemudi.
"Kita mau kemana?" tanya Jenna penasaran melihat pria tampan itu sudah menyalakan mesin mobil.
"Kita makan malam di luar saja."
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃