Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 49 ~ Harus Janji


__ADS_3

Tangisan lirih Jenna seketika redah mendengar kalimat pertanyaan yang keluar dari mulut Aksa.


Sorot mata indahnya menelisik jauh ke dalam mata pria tampan yang selalu menatapnya teduh, dia ingin mencari kebohongan disana tetapi hanya melihat binar kejujuran.


"Abang kenapa bertanya seperti itu?" selidik Jenna begitu penasaran.


"Apa ada sesuatu yang sengaja Abang sembunyikan dari Jenna?"


"Atau Mama dan Papa juga ikut terlibat?"


Jenna yang semula hanya menatap ke arah Aksa, kini kedua mata indahnya mengarah ke arah Lestari dan Abyan seolah mencari jawaban lewat tatapan mata.


Hal itu membuat Aksa secepat kilat memberikan kode melalui tatapan matanya agar pasangan suami istri tersebut jangan sampai ada yang berani angkat bicara.


Bukan karena apa, pria tampan itu hanya ingin ia sendiri lah yang memberi tahu perihal masalah kesehatannya pada Jenna.


"Kenapa Papa dan Mama hanya diam saja?" tanya Jenna masih pada rasa ingin tahunya akan kondisi kesehatan sang Abang.


Jujur saja dia merasa ada yang mereka sembunyikan darinya selama ini, tetapi apa? Pikirnya


"Baiklah, tidak apa-apa kalau Papa dan Mama tidak menjawab pertanyaan Jenna. Sepertinya hanya Abang sendiri lah yang jauh lebih tahu jawabannya, benar kan?" memilih pasrah mau tidak mau Jenna kembali menatap Aksa.

__ADS_1


Kali ini gadis manis itu harus mengetahui jawabannya, mana mungkin dia hanya akan duduk diam tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Lestari menatap ibah ke arah putra semata wayangnya tersebut, jauh di dalam hati begitu tersiksa menyimpan kenyataan pahit mengenai kondisi sang putra.


"Lebih baik kita pergi, Mah. Berikan mereka waktu untuk bicara empat mata, Papa yakin Abang sudah tahu apa yang akan ia lakukan." Abyan mengajak istrinya keluar dari dalam kamar meninggalkan kedua anaknya tersebut


"Apa tidak masalah kita membiarkan mereka, Pah? Mama hanya khawatir bagaimana jika Jenna memilih pergi sebelum hubungan mereka berlanjut ke pernikahan," jujur saja Lestari teramat takut bila harus kehilangan putri angkat yang teramat disayanginya.


Anggap saja dia merupakan sosok ibu yang egois saking begitu besarnya rasa sayang dan perhatiannya pada Jenna selama ini, jangankan marah sekedar berkata kasar apalagi merajuk sama sekali tidak pernah Lestari lakukan.


Abyan memilih diam tidak tahu harus berkata apa lagi, waktu berlalu terlalu cepat membuatnya harus berada di antara pilihan yang sulit.


"Sudahlah Mah, lebih baik kita serahkan semuanya pada Abang. Yakin lah putra kita pasti bisa melaluinya," bujuk pria tampan itu pada istrinya agar tidak lagi mengkahawatirkan keadaan sang putra.


"Mama harus yakin pada Abang, lima tahun mereka bersama tanpa kehadiran orang lain. Mana mungkin Jenna langsung menyerah begitu saja, Papa tahu betul seperti apa putri angkat kita itu." Jelas Abyan memberi pengertian


Benar apa yang di katakan suaminya, tidak semudah itu hubungan yang sudah lama terjalin antara Jenna dan putranya berakhir begitu saja.


"Mama harap mereka baik-baik saja, Pah" ucap lirih Lestari sembari mengusap kedua matanya yang berair.


Sebagai ibu, posisinya harus berada di antara kedua anak kesayangannya. Menjadi penengah sekaligus pelindung bila terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.

__ADS_1


.


.


Di dalam kamar yang hanya tersisa Aksa bersama Jenna, tampak suasananya begitu mencekam.


Aksa berulang kali menelan salivanya dengan susah payah mendapati sorot mata tajam penuh intimidasi dari Jenna, semua itu bermula sedari kedua orang tuanya pergi keluar dari kamar beberapa menit yang lalu.


Lidahnya terasa kelu antara takut dan bingung harus berkata apa, terlebih kebenaran soal kesehatannya sudah pasti tidak dapat lagi ia sembunyikan dari gadis manis kesayangannya tersebut.


"Natapnya biasa ajah, sayang," ucap Aksa pada akhirnya.


Mendengar itu sontak Jenna mengubah posisi duduknya agar lebih dekat lagi.


"Nah, sekarang Abang ceritakan sama Jenna. SEMUANYA!" balas gadis manis itu sengaja menekan kata terakhir.


Jenna akan terima apapun kebenarannya nanti, sudah sampai ke tahap ini mana mungkin dia langsung mundur begitu saja.


"Abang ngga perlu khawatir apalagi takut Jenna pergi, sebab itu sama sekali tidak terlintas di otak Jenna." Tambahnya masih setia menunggu penjelasan daru Aksa


Kedua mata Aksa menatap intens wajah cantiknya, seolah pria tampan itu takut kehilangan.

__ADS_1


"Abang akan cerita, tapi kamu harus janji ngga akan pergi apapun yang terjadi."


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2