
Kafi tidak menghiraukan perkataan Aksa yang memintanya untuk berjalan pelan. Ia begitu khawatir dengan dua anak gadis yang mungkin masih berada di dalam kelas.
"Aduh, Kak Aksa mendingan diam ajah napa sih! Dari tadi minta Kafi jalan pelan mulu," kesalnya yang rasanya ingin sekali memukuli Aksa andai ia tidak mengingat jika pria tampan itu adalah seorang Dosen termuda namun terkenal sedikit galak.
"Tapi ngga harus narik-narik Kakak juga dong, Kafi." Sungut Aksa tidak kalah ikut merasa kesal akibat lengannya masih setia berada dalam genggaman Kafi
"Kalau ngga narik Kak Aksa, yang ada keburu berantem duluan tuh dua gadis bar-bar." Balas Kafi tanpa peduli sudah semasam apa wajah tampan dari pria yang di tariknya lumayan kuat tersebut.
Dari arah jauh, Aksa bisa melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang seruangan dengan Jenna berdiri di depan pintu masuk, sebagian meneriaki nama Amira dan sesekali juga ada yang menyebut nama Jenna.
Entah apa yang tengah terjadi di dalam sana, yang jelas Aksa mulai di runduh kekhawatiran akan gadis manis kesayangannya itu.
"Cepetan Kak Aksa! Itu kayaknya mereka belum juga berhenti," pekik Kafi terus menarik tangan Aksa sampai ke depan pinta masuk.
Hingga selang beberapa menit akhirnya mereka sampai juga di depan ruangan.
DEG!
Betapa terkejutnya Aksa ketika sampai di depan pintu ruangan yang terbuka lebar.
Mata pria tampan itu membulat sempurna setelah kakinya berhenti tepat di depan pintu lengkap dengan mulut yang menganga tidak percaya.
"Aira Jenna Mehrunissa." Teriak Aksa lumayan kuat sampai terdengar di beberapa ruangan
Jenna yang merasa namanya di panggil oleh seseorang, sontak menghentikan aksi nekatnya yang hampir terjatuh dari jendela andai saja Aksa tidak cepat menahan tubuh mungil gadis itu.
Kilat amarah terpancar jelas dari sorot mata tajam Aksa, hanya dalam sekejap nyali Jenna langsung menciut dan takut.
Baru beberapa hari di biarkan tanpa ada niat mengganggu ketenangan gadis itu, nyatanya kenakalan Jenna tidak bisa di hilangkan.
"A-abang," sahut gadis itu lirih menatap sendu wajah tampan Aksa.
__ADS_1
Mata yang selalu menatap teduh dan penuh damba padanya, bibir tipis yang tidak pernah bosan mengaguminya setiap hari, tangan lembut yang selalu sigap menopangnya kala berada dalam masalah, serta aroma tubuh yang khas tanpa campuran parfum.
Sungguh Jenna rindu semua yang ada pada diri pria tampan itu.
Siapa sangka sosok yang beberapa hari ini sangat di rindukannya sekarang berada tepat di hadapannya.
Bolehkah Jenna berteriak senang lalu mengatakan betapa dia sangat merindukan sosok pria itu?
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aksa dengan nada terkesan dingin dan mengintimidasi.
Jenna seakan lupa bagaimana caranya berbicara, lidahnya terasa kelu tidak sanggup mengeluarkan sedikit saja suaranya.
Ya Allah, benarkah yang Jenna lihat sekarang? Pekik girang gadis itu dalam hati
Matanya seolah terhipnotis seketika mendapati Aksa yang kini berada tepat di hadapannya.
"Abang sedang bertanya, kenapa tidak di jawab?" lagi, Aksa kembali bertanya tanpa mengindahkan tatapan mata sudah berkaca-kaca gadis kesayangannya itu.
Betapa takutnya ia kala mendapati tubuh mungil Jenna hampir saja terjatuh dari balik jendela ruangan kelas yang lumayan tinggi.
Ia sungguh di buat pusing sendiri melihat kelakuan Jenna yang hampir belum sepenuhnya hilang.
"A-abang, jangan marah-marah dulu." Sahut Jenna sudah menangis karena takut
"Siapa yang menyuruhmu menangis, hmm?" bisik Aksa tanpa menghiraukan sudah semerah apa mata gadis itu.
Yang di tanya justru malah diam, menangis sesegukan membuat Aksa hanya bisa menghela napas panjang berulang kali.
"Siapa yang menyuruh mu menangis? Abang tanya apa yang kamu lakukan barusan bukan malah menangis." Aksa sebenarnya tidak tega memarahi gadis cantik yang teramat sangat di cintainya itu
Rasa khawatir dan takut mulai menyelimuti hati Aksa ketika melihat tubuh mungil Jenna hampir saja terjungkal keluar dari jendela ruangan.
__ADS_1
Bukannya reda tangis Jenna melainkan makin keras tangisannya. Hal itu membuat otak Aksa seketika tidak bekerja.
Astaga Aksa tahan, OK. Desah pria tampan itu dalam hati
"Jangan marah dulu," sahut Jenna masih sesegukan saking takutnya.
Mungkin dia sudah salah karena nekat memanjat jendela tanpa peduli akan resiko yang mungkin saja bisa membahayakan dirinya.
"Kamu berulah lagi sayang," lirih Aksa yang pasrah kemejanya di penuhi air mata milik gadis itu.
"Jenna ngga nakal, cuma--,"
"Cuma apa?" potong Aksa cepat.
"Ya ampun Aira, bagaimana kalau sampai kamu jatuh tadi sebelum Abang sempat menarik mu masuk ke dalam?" lanjutnya sedikit emosi.
"Jenna cuma duduk," jawab gadis itu membela diri.
"Duduk bagaimana itu? Menggantungkan setengah badan mu di jendela tanpa berpegangan apa itu yang di maksud cuma DUDUK?" geram Aksa tidak habis pikir akan jawaban yang keluar dari mulut Jenna.
"Abang--,"
"DIAM!"
DEG!
Nyali Jenna langsung menciut mendapati tatapan tajam penuh hukuman dari Aksa, sepulang kuliah nanti sudah pasti dia akan di hukum habis-habisan.
Bukan hanya Aksa saja yang akan memberikan hukuman padanya, tetapi masih ada satu orang lagi yang paling Jenna takuti sampai lupa bila wanita cantik itu mungkin saja sudah mendapatkan informasi lewat orang suruhannya perihal masalah ini.
Habislah kamu, Aira Jenna Mehrunissa. Teriaknya dalam hati
__ADS_1
Entah hukuman apa lagi yang akan di terima Jenna.
🍃🍃🍃🍃🍃