Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 68


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu lamanya, pasangan kekasih yang tampak semakin lengket setiap harinya itu menginap di rumah sakit.


Terhitung mulai dari tiga hari setelah Aksa melakukan pemeriksaan kesehatan, ia langsung di rawat tepat keeseokan harinya.


Mengingat setiap waktu berjalan adalah kesempatan yang tidak boleh di sia-siakan, belum lagi kondisi fisik Aksa terbilang sempat menurun secara drastis. Mulai dari kurangnya nafsu makan dan tidur mudah terganggu jika bukan Jenna ikut menenaminya walau hanya sampai pria itu tertidur.


Di rumah sakit, Abrisam sengaja menyiapkan ruangan VVIP untuk Aksa. Memudahkan anggota keluarga jika ingin berkunjung atau menginap di rumah sakit.


Jangan tanyakan sekacau apa pikiran Jenna selama berada di tempat yang membuatnya sampai trauma hingga sekarang, meski kelihatan dia tetap setia menemani calon suaminya dalam masa pemulihan. Jenna tampak merasa kurang nyaman dan sering mengalami sebuah mimpi buruk setiap malam.


Hal itu membuat Abrisam dan Shafia memilih ikut menginap secara bergantian, meninggalkan anak-anak mereka pada Bibi pengasuh dan beberapa pelayan di rumah.


Beruntung si kembar tidak rewel atau mencari Mommy dan Daddy mereka, seakan kedua anak tampan itu tahu apa yang orang tua mereka lakukan.


Shafia tidak sedetik pun meninggalkan Jenna dalam ruangan bersama Aksa yang terbaring lemah di atas brankar. Dia tetap setia mendampingi gadis perpaduan manis dan cantik itu agar pikirannya tidak kosong.


Menjadi pengganti Mama Lestari bukanlah sesuatu yang mudah bagi wanita cantik itu, tetapi sekuat tenaga Shafia melawan rasa sedih dan khawatirnya demi melihat kesembuhan Aksa, keponakannya.

__ADS_1


"Bibi Shasa kayak Mama Lestari, mudah panik dan kelihatan jelas banget nahan sedih biar Abang ngga curiga." Bisik Jenna teramat pelan di telinga Shafia


Jarak kedua wanita cantik beda usia tersebut lumayan dekat dari arah brankar di mana Aksa tengah berbaring dengan posisi setengah duduk atau bersandar.


Pria itu tidak menaruh curiga apapun pada kekasihnya maupun wanita cantik yang tertawa pelan sembari melirik ke arahnya.


Ia lebih fokus membaca sebuah novel yang sengaja di bawa Jenna, tanpa tahu pembicaraan dari kedua wanita cantik beda usia tersebut.


.


.


Hanya tersisa Jenna seorang diri tengah menunggu Aksa selesai di periksa, karena beberapa menit yang lalu pria tampan itu mengeluh sakit di bagian kepalanya.


Melihat raut wajah tegang dan panik milik gadis kesayangannya, sontak Aksa meminta agar Jenna mendekat demi menenangkannya.


"Sini, Raa." Pintanya sembari tersenyum hangat yang langsung di sambut tangisan dari Jenna saking khawatirnya melihat sang pemilik hati menahan sakit

__ADS_1


Jenna mendekat ke arah brankar, duduk di kursi dengan perasaan sulit di artikan.


"Jenna takut Abang kenapa-napa," ucapnya lirih di barengi isak tangis yang semakin kuat.


Aksa yang melihatnya pun sejujurnya tidak tega, ia sendiri ikut mengeluarkan cairan bening yang semula berusaha di tahannya agar tidak jatuh.


"Hey, sayang. Udah ya, jangan nangis. Hmm," rayunya sembari mengusap lembut wajah milik kekasihnya tersebut.


"Abang yakin kamu pasti kuat, jangan menangis lagi. Ok?"


Jenna menggeleng pelan, rasanya mustahil jika dia tidak akan menangis apalagi diam melihat pria kesayangannya terbaring lemah seperti ini.


"Abang harus sembuh, Jenna ngga kuat." Ungkapnya jujur dengan apa yang tengah dia rasakan pada Aksa


"Kalau Abang sampai lupa ingatan pas operasi nanti, lihat saja. Jenna ngga akan sayang Abang lagi," tambahnya.


Gadis itu merenggut kesal karena perkataannya hanya di balas ledekan dari Aksa.

__ADS_1


"Kok gitu sih. Lagian kita belum menikah, Raa. Mana ada Abang lupain kamu, sayang."


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2