Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 67


__ADS_3

Tiba di rumah, nyatanya Shafia masih sama seperti waktu di parkiran rumah sakit. Hanya diam sembari memeluk erat Abrisam, bahkan kedua anak tampan yang semula merengek ingin di peluk wanita itu kini sudah di ambil alih Jenna dan Aksa.


Pasangan kekasih yang sebentar lagi akan meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan itu, langsung membawa si kembar bermain di halaman samping rumah.


Memberi ruang privasi kepada pasangan suami istri tersebut agar lebih leluasa untuk berbicara, karena Aksa tahu pasti ada sesuatu yang membuat Ibu dari si kembar sedih.


Entah mengapa sikap wanita cantik yang di ketahui Aksa sangat ceria dan cerewet tersebut, mendadak seperti orang yang tengah memendam banyak masalah dalam pikirannya.


Mau bertanya pun rasanya tidak mungkin, sebab pria itu tahu bagaimana wanita cantik sering ia panggil Bibi itu sangat pandai mengalihkan perasaannya.


Jenna yang sadar akan diamnya Aksa, segera mendekat ke arah pria tampan itu. Jarak mereka lumayan jauh karena si kembar meminta gadis itu menemani mereka bermain ayunan.


Di rasa aman, Jenna ikut duduk di bangku panjang tepat di samping Aksa. Mengamati raut wajah sedikit pucat milik calon suaminya tersebut, guna memastikan apakah pria itu baik-baik saja.


"Abang ngga enak badan?" tanya Jenna dengan perasaan khawatir

__ADS_1


"Apa kita masuk ajah? Biar si kembar nanti Jenna minta tolong Bibi pengasuh bawah ke kamar," tawarnya lagi yang hanya di jawab gelengan kepala dari Aksa.


"Ngga apa-apa, sayang." Sahut pria itu seraya menyandarkan kepalanya di bahu milik gadis kesayangannya yang mengangguk paham


Aksa hanya sedikit lelah, ia juga merasakan kepalanya mulai sakit. Tetapi, sebisa mungkin tidak membuat Jenna sampai khawatir akan kondisi kesehatannya sekarang.


Ia pikir, Jenna mudah di bohongi. Melihat gadis itu hanya diam tanpa banyak bertanya, Aksa menganggap seolah tidak ada yang ia rasakan, sampai kalimat sindiran pun keluar dari mulut calon istrinya tersebut, pertanda jika kebohongannya sudah di ketahui.


Kedua bola mata Jenna menatap tajam ke arahnya sembari bergumam. Aksa lupa kalau gadis itu sangat peka dan perasa dalam setiap tindakan yang ia lakukan selama ini.


Jenna mudah meledak ketika sedang marah, tidak jarang melampiaskan amarahnya, meski bukan secara langsung pada orangnya.


"Kalau tidak pandai berbohong, sebaiknya Abang banyak belajar untuk selalu berkata jujur. Ok?" sindirnya tepat sasaran.


Membuat Aksa hanya bisa meringis pelan, tidak berani membantah apalagi protes.

__ADS_1


"Udah tahu lagi kurang sehat, tetap ajah keras kepala."


"Maaf sayang," rengek Aksa sudah berada dalam pelukan hangat gadis kesayangannya itu.


Ia tidak tahu harus bagaimana lagi mengungkapkan perasaannya saat ini.


Di dampingi oleh gadis cantik juga manis yang dulu mati-matian ia perjuangkan, agar kelak mereka bisa menjadi pasangan halal. Bahkan sampai rela menahan sakit yang sebenarnya dari lama sudah harus di obati, tetapi Aksa justru menunda semuanya demi bisa meyakinkan calon istrinya tersebut.


Usahanya jelas tidak sia-sia, karena mulai detik ini sampai kedepannya tidak lagi sendirian. Kemana-mana sudah ada yang ikut menemaninya, siapa lagi kalau bukan putri angkat kesayangan Mama Lestari dan Papa Abyan yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya.


"Aku mencintaimu." Bisik Aksa pelan di telinga Jenna seraya memeluk erat tubuh langsing milik gadis itu


"Aku tahu," jawab sang Kekasih hati di barengi kekehan.


Keduanya hanyut dalam perasaan yang entah sejak kapan semakin berkembang seiring waktu berjalan.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2