
Saat ini kedua anak Lestari tersebut sudah berada di dalam rumah.
Mereka duduk diam bersimpuh di atas papan kasar sepanjang satu setengah meter dengan kedua tangan memegang telinga.
Masih ingat beberapa menit yang lalu?
Ketika Aksa dengan jahilnya kembali menggigit jemari lentik milik Jenna di dalam mobil, tanpa mereka sadari bila sang Mama sudah berdiri tegap di samping mobil dengan napas naik turun menatap nyalang ke arah keduanya.
Sang sopir bahkan sudah lari entah kemana saking takutnya melihat kemarahan wanita itu. Tolong ingatkan kalau Aksa dan Jenna sudah membangunkan singa betina yang tertidur.
Rintihan dan rengekan Jenna terus terdengar sampai membuat para pelayan rumah termasuk Aksa menahan diri agar tidak tertawa.
"Aw, lutut Jenna jadi lecet."
"Oh, ya ampun. Kulit mulus aku jadi ternoda,"
"Aaiih, maafkan lah aku wahai telinga sayang, bentar doang kok hukumannya."
"Engap oeyyy, pengen berendam air."
"Ayyaaa, Adek lapar oeyyy."
"Haahh, lemas besti. Pulang kuliah di hukum Mama."
__ADS_1
Dan masih banyak lagi.
Tanpa bosan bibir mungil gadis itu terus mengoceh tidak peduli bila nantinya dia kembali di marahi.
Jenna sungguh merasa sangat lelah dan mengantuk saat pulang kuliah tadi, matanya kini mulai terasa berat saking kantuknya.
"Abang," panggilnya begitu pelan nyaris tidak terdengar.
"Hmm, ada apa?" sahut Aksa sedikit menoleh ke arah samping kiri tempat dimana gadis itu berada.
"Ngantuk. Mata Jenna ngga kuat lagi nahannya," rengek Jenna dengan mata sudah berkaca-kaca siap menangis.
Beginilah kebiasaan gadis itu bila mendapat hukuman setelah pulang dari kampus dan tentu Aksa menjadi tidak tega melihat tatapan memelas dari gadis kesayangannya itu.
"Jangan menangis sayang, sudah sana cepat naik ke lantai atas! Langsung mandi kemudian tidur," ucap Aksa yang dengan cepat langsung di iyakan Jenna.
Sementara itu, Lestari yang kebetulan baru datang dari arah dapur menatap bingung ke arah putranya.
"Loh, Adek mana? Jangan bilang Abang nyuruh gadis nakal itu kembali ke kamar," selidik Lestari penuh kekesalan.
"Jawab Abang!" lanjutnya lagi sembari duduk di sofa panjang samping tempat Aksa dan Jenna di hukum.
"Udah dong, Mah. Kasihan dia belum ganti baju mana kelihatan bangat tuh anak kelelahan. Memangnya Mama tega melihat gadis manja Mama itu sakit?" cebik Aksa seakan lupa kalau ia sendiri pun saat ini tengah di hukum.
__ADS_1
Lestari menghela napas lelah sebelum kembali berbicara, dia sebenarnya tidak tega memberikan hukuman pada kedua anak kesayangannya itu. Tetapi apa daya, melihat betapa nekatnya mereka berduaan di dalam mobil tanpa takut akan ada orang lain yang melihat, terlebih kaca mobil milik sang putra sangat transparan.
"Abang jangan ngajarin Adek yang ngga benar, gimana kalau tadi itu bukan Mama yang melihat kalian tapi justru malah orang lain? Apa Abang ngga mikir tanggapan mereka saat tahu kelakuan kalian begitu?" omel Lestari yang tidak habis pikir dengan perbuatan nekat sang putra.
"Tapi di sana ada Paman juga kan, Mah." Jawab Aksa seolah membela diri
"Kamu pikir Paman sopir cuma liatin kalian berdua?" cecar Lestari kelihatan mulai marah.
"Abang harusnya mikir dong kalau mau jahilin Adek lihat keadaan sekitar dulu, tidak semua mulut bisa di tutup dengan rapat melihat kelakuan kalian begitu."
Bukannya Lestari melarang keduanya untuk berdekatan, yang dia khawatirkan adalah penilaian dan tatapan orang di luar sana tanpa tahu cerita yang sebenarnya.
"Mama ngga akan larang kalau Abang mau dekat sama Adek, paling tidak cukup Mama dan orang rumah saja yang tahu dan melihat kalian. Harusnya Abang lebih tahu kan, tanpa perlu Mama yang ngingatin Abang, jangan kayak gitu lagi ya." Ungkap Lestari mulai melembutkan nada bicaranya
Biar bagaimana pun dia tahu sesayang apa sang putra pada gadis manis yang di angkatnya menjadi putri tersebut.
"Sudahlah, Mama ngga mau marah lagi ke Abang. Tapi bukan berarti Mama bakal lupain masalah ini, Mama ngga mau tahu kedepannya Abang harus bisa kendalikan diri Abang. Kalau ngga,--" Lestari sengaja menjeda ucapannya.
"Kalau ngga kenapa, Mah?" tanya Aksa penasaran.
Lestari menatap tajam ke arah putra sewata wayangnya itu sebelum memberi jawaban.
"Kalau ngga, jangan harap Mama akan membiarkan kalian berdua bersama lagi."
__ADS_1
Sebuah kalimat yang merupakan ancaman mutlak bagi Aksa bila melanggar perkataan sang Mama.
🍃🍃🍃🍃🍃