
Sepulang dari kampus, Jenna memilih berdiam diri dalam kamarnya tanpa menghiraukan Lestari sedari tadi memanggil namanya di depan pintu kamar.
"Jenna buka pintunya, sayang!" teriak Lestari sambil mengetuk pintu kamar sang putri lumayan kuat.
"Ini anak kenapa lagi sih, pulang-pulang langsung main kunci-kunci kamar segala." Gerutunya mulai kesal
Wanita cantik itu sungguh di buat keheranan saat melihat gelagat Jenna tidak seperti biasanya, bahkan gadis itu tidak sekalipun menyentuh makan siangnya meski sudah di rayu sedemikian rupa.
"Sayang buka ngga pintunya! Mama minta Abang buat dobrak ya, kalau kamu masih mengunci diri dalam kamar," lanjutnya setengah mengancam.
Lestari sudah pasti tahu penyebab sang putri merajuk dan memilih berdiam diri dalam kamar, itu karena apa saja yang di lakukan Aksa ketika di kampus tidak luput dari pantauannya.
"Ini benar-benar ya, kapan mereka bisa akur sih kalau tiap hari adanya berantam mulu."
Wanita cantik itu berlalu pergi meninggalkan kamar Jenna dan beralih menuju kamar putranya sendiri.
Jarak kamar Jenna dan Aksa lumayan jauh, ada satu ruangan kerja milik Lestari serta dua kamar yang di biarkan kosong berada di tengah-tengah kamar mereka sebagai pemisah.
Sampai di depan kamar milik Aksa, tanpa menunggu lama Lestari mulai mengetuk pintu kamar putranya cukup keras.
Tok tok tok.
"Abang, cepat buka pintunya!" teriaknya lumayan kuat.
"ABANG ... Cepat buka! Mama mau bicara."
Lagi-lagi teriakan nyaring dari wanita kesayangan Jenna dan Aksa tersebut, menggema hampir ke semua sisi rumah, sampai membuat beberapa pelayan yang sibuk mengerjakan tugas mereka sampai di buat kaget.
"Mulai lagi tuh si Nyonya teriak-teriak," dumel Rani sambil menyapu.
"Kayaknya hampir tiap hari deh, Nyonya harus meladeni Nona Jenna dan Tuan muda Aksa." Timpal Tuti ikut menyahut
"Ini sih namanya kejar jodoh tapi yang di kejar ngga bisa di raih," sambung Mina tertawa lepas.
__ADS_1
"Dua tahun loh, Tuan muda berjuang keras meluluhkan hati Nona Jenna. Tapi seperti yang kita lihat tiap hari, mereka seakan begitu sulit di persatukan." Tutur Rani kembali buka suara
Ketiga wanita tersebut mulai membicarakan sang majikan tanpa ada rasa takut sedikit pun, padahal sudah beberapa kali mereka pernah di pergoki Lestari ketika membicarakan Aksa dan Jenna.
Hampir 10 menit lamanya Lestari mengetuk keras pintu kamar sang putra yang akhirnya di buka juga.
Wanita itu langsung meluapkan rasa kesalnya pada Aksa, tidak peduli dengan jeritan kesakikan pria tampan kebanggaannya itu.
"Aw, aw. Sakit Mama, ini kuping Abang lama-lama bisa copot." Ringis Aksa menahan sakit
Jeweran lumayan kuat dari sang Mama, bukan lagi hal baru melainkan hampir setiap hari wanita kesayangannya itu menjadikan kupingnya sebagai sasaran empuk di kala emosi dan kesal.
"Rasain, Mama heran deh sama Abang dan Adek. Tiap hari ada ajah yang buat kalian berantem mulu, Mama sampai pusing mikirin gimana nantinya masa depan kalian kalau terus-terusan seperti ini," omel Lestari sembari melepaskan jewerannya.
Sebagai seorang ibu yang harus berdiri di posisi yang tidak memberatkan satu sisi meski kedua anaknya justru bukan saudara kandung, bohong jika Lestari tidak merasakan pusing dan bingung harus berbuat apa.
Jenna memang bukan putri yang lahir dari rahimnya, tetapi semua cinta & kasih sayang telah Lestari berikan pada gadis manis kesayangannya tersebut.
Di satu sisi, ibu mana yang tidak akan marah bila melihat gadis kesayangannya terus menjadi sasaran kejahilan Aksa, terlebih Lestari sangat memanjakan Jenna dan lebih perhatian pada anak angkatnya itu di bandingkan putranya sendiri.
Akan tetapi, di nilai dari sisi lain sebagai seorang ibu peran Lestari paling di butuhkan. Dia akan berusaha untuk tenang dan bersikap normal.
Melihat kekesalan bercampur emosi sang Mama, membuat hati Aksa sakit.
Bukan maksudnya ingin melukai perasaan malaikat tanpa sayapnya itu, banyaknya pikiran yang selama ini menggangu ketenangannya, terkadang menjadi sumber terjadinya pertengkaran.
"Aksa capek, Mah." Ucapnya lirih dengan kepala menunduk
Ada rasa sesak yang pria itu rasakan dan tidak ingin membuat sang Mama khawatir.
Mendengar suara bergetar milik sang putra, refleks mengalihkan fokus Lestari dari mulutnya yang masih mengomel.
"Loh, Abang kenapa?" heran wanita itu segera mendekati putranya yang menunduk dengan tubuh bergetar pelan.
__ADS_1
Seolah paham dengan kondisi sang putra, membuat Lestari diam tanpa banyak bertanya. Da biarkan Aksa menangis demi meluapkan perasaan yang semakin hari semakin menggerogoti jiwa dan raganya.
"Sebegitu bencikah dia terhadap seorang pria, sampai tidak mau membuka hatinya untuk Abang?"
"Abang benar-benar tulus mencintainya, Mah. Hanya dia yang Abang inginkan menjadi pendamping hidup Abang."
"Kenapa hatinya begitu sulit untuk Abang tempati? Setiap Abang berdoa, selalu namanya yang Abang sebut. Tapi sampai detik ini pun dia masih keras kepala menutup rapat hatinya dari Abang."
Aksa tidak dapat lagi memendam semua yang mengganjal di hatinya. Sakit rasanya ketika kita berusaha menghancurkan sebuah benteng besar yang menghalangi hati seseorang, terlebih orang itu memiliki masa lalu yang sangat suram.
Akan tetapi, meski rasanya sangat sakit dan menguras emosi. Pantang bagi Aksa bila mundur dalam memperjuangkan cintanya.
"Bantu Abang, Mah! Tolong ajari Abang cara mengikhlaskan sebuah rasa yang terlanjur dalam, Abang jadi malu setiap saat menuntut balasan darinya." Mohon Aksa bersujud di kaki sang Mama
Apa yang pria itu lakukan membuat Lestari terkejut.
"Istigfar sayang, ingat lah jika Allah sangat membenci hamba-Nya yang terlalu mendamba sesuatu melebihi kasih kita kepada-Nya." Ucap Lestari berusaha menenangkan satu-satunya buah hati yang dia lahirkan tersebut
Sebagai seorang ibu dari putra yang selama ini di rawatnya dengan sepenuh hati, Lestari tentu merasa sedih dan terluka melihat betapa rapuhnya hati sang putra.
Hanya saja, dia bukan lah seorang ibu yang serakah hanya demi kebahagiaan putranya lalu tega menyakiti anak yang lain.
"Sabar sayang." Bisik pelan Lestari yang kini tubuh tegap sang putra sudah berada dalam dekapannya
"Lihat Mama!" pintanya setelah di rasa Aksa mulai tenang kembali.
Senyum penuh kehangatan di berikan wanita berhati lembut tersebut.
"Abang harus tahu ini dengan baik! Selagi mulut Abang tanpa bosan dan kenal lelah terus menyisipkan namanya di setiap sujud Abang, tidak ada yang tidak mungkin sayang. Percayalah pada Mama, OK!"
Aksa menganggukkan kepala sebagai tanda ia mengerti apa yang di katakan sang Mama.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1