Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 18 ~ Dia Putriku


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Lestari dan Jenna meninggalkan pekarangan rumah menuju tempat di adakannya pesta.


Kereta besi tersebut melesat dengan kecepatan sedang membela jalan raya yang kebetulan lumayan ramai kendaraan berlalu lalang.


Jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat tiga puluh menit, membuat Lestari yakin bila sekarang kemungkinan pestanya sudah di mulai, mengingat waktu yang di tentutakan dalam undangan adalah jam delapan tepat.


Sepanjang perjalanan, demi mengusir rasa bosan kedua wanita beda usia itu sesekali memulai obrolan ringan seputar kegiatan Jenna selama di kampus, sampai masalah yang di perbuat gadis manis itu pun tidak luput dari pembahasan Lestari.


Wanita cantik yang kini menjadi satu-satunya tempat Jenna meluapkan semua isi hatinya terus memaksa gadis manis itu agar mau menceritakan kejadian yang di alaminya tadi siang.


Mau tidak mau akhirnya Jenna mulai menceritakan lebih detail masalah yang dia perbuat bersama sang sahabat, Amira.


Mulai dari saling adu mulut sampai pada akhir di mana Aksa memarahinya yang begitu nekat duduk santai dengan tubuh setengah bergantung di jendela ruangan kelas tempat di mana dia belajar.


Lestari sampai menggelengkan kepalanya tidak percaya akan kenakalan dari putri angkatnya tersebut.


"Benar-benar hebat putri Mama ini," pujinya yang sebenarnya menyindir halus gadis manis kesayangannya itu.


Jenna meringis takut melihat tatapan santai dari sang Mama, sesaat ada yang dia lupakan perihal hukuman tadi siang bersama Aksa.

__ADS_1


"Mama," panggil Jenna sangat pelan dan hati-hati takut jangan sampai wanita cantik itu mengungkit perihal hukumannya.


"Hmm, ada apa sayang?" jawab Lestari tanpa mengalihkan fokusnya pada layar ponsel.


Lidah Jenna mendadak keluh seolah lupa bagaimana caranya berbicara, dia khawatir akan hukuman dari sang Mama yang mungkin saja masih belum selesai. Apalagi tadi siang dia memilih masuk lebih dulu ke dalam kamar dan meninggalkan sang Abang di ruang tengah.


Lestari yang kebetulan masih setia menunggu putri angkatnya itu berbicara, kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas demi mendengarkan apa yang ingin di katakan gadis manisnya itu.


Melihat tidak adanya pergerakan dari Jenna setelah sepuluh menit wanita itu menunggu, akhirnya Lestari memulai percakapan lebih dulu.


"Adek kenapa kok malah diam? Tadi manggil Mama ada apa? Kenapa ngga di terusin?" sosor wanita itu dengan pertanyaan beruntun.


Tetapi, mendengar pertanyaan dari sang Mama barusan dengan berat hati gadis manis itu pun angkat bicara.


"Mama masih marah sama Jenna?" tanyanya dengan suara pelan nyaris tidak terdengar.


Lestari sampai mengenyeritkan dahinya mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir ranum sang putri yang sengaja di manyunkan beberapa senti.


"Marah? Marah soal apa sayang?" tanyanya balik.

__ADS_1


Wanita itu sedikit heran, namun semenit kemudian dia langsung menyadari kemana arah pertanyaan yang di maksud sang putri.


"Ooh, soal yang tadi siang?" tebaknya yang hanya di balas anggukan kepala dari Jenna.


"Mana ada Mama marah sama Adek lama-lama, lagi pula tadi Abang dengan suka rela menggantikan Adek menjalani hukuman yang Mama berikan bukan?" lagi-lagi Jenna menjawab dengan anggukan kepala.


Lestari tersenyum hangat seraya mengusap pelan kepala gadis manis kesayangannya itu.


"Marahnya amama ke Adek dan juga Abang itu sama, tepat saat itu juga langsung habis ngga ada yang namanya bertahan lama sampai keesokan harinya."


Wanita itu mencebik kesal saat mendapati putri angkatnya tengah tertawa.


"Iiihh, Jenna makin sayang deh sama Mama."


Gadis manis kesayangan Aksa itu pun langsung berhambur ke dalam pelukan sang Mama


"Lihatlah! Dia, putri ku yang sangat manis bukan?" Seru Lestari dengan bangganya sembari melirik ke arah depan di mana sang sopir berada.


Sementara pria yang berada di balik kemudi tersebut hanya menanggapi sang majikan dengan senyuman dan anggukan kepala.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2