Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 48 ~ Akankah Pertunangan Kita Tetap Berlanjut?


__ADS_3

Jenna yang semula masih terisak pilu seketika diam mendengar kalimat yang terucap dari mulut Lestari.


Bagaimana mungkin acara pertunangannya dengan Aksa mau di batalkan dan berganti dengan acara pernikahan.


Secepat kilat gadis manis itu menggeleng pelan sebagai tanda penolakan, mana mungkin dia secepat itu menikah apalagi kuliahnya masih ada satu tahun lagi baru selesai.


"Mama ngomong apaan sih?" Jenna langsung melepas pelukannya dari wanita cantik itu.


"Lebih baik kita lihat Abang," sambungnya bergegas pergi lebih dulu menuju arah kamar Aksa meninggalkan Lestari masih dalam keadaan syok.


Bukan Jenna menolak apalagi sampai menyakiti hati kedua orang tua angkatnya terutama Aksa, hanya saja semua ini terlalu cepat menurutnya andai acara pertunangan yang di batalkan beralih menjadi acara pernikahan.


"Bagaimana mungkin aku secepat itu menikah dengan pria yang selama ini menempati hatiku, semenatara keberadaan kedua orang tua kandungku saja tidak tahu dimana." Gumamnya lirih menatap langit-langit demi menahan air mata yang sudah siap menetes


Ceklek


Bibi yang hendak keluar dari kamar setelah pintu terbuka sedikit langsung dikejutkan dengan keberadaan putri angkat keluarga Adhitama tersebut.


"Loh, kenapa Nona muda berdiri di luar? Silahkan masuk Nona! Barusan Tuan muda sudah siuman, beliau mencari Nona muda katanya rindu." Ucapnya pelan dibarengi kekehan kecil mengingat sang Tuan muda yang memintanya untuk memanggil gadis manis tersebut hanya karena alasan rindu


Jenna sampai meringis pelan mendengar Bibi yang berbicara seperti tidak ada beban sama sekali ketika tanpa sadar mengucapkan kata rindu yang sengaja di buat mendayu.


Bagaimana bisa Bibi menggodanya seperti itu, kalau sampai di dengar oleh Mama Lestari sudah pasti ceritanya akan semakin panjang tidak berujung.

__ADS_1


"Bibi nakal ih," rengeknya dengan bibir mengerucut tanda protes.


Bibi malah tertawa seolah rengekan Jenna tidak akan membuatnya kembali menarik ucapannya barusan.


"Masuklah Nona! Tidak baik berdiri di depan pintu, nanti tidak bisa masuk rezekinya." Ucapnya pelan sembari memberi jalan agar Jenna bisa masuk ke dalam kamar


"Eeh, salah. Nanti jodohnya di ambil orang," tambahnya langsung menghindar sebelum amukan gadis manis itu menjadi-jadi.


Teriakan Jenna tidak dihiraukan wanita tua tersebut, dia memilih segera masuk ke dalam lift yang sudah terbuka lebar.


Lestari yang bingung mendapati Bibi menghilang turun ke lantai bawah, menoleh ke arah Jenna yang masih berdiri kaku di depan pintu kamar.


"Bibi kenapa Dek?" tanyanya sudah berdiri tepat di hadapan Jenna.


Di dalam kamar yang bernuansa hitam putih tersebut, sudah ada Abyan yang sibuk memijit pelan kepala sang putra.


Aktifitasnya langsung terhenti kala melihat Jenna memasuki kamar di ikuti sang istri tercinta yang merenggut kesal.


Hal itu membuat rasa penasaran dari kedua pria tampan Adithama seketika muncul.


"Aira ..." panggil Aksa pelan suaranya terdengar masih lemah sekedar berbicara.


Jenna yang namanya di panggil ikut mendekat, langsung duduk tepat di sisi tempat tidur.

__ADS_1


"Kangen ..." rengek pria tampan itu tanpa rasa malu berhambur ke dalam pelukan Jenna.


Baik Abyan maupun Lestari hanya bisa saling pandang memilih diam tanpa mau berkomentar apapun.


"Abang kenapa bisa pingsan sih?" omel Jenna setelah pelukan Aksa sudah terlepas.


Rasa takut, panik dan khawatir bercampur jadi satu mengetahui pria tampan di hadapannya itu jatuh pingsan.


"Kalau capek istirahat, Bang. Lagian kenapa tadi Abang maksa keluar dari kamar?" tanyanya dengan sorot mata tajam membuat Aksa meringis pelan mendadak takut.


"Jangan galak-galak napa, Dek." Jawab Aksa menatap sendu wajah masam gadis manis kesayangannya tersebut


Jenna membuang nafasnya kasar seraya menormalkan detak jantungnya akibat terlalu khawatir, mata indahnya menatap intens Aksa.


"Jenna takut waktu tahu Abang pingsan, apalagi ini bukan hanya sekali dua kali terjadi tapi sudah berulang kali dan Abang tahu gimana perasaan Jenna?" tanpa bisa di cegah lagi air mata yang semula coba di tahan pada akhirnya jatuh mengalir membasahi kedua pipinya.


"Rasa takut Jenna semakin besar, sebenarnya Abang sakit apa?" isakan tangisnya semakin pecah.


Abyan dan Lestari ikut menangis tidak tahu lagi mau berkata apa, pasalnya mereka sendiri pun mendapat larangan keras dari sang putra tercinta agar menyembunyikannya dari Jenna.


Kedua mata Aksa sudah memerah siap meneteskan air mata, baginya terlalu cepat bila gadis manis itu mengetahui kondisi kesehatannya selama ini.


"Jika aku menceritakannya tanpa ada yang aku tutupi, akankah pertunangan kita tetap berlanjut?"

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2