Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 36 ~ Menghubungi Kalian


__ADS_3

Pukul lima sore, Aksa mengajak Jenna pulang setelah gadis itu puas meluapkan rasa sakit dan sedih yang lama di pendam dalam hatinya.


Jenna merasa lega setelah isi hatinya di keluarkan, terlebih sosok pria tampan di sampingnya sekarang tidak mempermasalahkan bagaimana cerita masa lalunya.


Selama perjalanan pulang ke rumah tanpa henti Aksa memberi nasehat dan pengertian agar selanjutnya Jenna tidak lagi merasa sendirian apalagi masih menutup diri dari dunia luar.


Ketika sampai nanti pria itu akan membicarakan hal tersebut bersama kedua orang tuanya, ia tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi.


Jenna mulai tenang seperti awal mereka keluar jalan-jalan ke taman kota.


"Makasih ya, Bang." Ucapnya pelan seraya tersenyum manis


Aksa melirik ke arah samping.


"Hmm. Sampai rumah langsung bersih-bersih, ok." Kata Aksa yang cepat di iyakan Jenna


Keduanya terus berbicara demi menghilangkan rasa bosan, sebab perjalanan pulang ke rumah memakan waktu hapir satu jam setengah.


.


.


#Kediaman Adhitama


Lestari dan Abyan sudah kembali sejak satu jam yang lalu.


Mereka istirahat sejenak menghilangkan rasa lelah beberapa hari kemarin sibuk menyiapkan ini dan itu untuk keluarga besar Adhitama.


Kesibukan Abyan di perusahaan lumayan banyak tetapi sedikit berkurang berkat bantuan dari dua keponakan laki-lakinya.

__ADS_1


Deru suara mobil terdengar memasuki halaman rumah.


Aksa turun lebih dulu, membukakan pintu samping kemudi untuk Jenna yang di sambut senyuman manis dari gadis itu.


Keduanya berjalan masuk beriringan dengan Aksa menggandeng tangan Jenna sampai masuk rumah.


Di ruang tengah, salah satu pelayan wanita terlihat sedang membersihkan tumpukan sampah cemilan yang di hamburkan anak-anak dari Paman dan Bibi Aksa.


Kebiasaan buruk sebagian sepupu dari pria tampan itu kadang kala membuat seisi rumah pusing, beruntung cucu bungsu Adhitama tersebut jauh berbeda.


Tring


Lift sudah sampai di lantai paling atas dimana kamar Aksa dan Jenna berada.


"Jangan tidur sebelum ..."


"Abang cium baru tahu rasa," ancam Aksa hanya bercanda.


Ia ingat bagaimana kesalnya Jenna tidak sengaja kedua bibir mereka sempat bersentuhan hanya karena gadis itu memalingkan wajah ke arahnya.


"Sudah, Abang mau ke kamar juga sekalian menyiapkan soal-soal buat ujian besok." Aksa hendak melangkah pergi namun tangannya di tarik Jenna


"Ujian?" tanya gadis itu bingung.


"Iya, besok ada ujian tes sebelum masuk ujian sebenarnya." Pria itu menjawab


"Tenang saja, ujian kali ini sudah pernah Abang kasih kamu selesaikan." Tambahnya melihat raut wajah cemas Jenna


"Abang ngga bohong kan?"

__ADS_1


"Tentu saja, kalau ngga percaya besok lihat sendiri."


Tanpa mendengar Jenna membalas ucapannya secepat kilat Aksa berlari masuk ke dalam kamar.


Tepat makan malam tiba, Jenna keluar dari kamar bersamaan dengan Aksa.


"Abang baru keluar kamar?" tanya gadis itu.


Aksa mengangguk iya seraya berjalan pelan menghampiri Jenna.


"Ayo turun, Mapa dan Mama sudah menunggu di ruang makan." Ucap pria itu


Lift yang sudah terbuka dengan cepat mereka masuk ke dalamnya turun ke lantai bawah.


Sesampainya di lantai bawah keduanya langsung menuju ruang makan, sudah ada Mama Lestari dan Papa Abyan tengah duduk seraya mengobrol ringan.


"Hallo, Mama ... Papa," sapa Jenna di ikuti Aksa.


Keduanya duduk di kursi masing-masing setelah Mam Lestari dan Papa Abyan membalas sapaan.


Makan malam berlangsung dengan tenang tanpa di barengi obrolan, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Usai makan malam, semuanya berkumpul di ruang keluarga menonton TV atau menceritakan kembali apa yang mereka lakukan tadi siang.


Sesekali Abyan menggoda putranya yang kini wajah tampan Aksa sudah memerah bak tamat, namun pertanyaan Jenna berhasil mengalihkan fokus mereka yang semula tertawa.


"Apa kedua orang tua Jenna masih menghubungi kalian?"


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2