Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 56 ~ Gara-gara Papa


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Abyan kini memasuki halaman utama, beberapa anggota kluarga besar Adhitama terlihat sedang asik bercanda di teras rumah.


Pandangan mereka beralih menatap ke arah pasangan suami istri yang beberapa waktu lalu sukses membuat seisi rumah menjadi khawatir terutama Tuan dan Nyonya besar Adhitama.


Sorot mata mereka begitu tajam seakan ingin menelan Abyan dan Lestari hidup-hidup, membuat pasangan suami istri tersebut secepat kilat berlari masuk ke dalam rumah.


Di ruang tamu sampai ruang keluarga yang di lewati Abyan bersama istrinya sudah ada anggota keluarga lainnya ikut menyambut kedatangan keduanya.


Ada Tuan besar Hansen bersama Nyonya besar Ranila tengah duduk santai menatap datar ke arah sang putra dan menantu kesayangan mereka tanpa sambutan atau apapun itu.


Lestari bersembunyi dibalik punggung lebar milik suaminya, bagaimana mereka bisa lupa kalau ruang keluarga merupakan tempat paling nyaman pasangan baya tersebut.


Abyan bisa merasakan kedua tangan sang istri yang memeluknya dari belakang bergetar lumayan kuat, ia baru ingat wanita cantik kesayangannya itu sangat takut dengan kemarahan dari Papi dan Maminya.


"Hukum saja aku, biarkan istriku pergi." Serunya menatap tenang wajah datar milik Tuan Hansen juga Nyonya Ranila


"Istriku hanya mengikuti permintaan ku, mohon Papi dan Mami tidak memberinya hukuman." Hati Lestari tersentuh melihat sang suami yang membelanya di depan kedua mertuanya


Anggota keluarga Adhitama yang ikut menyaksikan tingkah konyol pasangan suami istri itu sekuat tenaga menahan diri agar tidak tertawa.


Tuan besar Hansen meminta sang menantu pergi ke lantai atas meninggalkan Abyan masih dalam posisi berdiri tegap siap menerima hukuman.


Namun, bukan sebuah hukuman yang akan pria itu dapatkan melainkan sebuah tugas penting. Melihat Lestari sudah menghilang masuk ke dalam lift baru Tuan besar Hansen angkat bicara.


"Mendekatlah kemari!" pintanya pada sang putra.


Abyan melangkah cepat menghampiri sang Papi yang duduk tenang di sofa panjang bersama Mami Ranila.

__ADS_1


"Kalian semua keluar lah! Ada yang ingin aku bicarakan dengan Abyan," ucap Tuan Hansen tegas.


Di rasa aman baru pria baya itu menceritakan perihal kedatangan seorang gadis dari masa lalu cucu bungsu kesayangannya.


Kedua tangan Abyan mengepal kuat dengan gigi mengatup rapat, sudah enam tahun berlalu untuk apa muncul kembali. Pikirnya


"Apa Abang sudah bertemu dengan gadis itu?" tanyanya dengan tidak sabaran.


"Tidak, hampir saja tapi langsung di cegah Papi," jawab Nyonya Ranila.


"Sepertinya kita harus bertindak cepat sebelum mereka kembali berulah," Tuan Hansen menatap tajam ke arah luar jendela.


"Apa perlu kita memerintahkan beberapa pengawal berjaga di dekat Abang sama Adek? Jujur saja, Mami sangat khawatir dengan kondisi mental Adek." Saran Nyonya Ranila


Kedua pria kesayangannya itu menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Abang sama Adek lagi apa?" tanyanya pada sang istri tercinta.


Hari sudah mulai sore, tetapi keberadaan pasangan muda yang resmi bertunangan tersebut masih belum nampak batang hidung mereka.


Belum sempat Nyonya Ranila menjawab, dari arah lift muncul Bibi sembari membawa nampan berisi piring kotor bekas tempat makan si manis Jenna.


"Bibi dari lantai atas?" tanya Abyan.


"Iya Tuan, beberapa menit yang lalu Nona muda bangun tidur langsung makan. Kalau Tuan muda sepertinya masih tidur," jawab Bibi langsung menjelaskan sebelum ketiga orang itu kembali bertanya.


Baik Tuan Hansen, Nyonya Ranila maupun Abyan mengangguk paham tidak lagi bertanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, Bibi ijin ke dapur dulu Tuan besar, Nyonya, dan Tuan." Pamit wanita baya tersebut


Bibi segera membalikkan tubuhnya berjalan pelan menuju arah dapur.


.


.


#Dalam Kamar


Lestari yang baru selesai membersihkan diri dan berpakaian lengkap, segera keluar dari dalam kamar.


"Abang sama Adek lagi apa ya?" gumamnya bertanya.


Kaki jenjangnya melangkah cepat menuju lift, letak kamar kedua anaknya berada di lantai paling atas.


Tring


Wanita cantik itu keluar dari lift dengan tergesa, tujuan pertamamya adalah kamar milik Jenna baru itu melihat ke kamar sang putra.


Ceklek


Jenna yang kebetulan membuka pintu kamarnya berpapasan dengan sang Mama yang hendak mengetuk pintu.


"Ya ampun, kenapa putri kesayangan Mama kelihatan kusut begini." Pekik Lestari sangat terkejut melihat penampilan Jenna


"Jangan bilang putra Mama juga sama? Astaga ... Semua ini gara-gara Papa."

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2