
Plak
Masih dengan wajah terkejut Jenna tanpa sadar menampar wajah tampan Aksa.
Bagian pipi sebelah kanan pria tampan itu terlihat memerah akibat bekas gambar tangan Jenna.
"Maaf, Abang." Ringis gadis itu menatap takut ke arah Aksa karena menghentikan mobil secara mendadak
Pria itu terdiam sejenak mencerna kejadian yang baru saja ia alami, tidak menyangka tanggapan refleks Jenna terhadap ajakannya berupa sebuah candaan saja berakhir wajahnya yang jadi korban.
"Tega kamu main tampar wajah Abang," keluh Aksa menatap kesal gadis manis yang duduk di sampingnya tersebut.
Jenna meringis kasihan sudah kelewatan menanggapi candaan pria itu.
"Ya maaf, Abang. Lagian juga kenapa Abang becandanya suka aneh." Sekuat tenaga Jenna menyembunyikan rasa gugupnya khawatir bagaimana jika Aksa berbuat nekat
Kejadian seperti ini pernah dia alami satu tahun yang lalu, bagaimana usai menampar sang Abang tanpa sengaja membuatnya berada di situasi tidak mendukung.
Aksa nekat membawanya ke hotel bahkan sampai mengurungnya di dalam kamar selama tiga hari tanpa ada niat buruk, hanya sekedar memberi hukuman padanya.
"Jenna minta maaf, Abang. Sumpah demi apapun tadi itu Jenna kaget waktu Abang nyebut mau nginap di hotel, lagian candaan Abang buat Jenna teringat ..."
"Sudahlah. Jangan mengungkit kejadian itu, Abang ngga suka." Potong Aksa cepat seraya menatap lembut Jenna
__ADS_1
"Abang sayang kamu, ngga akan pernah Abang nyakitin kamu meski hati Abang berulang kali merasakan sakit."
DEG
Hati Jenna mencelos mendengar pria tampan di sampingnya itu tanpa sadar mengungkapkan rasa sakitnya.
"Maaf ..." hanya itu yang dapat Jenna katakan meski jauh di dasar hatinya ingin berbicara jujur.
"Jangan membentengi dirimu dengan rasa takut yang sama, Aira." Ucap Aksa lirih menatap sendu wajah cantik Jenna yang tanpa sadar kedua matanya mulai berair
Gadis itu menggeleng pelan berusaha menahan gejolak dalam hatinya.
"No. Jangan menangis, Abang ngga suka." Pinta Aksa memelas tidak menyukai ada air mata keluar dari mata indah Jenna
"Kata siapa?" Aksa yang lelah memilih bersandar di punggung kursi menatap keluar jendela.
"Abang ngga suka kamu ngomong seperti itu," ungkapnya terus terang.
Entah mengapa udara di dalam mobil mulai terasa sesak dan dingin.
"Jenna sadar diri, Abang."
"Siapa Jenna sebenarnya dan apa status Jenna di keluarga Abang terutama Mama dan Oapa yang rela mengangkat Jenna menjadi putri mereka padahal Jenna bukanlah siapa-siapa."
__ADS_1
"Semua keluarga besar Abang menerima Jenna dengan baik tanpa menanyakan siapa Jenna dan bagaimana kehidupan masa lalu Jenna sebelum mengenal kalian."
"Terima kasih. Terima kasih banyak sudah memberikan rasa aman dan nyaman selama Jenna tinggal bersama kalian, bahkan ucapan tersebut Jenna rasa masih belum bisa membalas kebaikan dan kasih sayang kalian selama ini."
Wajahnya yang menunduk perlahan di angkat demi melihat wajah tampan milik sang Abang.
"Kedatangan mereka bukan tanpa sengaja kan? Melainkan semuanya sudah di atur oleh Mama dan Oapa." Ucapnya lirih menatap Aksa
"Abang kenapa ngga minta pendapat Jenna dulu sebelum menyetujui semuanya, hmm?" lidah Aksa terasa kelu tidak tahu harus menjawab apa.
Sebagai seorang putra yang mewarisi seluruh harta kekayaan milik Adhitama Group, memang fokus Aksa bukan pada pertemuan keluarga besarnya. Sehingga ia sendiri pun ikut kaget mengetahui adanya kunjungan dari anggota keluarga besarnya.
"Jangan diam ajah, Bang." Sentak Jenna kesal menatap tajam Aksa yang terdiam kaku
"Abang harus jawab apa, sayang?" balas Aksa bingung sebab ia hanya mengikuti perkataan Paoa Abyan dan Mama Lestari.
"Tanya Mama dan Papa bukan ke Abang! Semua ini terjadi karena mereka bahkan Abang baru tahu setelah kita turun dari kamar." Tambahnya berkata jujur apa adanya
Terdengar Jenna menghela nafas panjang demi menormalkan detak jantungnya.
"Ngga usah, tapi Jenna perlu waktu sedikit untuk menyetujui keputusan Mama dan Papa juga memikirkan kembali bagaimana permintaan Abang."
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1