
Papa Abyan dan Mama Lestari saling melempar pandangan.
"Mama ..." panggil Jenna mendapati kediaman pasangan suami istri tersebut.
Gadis itu melirik ke arah Aksa yang hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Ya sudah, kalau ngga ada yang mau di bicarakan lagi Jenna pamit ke kamar duluan ya." Ucapnya seraya bangkit dari sofa
Jenna tahu pertanyaannya barusan jelas tidak akan mendapatkan jawabannya.
Kembali ke kamarnya jauh lebih baik, terlebih menyaksikan raut wajah sulit di artikan dari kedua orang tua angkatnya semakin membuatnya tidak nyaman.
Aksa yang sedari tadi hanya diam ikut melangkah pergi tanpa menghiraukan panggilan Mama Lestari.
Kaki panjangnya berjalan cepat menyusul Jenna yang baru saja memasuki lift.
"Tunggu sayang," serunya menahan pintu lift lalu ikut masuk kedalam.
Jenna meraih jemari tangan kanan pria tampan itu demi mengecek apakah terluka atau tidak.
"Kebiasaan," dengusnya menatap tajam Aksa yang tertawa.
"Siapa suruh ninggalin Abang?" sahut Aksa pura-pura kesal.
Dahi Jenna mengkerut bingung.
"Ngapain di tunggu? Lagian masih ada Mama dan Papa di sana, Abang juga kenapa pake ikut kemari segala."
"Mama sama Papa udah masuk kamar," bohong Aksa sebenarnya tidak ingin berlama lama di ruang tengah.
__ADS_1
Ia tahu betul seperti apa kebiasaan Jenna ketika usai menanyakan perihal kedua orang tuanya, namun selalu saja tidak mendapatkan jawaban apapun dari Papa dan Mamanya.
Gadis manis itu akan mengurung diri dalam kamar enggan keluar dari sana sampai malam kembali menyapa.
Tring
Lift telah sampai di lantai atas.
Jenna melangkah keluar lebih dulu di ikuti Aksa yang mengekor di belakangnya.
Sampai di depan kamar gadis itu langsung berhenti membuat Aksa nyaris tersandung kakinya sendiri.
"Kenapa berhenti sih?" heran Aksa bertanya.
Sedetik kemudian ia tersenyum kecil menyadari rupanya gadis itu sudah tiba di depan pintu kamar.
"Abang ikut masuk bo--, ..."
Gadis manis itu membuka pintu kamarnya lalu bergegas masuk sebelum di sadari sang Abang.
BRAK
Hentakan pintu yang di tutup kuat bersamaan dengan dahi Aksa yang membentur benda bercat putih tersebut.
"Abang masuk kamar sendiri sana! Ngga usah ganggu Jenna," teriak gadis itu dari dalam kamar yang kini pintunya sudah tertutup rapat dan di kunci dari dalam.
Hentakan kaki Aksa terdengar jelas namun Jenna memilih acuh tidak ingin meladeni putra tampan Mama Lestari dan Papa Abyan tersebut.
Derap langkah kaki yang berjalan menjauh semakin pelan tidak lagi terdengar.
__ADS_1
Kemungkinan Aksa ikut masuk ke dalam kamar setelah gagal mendapat ijin masuk kamar dari Jenna.
.
.
Malam semakin larut tetapi kedua mata Aksa belum juga merasakan kantuk, tidak jauh berbeda dengan yang di alami Jenna.
Keduanya sama-sama sulit untuk tidur malam ini, terlebih kejadian tadi siang masih membekas di ingatan mereka.
Di satu sisi ada Jenna yang kembali memikirkan keputusannya untuk menerima lamaran sang Abang setelah dua tahun lamanya terus mendapat penolakan darinya menggunakan alasan yang sama.
Sementara di sisi lain tampak Aksa membayangkan akan seperti apa hubungannya bersama gadis manis itu nanti jika sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang SAH persis dengan apa yang ia harapkan selama dua tahun terakhir.
Mereka hanya tahu perasaan masing-masing tidak bertepuk sebelah tangan, tetapi jauh kedepan belum tentu masalah kecil maupun besar tidak akan menghampiri keduanya.
Menjalin pernikahan bukan hanya sekedar bersatunya dua insan yang saling mencintai, menyayangi dan setia sampai maut memisahkan.
Menikah bukan hanya karena ingin menghindari adanya fitnah, bukan semata ingin menjauhkan diri dari perzinahan apalagi mencari ridho dan restu sang kuasa, bukan juga demi menyatukan kedua keluarga yang sebelumnya tidak saling kenal.
Tetapi pernikahan yang di maksud akan terlihat nyata dan sempurna menurut versi manusia bila saling melengkapi kekurangan masing-masing, tidak mengungkit kesalahan masa lalu, menerima apa adanya pasangan yang di pilih oleh hati bukan karena ada apanya, saling lindungi dan menjaga hubungan tanpa terpengaruh oleh hasutan dari luar dan masih banyak lagi.
Hal itu kini berada dalam pikiran kedua insan yang sebentar lagi akan memantapkan diri menuju ke jenjang lebih serius.
"Semoga Abang menjadi pilihan pertama dan terakhir yang Allah kirimkan untuk ku." Jenna
🌸
"Akan aku pastikan sekarang dan nanti hanya ada satu nama bersemayam dalam hatiku, wahai dia yang cahayanya se indah Berlian." Aksa
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃