
Sampai di rumah, Jenna benar-benar mendiamkan semua orang terutama Aksa.
Pasalnya gadis manis itu sangat terkejut melihat keadaan rumah sudah di penuhi oleh keluarga besar Adhitama dari berbagai kota dan negara.
Kedatangan semua anggota keluarga dan kerabat terdekat Adhitama yang mendadak tanpa di ketahui Jenna membuat hatinya sedikit merasa kurang nyaman terlebih posisinya di rumah itu hanyalah seorang anak angkat bukan istri dari Aksa atau kerabat dekat.
Jenna sampai mengunci dirinya di kamarnya meski berulang kali Mama Lestari mengetuk pintu kamar, agar mau turun ke lantai bawah ikut bergabung dengan yang lain.
Cukup lama wanita cantik itu berada di depan pintu kamar sampai Aksa muncul dari arah tangga seraya melangkah lumayan cepat.
"Masih ngga mau buka pintu juga?" tanya pria tampan itu melihat sang Mama tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
Mama Lestari menggeleng pelan memperlihatkan raut wajah sedih bercampur kecewa mengetahui putri kesayangannya enggan keluar dari tempat persembunyian.
Hal itu membuat Aksa menarik napas pelan lumayan sulit bila harus merayu gadisnya untuk keluar kamar.
"Mama kan, pengen kenalin Adek pada mereka semua," ucap wanita itu lirih dengan mata sudah berkaca-kaca.
"Apa Mama salah menginginkan anak gadis kesayangan Mama juga di kenali keluarga kita?" lanjutnya yang kini air mata sudah mengalir tanpa bisa di tahan.
Aksa kalang kabut mendengar isakan tangis sang Mama yang lumayan kuat.
Bagaimana kalau sampai ada yang melihat atau mendengarnya. Panik pria itu
"Ya ampun, Mama. Jangan nangis begini dong. Kalau ada yang dengar bagaimana?" dengan cepat pria tampan itu meraih tubuh Mama Lestari untuk ia peluk berusaha menenangkan.
"Sudah ya, entar cantiknya hilang loh kalau Mama nangis kayak gini." Bujuk Aksa pelan seraya satu tangannya mengusap lembut punggung sang Mama
"Adek, Bang ..." adu Mama Lestari kesal sendiri.
"Iya nanti Abang yang bujuk Adek biar mau keluar dari kamar, OK?" rayu Aksa lagi.
"Sekarang Mama turun ke lantai bawah jangan sampai mereka curiga dan berniat naik kemari."
"Tapi Abang janji ya. Harus bisa bawa Adek turun, awas saja kalau Abang gagal." Mama Lestari menatap penuh selidik wajah tampan milik putranya sebelum akhirnya melangkah pelan menuju arah tangga
__ADS_1
Wanita cantik itu sudah turun ke lantai bawah untuk menemui semua anggota keluarga berharap mereka tidak curiga.
Di rasa sang Mama sudah menghilang dan tidak lagi terdengar langkah kaki saat menuruni tangga, baru lah Aksa mendekati pintu kamar Jenna.
Ia mengambil nafas lalu membuangnya perlahan sebelum memulai aksinya.
Tok tok tok
Ketukan pintu pertama di lakukan Aksa berharap gadis manis itu segera membukanya.
Satu menit, dua menit, tiga menit hingga sepuluh menit keadaannya masih sama seperti awal pintu di ketuk perlahan namun lama kelamaan berubah keras.
"Sayang buka ngga pintunya!" teriak Aksa kesal sendiri terus mengetik pintu kamar Jenna semakin kuat.
Sementara di dalam kamar yang penuh dengan berbagai macam boneka serta balon bertebaran di mana-mana seakan telinga Jenna mendadak tuli.
Gadis itu seketika malas dan jengkel tidur siangnya di ganggu oleh Mama Lestari dan juga sang Abang.
Tok tok tok
"Ya ampun ..." teriak kesal Jenna cepat bangkit dari sofa melangkah pelan menuju arah pintu yang ketukannya semakin menjadi-jadi.
Gadis manis itu sudah pasti tahu betul ulah siapa.
"Sayang ..."
"Aira ..."
"Jenna ..."
"Adek ..."
"Anak Mama ..."
"Sayangnya Abang ..."
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa belum juga di buka sih ..." pekik pria tampan itu mulai kehabisan cara.
Aksi nekat Aksa yang berteriak sambil terus memanggil Jenna dengan sebutan yang terlintas di benaknya seakan tidak peduli lagi akan ada orang yang mendengar atau melihatnya.
Tanpa pria tampan itu tahu dari balik pintu kamar sekuat tenaga Jenna berusaha menahan rasa kesalnya dan amarah yang siap meluap.
Perlahan pintu kamar di buka bersama dengan Jenna yang sudah bersiap ingin memukuli Aksa mengunakan bantal guling.
Ceklek
"Calon ISTRI ..."
Bugh
*B*ugh
*B*ugh
"Aww, aww ... Sakit sayang," teriak Aksa berusaha melindungi kepalanya yang di pukuli Jenna.
"Ngapain teriak-teriak di depan kamar Jenna?" sentak gadis itu menatap tajam Aksa yang terdengar meringis pelan.
Kupingnya terasa gatal dan panas karena ulah jahil pria tampan itu.
"Udah dong, Raa. Jangan pukul lagi," keluh Aksa secepat kilat menahan kedua tangan Jenna agar berhenti.
"Lepas, Abang!" geram gadis itu menyadari tatapan mata Aksa mulai aneh.
Pria tampan itu tersenyum menyeringai mengamati wajah panik Jenna.
"Berhenti atau ..." ucapnya menggantung.
"Atau apa?" tanya gadis itu panik.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1