Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 23 ~ Meminta Maaf


__ADS_3

Semenjak kejadian di pesta semalam, Aksa tidak menunjukkan batang hidungnya di hadapan sang Papa Abyan maupun kedua bidadari kesayangannya.


Rasa kesal dan marah masih bersemayam dalam hati pria tampan itu, apa jadinya bila saat itu ia tidak pergi menjemput Jenna dan Mama Lestari.


Mungkin bukan hanya pertengkaran bersama seorang pria yang dulu pernah menjadi sahabat dekat Aksa yang terjadi, melainkan masalah besar bisa saja di alami oleh kedua bidadari kesayangannya itu.


Tok tok tok


Ketukan pintu ruangan milik Dosen tampan namun galak kata Jenna itu mengusik ketenangan sang pemilik ruangan.


Siapa lagi kalau bukan Aksa, sedari pagi ia sengaja mengurung diri dalam ruangan tanpa mau keluar sekedar melihat keadaan kampus atau mencari tahu kegiatan apa yang di lakukan si gadis manis kesayangannya, Jenna.


Tok tok tok


Lagi-lagi pintu ruangan bercat abu-abu tersebut kembali di ketuk, tetapi kali ini lebih keras dan tidak sabaran.


Hal itu membuat telinga Aksa sakit, dalam keadaan malas bergerak ia bangkit dari tempat duduk menuju pintu yang masih di ketuk.


Tok tok ...


Ceklek


"Ada ..."


BUKK

__ADS_1


Kalimat Aksa langsung terputus kalah merasakan tubuhnya hampir saja terjungkal ke belakang.


Ia menyadari siapa sosok yang kini memeluknya lumayan erat dan sepertinya tengah menangis.


Jenna, pelaku yang sedari pagi uring-uringan hanya karena di abaikan oleh pria tampan itu, saat ini memeluk erat tubuh tinggi kekar sang Abang.


"Maafin Jenna. Sungguh bukan maksud Jenna semalam buat Abang kesal dan marah. Jenna hanya bercanda saja, Mama yang nyuruh Jenna mengirim pesan ke Abang. Kenapa Jenna ikut di salahin sih, harusnya cukup Mama saja yang Abang diemin. Kenapa malah Jenna ikut di diemin juga?" Oceh gadis manis itu mengeluarkan apa yang ia pendam sedari pagi


Aksa hanya diam tanpa membalas pelukan Jenna, masih terngiang jelas wajah menjijikkan putra dari teman sosialita sang Mama pada malam itu.


Bagaimana dengan tidak tahu malunya pria itu menatap intens penuh arti ke arah Jenna, belum lagi di antara mereka sampai terjadi perdebatan sengit.


Jika tidak mengingat ada banyak tamu undangan yang menonton mereka, sudah pasti pria itu habis babak belur di tangan Aksa.


.


.


Dimana gadis manis itu belum juga mengangkat wajahnya yang bersembunyi di dada bidang Aksa dan melepaskan pelukannya dari tubuh pria tampan itu.


Jenna sungguh tidak perduli bila ada orang lain melihat aksi nekatnya karena berani memeluk seorang Dosen di area kampus.


"Aira," seru Aksa mencoba melepaskan diri namun rasanya mustahil.


"Hey, jangan peluk terlalu kencang. Abang nggak bisa nafas sayang."

__ADS_1


Tangan besarnya mengusap lembut surai panjang dan hitam milik gadis manis kesayangan Mamanya tersebut.


Mendengar nada serak milik pria tampan itu, sontak Jenna melepas pelukannya kemudian mendongak.


"Janji dulu nggak akan lagi diemin Jenna," pinta gadis manis itu dengan nada memohon.


Melihat wajah memelas namun menggemaskan Jenna saat menatapnya penuh harap, Aksa kalah telak dengan pesona mata indah miliknya.


"Ini nih yang bikin Abang nggak fokus kalau ketemu kamu," ucap Aksa jujur seraya menatap penuh sayang salah satu bidadari kesayangannya itu.


Mata indahnya selalu saja membuat hati seorang Aksa langsung luluh seketika meski kesalahan yang di perbuat Jenna sangat fatal dan membuatnya sakit kepala.


Jenna masih setia menatap wajah tampan sang Abang walau sedikit kesulitan sebab dia harus mendongak.


"Abang nggak ada niatan gitu buat ngajak Jenna masuk, di kira nggak sakit apa nih leher." Kesalnya menatap horor Aksa dengan mulut mencibir


"Kena cium baru tahu rasa," goda Aksa justru sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Jenna.


Bahkan hidung keduanya sudah bersentuhan, Jenna dapat merasakan hembusan nafas hangat Aksa menyapu wajahnya.


"Tahan dulu, ciumnya kalau sudah halal." Kekeh Aksa malah menjitak pelan dahi Jenna yang meringis sakit


"Wah Abang ngajak berantem," cicit gadis manis itu berlari masuk ke dalam ruangan mengejar Aksa.


Niat awal Jenna hanya ingin meminta maaf saja, siapa sangka justru keduanya justru terhanyut dalam perasaan masing-masing.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2