Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 70


__ADS_3

Hari yang selalu di hindari Aksa selama berada di rumah sakit pun akhirnya tiba.


Beberapa Dokter dan perawat sudah bersiap, tinggal menjemput Aksa yang masih betah memeluk Jenna di sebuah ruangan tidak jauh dari ruang operasi.


Gadis manis itu tanpa henti mengeluarkan cairan bening saking takutnya, ada rasa kurang nyaman timbul dalam hatinya kala harus merelakan sang kekasih di operasi. Belum lagi, dia hanya seorang diri tanpa ada yang ikut menemani.


Pasangan suami istri yang semula bertugas mengawasi mereka, sedang terjebak kemacetan saat menuju arah rumah sakit.


Jenna sudah di beritahu agar tetap tenang dan jangan panik, tetapi gadis itu justru kehilangan kendali setelah waktunya sudah tiba.


Beruntung Aksa bisa menenangkannya tanpa adanya drama apapun, sehingga gadis kesayangannnya itu akhirnya mulai berhenti menangis, walau sesekali masih terdengar isakan kecil dari bibir mungilnya.


Aksa menangkup wajah sembab Jenna sembari tersenyum hangat, menghapus sisa kebasahan di pipi mulus gadis manis itu seraya berkata.


"Yakinkan hatimu jika semuanya akan baik-baik saja, hmm?" pintanya membelai lembut wajah cantik alami pemilik hatinya tersebut.


Jenna hanya menganggukkan kepalanya pelan, rasanya begitu sulit untuk mengeluarkan apa yang mengganjal hatinya saat ini.


"Abang harus kuat dan sembuh," lirihnya kembali menitikkan air mata.

__ADS_1


"Sshht, jangan menangis, sayang. Hati Abang sakit," mohon Aksa tidak kuasa melihat Jenna bersedih.


Mereka kembali berpelukan demi meluapkan perasaan masing-masing.


.


.


Hampir tiga puluh menit sudah berlalu, akhirnya Jenna melepaskan Aksa menuju ruang operasi.


Gadis itu sudah di temani oleh pasangan suami istri yang beberapa menit lalu baru saja tiba di rumah sakiy bersama si kembar.


Ada Shafia menjadi penenang Jenna selagi keponakannya menjalani operasi sampai beberapa jam kedepan.


Mereka semua datang ke negara itu untuk melihat Aksa dan Jenna, sekaligus menunggu operasi pawaris Adhitama tersebut selesai.


Lestari dan Abyan rasanya sudah tidak sabar ingin segera tiba di rumah sakit. Keduanya mengkhawatirkan Jenna yang jelas dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Karena pada kenyataannya gadis itu memang tidak berhenti menangis, meski sudah ada Shafia berusaha menenangkannya.

__ADS_1


"Adek pasti takut, Pah." Ucap Lestari yang gelisah memikirkan keadaan putri angkatnya tersebut


"Mama yakin pasti sekarang Adek lagi nangis, soalnya hati Mama ngga tenang, Pah."


"Tenang ya, Mah. Pasti Shafia udah bantu menenangkannya," sahut Abyan sejujurnya bingung harus melakukan apa.


Ia tidak kala khawatirnya memikirkan sang putra kini tengah melakukan operasi demi kesembuhannya.


"Papa yakin semua akan baik-baik saja."


Abyan sudah menghubungi pihak rumah sakit, terutama Dokter yang bertugas menangani jalannya proses operasi yang Aksa lakukan.


Ia masih ingat, sewaktu Dokter mengatakan jika besar kemungkinan Aksa jauh dari resiko yang mengakibatkan hilang ingatan atau koma.


Semua itu karena dari hasil pemeriksaan sebelumnya, tidak perlu sampai melakukan tindakan yang berlebihan selama operasi berlangsung. Selain hanya membersihkan sisa-sisa darah kotor juga mengembalikan beberapa fungsi saraf yang sempat terhambat akibat terlalu lama di tunda dalam masa pengobatan.


Mau marah pun rasanya Abyan tidak bisa, karena semua kembali lagi pada keputusan Aksa yang dulu sempat menolak keras pergi berobat sebelum mendapatkan jawaban dari seorang gadis yang berhasil menguasai hati pria tampan itu.


"Sepertinya peran Jenna memang sangat besar dalam hidup Abang. Benar kan, Mah?"

__ADS_1


Lestari hanya menggangguk, tidak mau banyak bicara karena fokusnya hanya tertuju pada gadis manis itu.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2