Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 38 ~ Ujian Dadakan


__ADS_3

#Pagi Hari


Di ruang makan sudah ada Nyonya besar Adhitama sibuk menata makanan dan minuman sebelum yang lainnya turun.


Lestari sengaja bangun lebih awal demi menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan kedua anak kesayangannya.


Dari arah dapur Bibi datang membawa sepiring kue bolu kesukaan si gadis manis yang sebentar lagi akan menjadi pendamping Tuan muda Adhitama.


"Yang ini udah dingin Nyonya," seru Bibi sembari meletakkan sepiring kue bolu di atas meja makan.


"Ada lagi Nyonya?" tanyanya pada Lestari yang menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Bibi kembali ke dapur setelah di rasa semuanya sudah beres, hanya tinggal menunggu yang lainnya turun ke bawah untuk sarapan.


Di dalam kamar yang di tempati putri angkat Adhitama, terdengar suara alarm begitu nyaring menggelitik indra pendengaran.


Akan tetapi, benda berbentuk mini tersebut sepertinya tidak berhasil membangunkan Jenna dari mimpi indahnya.


Si gadis manis rupanya begitu nyaman terbuai mimpi setelah semalaman puas berperang dengan hati dan pikirannya.


Ceklek


Aksa menarik nafasnya pelan setelah pintu terbuka melihat pemandangan kamar milik gadis manisnya tampak masih gelap hanya sedikit cahaya masuk dari sela-sela jendela kamar.

__ADS_1


"Anak ini belum bangun," gumamnya menggelengkan kepala seraya berjalan masuk.


Kakinya melangkah pelan menuju arah tempat tidur, seketika ide jahil muncul di otak Aksa yang kini sudah berada tepat di sisi king size bermotif doraemon itu.


Bukk


Tanpa perasaan Tuan muda Adhitama tersebut menindih gumpalan selimut tebal yang di dalamnya terdapat tubuh mungil Jenna.


Pekikan nyaring gadis itu menandakan mimpi indahnya telah berakhir akibat ulah jahil Aksa.


"Abang minggir," kesal Jenna berusaha mendorong tubuh sang Abang dengan susah payah.


"Pengap Abang, ngga bisa nafas." Adunya


Senyum manis menghiasi wajah baru bangun Jenna yang terlihat sangat cantik di mata Aksa.


"Morning Abang," sapanya seraya bangun di bantu pria tampan itu.


"Morning sayang ... lekas mandi habis itu kita sama-sama turun ke bawah." Balas Aksa


Gadis itu mengangguk cepat berhasil mengumpulkan kesadarannya.


"Siap Abang." Kekeh Jenna melangkah pelan ke arah kamar mandi

__ADS_1


Sedangkan Aksa memilih duduk di sofa panjang sambil menonton TV.


Lima belas menit kemudian keduanya turun ke lantai bawah langsung menuju ruang makan di mana sudah ada Mama Lestari dan Papa Abyan tengah asyik melempar candaan.


"Morning, Papa--, Mama." Sapa Aksa dan Jenna bersamaan


"Morning sayang," balas Mama Lestari yang tersenyum hangat.


"Morning. Ayo duduk! Kalian membuat waktu berharga Papa terbuang sia-sia," sambung Papa Abyan pura-pura kesal.


Pagi ini mereka sarapan dengan tenang sesekali di barengi obrolan ringan.


Usai sarapan Papa Abyan pamit lebih dulu menuju perusahaan, sementara Aksa dan Jenna sebentar lagi baru berangkat ke kampus bersama.


Lima menit kemudian keduanya ikut berpamitan pada Mama Lestari mengingat hanya tersisa sedikit waktu sebelum ujian di mulai.


Aksa membawa mobil dengan kecepatan sedang keluar dari halaman rumah menuju arah kampus.


Sudah pasti Jenna akan disibukkan dengan ujian dadakan yang di berikan pria tampan itu, apalagi semalam dia sama sekali tidak belajar materi yang Aksa berikan.


"Awas ajah kalau Abang kasih soalnya yang susah di jawab."


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2