Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 33 ~ Menjadi


__ADS_3

Aksa terdiam kaku mendengar perkataan gadis itu barusan, ia rasa pendengarannya sedikit terganggu masih kurang jelas dan ingin Jenna mengulangnya kembali.


"Kamu bilang apa? Bisa di ulangi!" pintanya sudah memasang telinga baik-baik.


"Yang mana?" tanya Jenna bingung.


"Yang terakhir kamu ngomong, sayang." Gemas Aksa rasanya ingin sekali menggigit kedua pipi chubby gadis itu



Helaan nafas panjang berhembus keluar dari hidung mancung Jenna.


Meski dalam kondisi malas berbicara pada akhirnya gadis itu tetap mengulang kembali perkataannya.


"Kasih Jenna waktu! Mungkin tawaran Abang bisa Jenna pikirkan kembali," ulangnya seraya menatap keluar jendela karena malu dan gugup.


"Abang tentu paham kan, tanpa harus Jenna utarakan?" tambahnya berusaha menormalkan detak jantung khawatir di dengar Aksa.


Kedua tangan gadis itu bergetar pelan antara gugup dan takut.


"Terima kasih, Abang tunggu jawaban kamu." Balas Aksa tersenyum tipis namun hatinya sedikit takut


Bagaimana jika pada akhirnya hanya penolakan kesekian kalinya justru pria itu terima.


Sentuhan tangan Aksa di punggung tangan putih mulusnya mengagetkan Jenna.


"Kenapa?" tanyanya bingung memperhatikan raut wajah sedih milik pria tampan itu.


"Abang takut," jawab Aksa lirih menatap sendu.


"Bagaimana jika ujung-ujungnya kamu tetap seperti itu? Mungkin Abang takan sanggup lagi terus berada di--,"

__ADS_1


"Percayalah padaku kali ini saja, hmm!" pinta Jenna memelas sengaja memotong perkataan Aksa.


Dia tidak ingin lagi mendengar kalimat kekecewaan keluar dari mulut pria itu.


"Abang takut, sayang." Ungkap Aksa jujur dengan mata mulai berembun


Jenna menggelengkan kepalanya pelan.


"Justru Jenna yang harusnya merasakan ketakutan itu, selama ini ada sesuatu yang Jenna sembunyikan dari Abang. Tapi ..."


"Tapi apa?" tanya Aksa penasaran.


Sebenarnya ini bukan yang pertama kali mereka berdebat hanya karena masalah betapa kerasnya Jenna menahan diri enggan membuka hati.


Aksa rela melakukan apapun agar gadis itu mau bercerita, namun usahanya tidak membuahkan hasil selain hanya ada rasa sakit berulang kali yang ia terima


Dan sekarang ia tidak ingin merasakannya lagi, berharap semoga saja gadis manis yang lima tahun ini terus bersamanya mau membuka hati.


"Kasih Jenna waktu, yaa!" pinta Jenna kembali memang hanya itu yang dapat dia katakan.


"Capek sayang kalau harus nunggu lama kayak kemarin-kemarin," keluhnya.


"Ya ngga usah nunggu juga kali, Bang. Memangnya Jenna kendaraan pake di tunggu segala," kesal gadis itu balas menatap Aksa.


Perjalanan mereka tidak tahu arah tujuan kemana mobil Aksa berhenti.


Tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu membawa Jenna sampai pada titik dimana mundur salah, melangkah maju belum pasti akan bagaimana akhirnya.


Semula Jenna hanya ingin menyelesaikan kuliah yang tinggal dua tahun lagi selesai, namun tidak menyangka dia justru terkurung dalam istana yang sengaja di bangun orang tua angkatnya serta Aksa.


Bagaimana dia bisa pergi begitu saja, sedangkan kehadiran Papa dan Mama Aksa merubah semua jalan hidupnya, yang semula tanpa cahaya kini di penuhi cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


Dering ponsel di dalam tas membuyarkan lamunan gadis itu.


"Siapa yang telfon?" tanya Aksa penasaran melihat Jenna meraih benda pipih tersebut.


"Mama," jawab gadis itu langsung mengangkat telefon dari Mama Lestari.


Terdengar suara keributan membuat Aksa mengerutkan dahinya penasaran.


"Hallo, Mama" jawab Jenna pelan.


[Kalian di mana?]


Jenna melirik Aksa sebelum menjawab.


"Di jalan, Mah. Kata Abang bosan di rumah banyak sepupu Abang takut gangguin Jenna."


[Maaf ya, Mama udah buat Adek tidak nyaman].


"Ngga kok, Mah. Lagian Jenna malah senang di ajak sama Abang jalan-jalan sebenatar, habisnya sumpek kalau di kamar."


[Ya sudah, bilang sama Abang jangan pulang larut malam].


"Beres Mah, nanti Jenna kabarin Mama kalau udah pulang."


Tutt


Sambungan telfon terputus.


Sepanjang perjalanan yang entah kemana arah tujuannya di barengi obrolan ringan demi mengusir rasa bosan.


Sesekali Aksa menggoda Jenna sampai membuat kedua pipi gadis itu mengeluarkan semburat merah.

__ADS_1


"Kapan status mu berubah menjadi istriku."


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2