Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 54 ~ Benalu


__ADS_3

Aksa keluar dari kamar Jenna setelah memastikan gadis manis kesayangannya tersebut benar-benar sudah terlelap.


"Tuan muda mau kemana?" tanya Bibi heran, melihat Aksa hendak masuk ke dalam lift yang terbuka lebar.


"Ke lantai bawah, Bik. Ada yang ingin Abang pastikan," jawab Aksa pelan tanpa menoleh.


"Jangan bilang gadis yang datang tanpa undangan itu?" tebak Bibi.


"Benar, Bik. Semoga ajah Papa dan Mama belum melihat kehadirannya di sana, Bibi jangan kasih tahu Adek dulu ya!" mohon Aksa dengan kedua tangan menyatu di depan dada.


Wanita baya itu menghela nafas panjang sebelum menjawab, ada perasaan gelisah hinggap di hatinya kala mengetahui sosok gadis cantik yang dulu begitu mengagumi Tuan mudanya datang kembali.


Apa yang akan Tuan muda lakukan? Bathinnya bertanya.


Semoga saja apa yang di khawatirkan Bibi tidak terjadi.


"Baik, Tuan muda. Semoga kedatangan gadis itu bukan untuk menjadi duri dalam hubungan kalian, Bibi hanya bisa mendoakan yang terbaik." Dengan terpaksa wanita baya tersebut mengiyakan permohonan Aksa


Bukan haknya menolak apalagi sampai ikut campur dalam masa lalu sang pewaris Adhitama selanjutnya tersebut, tetapi bila sudah menyangkut ketenangan Nona mudanya sudah pasti wanita baya itu berdiri paling depan untuk melindungi.


.

__ADS_1


.


#Halaman Depan Kediaman Abyan Adhitama


Aksa di sambut ramah oleh anggota keluarganya, sebagian sepupu laki-laki dan perempuannya ikut andil dalam membereskan tempat acara.


Adapun Lestari dan Abyan tidak tahu kemana perginya pasangan suami istri tersebut, keberadaan mereka di pertanyakan namun sepertinya tidak ada yang melihat.


"Abang kenapa keluar? Bukannya jagain Adek di dalam malah datang kemari, tidak takut Adek bangun terus nyariin Abang?" omel Nyonya besar Adhitama dengan pertanyaan beruntun.


Belum sempat Aksa menjawab suara berat nan datar penuh intimidasi milik Tuan besar Adhitama langsung mengurungkan niatnya.


"Jangan coba-coba Abang berani menemui gadis itu! Kakek sudah tahu kedatangannya hanya untuk mengacaukan semuanya." Tegas Tuan Hansen tidak ingin dibantah


Tapi itu dulu, sebelum kecelakaan yang menimpa putra tunggal Abyan dan Lestari tersebut nyaris merenggut nyawa.


"Kembalilah ke dalam, temani cucu menantu Kakek!" titah Tuan Hansen pada sang cucu bungsu kesayangan.


Sebelum Aksa kembali masuk ke dalam rumah, pria baya tersebut memeluknya penuh kasih sayang. Apapun yang pernah terjadi dimasa lalu cucunya tidak boleh sampai terulang kembali, sudah cukup penderitaan yang menimpa keturunannya itu.


"Pastikan Adek makan setelah dia bangun ya, Bang?" pesan Nyonya Ranila dengan senyum hangat.

__ADS_1


"Siap Eyang," kekeh Aksa sudah berlari masuk ke dalam rumah untuk menemani pujaan hatinya.


Beruntung ia masih sempat di cegah pasangan baya tersebut, jika tidak. Bisa dipastikan keinginannya untuk menemui gadis itu terkabul.


Tring


Aksa keluar dari lift setengah berlari membuat Bibi sampai keheranan menyaksikan tingkah anehnya.


"Eeh, kenapa Tuan muda balik lagi? Katanya tadi ingin menemui gadis itu, sekarang apa lagi?" sosor Bibi dengan pertanyaan.


"Jangan masuk dulu!" cegahnya di depan pintu kamar.


Melihat tingkah Bibi yang melarangnya untuk masuk ke dalam kamar, Aksa menatap wanita baya itu bingung.


"Bibi kenapa larang Abang masuk sih?" protes si tampan dengan wajah masam.


"Mandi dulu sana! Pasti bau keringat habis lari-lari, iya kan?" jawab Bibi tanpa rasa bersalah.


Aksa mencium ketiaknya apakah bau keringat atau tidak, ia tertawa geli menyadari sekujur tubuhnya penuh dengan keringat.


"Tungguin Abang ya! Awas kalau Bibi ninggalin Abang," pintanya sedikit mengancam.

__ADS_1


"Mandi yang bersih Tuan muda! Kumannya banyak apalagi tadi sempat di lihat oleh Benalu, ehh."


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2