Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 39 ~ Kenyataan Dadakan


__ADS_3

#Ruang Kelas


Tepat sepuluh menit setelah Jenna memasuki ruang kelas di mana semua teman-temannya begitu sibuk belajar.


Aksa memasuki ruangan tanpa senyum membawa tumpukan kertas putih dalam genggamannya.


"Pagi Kak," sapa mereka bersamaan.


"Pagi semuanya, hari ini sudah tahu akan ada ujian dadakan dari saya bukan?" tanya Aksa tanpa melihat ke arah mereka.


Semuanya menjawab iya kecuali Jenna dan Amira tengah asyik dengan obrolan mereka sendiri.


Telinga Aksa menangkap dengan tajam apa yang membuat kedua gadis itu sesekali tertawa kemudian kembali asyik bercerita tanpa menyadari hawa di dalam ruangan berubah dingin dan mencekam.


Beberapa dari mereka berusaha memanggil Jenna atau Amira namun hasilnya nihil.


Isi percakapan dua anak gadis itu.


"Kemarin kenapa ngga masuk?" tanya Amira penasaran.


Jenna menoleh ke arah samping, "Keluarga besar Abang kemarin sudah pulang ke negara mereka masing-masing, aku sama Abang di minta jangan masuk kampus dulu." Jawabnya santai


Tetapi Amira belum merasa puas dengan jawaban yang Jenna berikan.


"Cuma itu doang, ngga ada yang lain lagi? Apa kek," sosornya masih penasaran.


Jenna memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Ngga usah banyak nanya, lagian kamu aneh tahu ngga. Bertanya di waktu yang tidak pas seperti sekarang," kesalnya sengaja menunjuk ke arah depan tepat di mana Aksa berdiri tegap dengan mistar panjang di salah satu tangannya.


Kedua mata Amira membulat sempurna begitu bodohnya sampai melupakan siapa dosen yang pagi ini mengadakan ujian dadakan tersebut.


Tatapan mata Aksa menyorot tajam siap memberikan hukuman pada siapa saja yang berbicara apalagi mengabaikannya seperti sekarang.


Jenna tahu seperti apa pria tampan itu ketika marah.


Satu, dua, tiga. Hitungannya dalam hati dan--,


"Aira Jenna Mehrunissa," panggil Aksa datar.


"Iya Abang say ... Eeh salah, maksudnya iya Kak," sahut Jenna merutuki kebodohannya.


Dalam hati mengumpat kesal hampir saja lidahnya mengucap kata sayang di hadapan seluruh teman sekelasnya.

__ADS_1


Ampun ... Mau di taru kemana muka aku kalau sampai nih lidah kepeleset lagi.


Baik Amira dan semua yang berada dalam ruangan tersebut secara alami menoleh ke arah Jenna penuh tanda tanya.


"Apa liatin aku kayak gitu? Macam ngga pernah lihat orang salah ajah," ketus Jenna menatap jengah seisi ruangan.


Ide jahil Amira seketika muncul ingin sekali mengerjai sang sahabat, tidak apa 'kan menganggu Jenna?


"Kalian tahu ngga?" serunya bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari Aksa lalu bergantian menatap ke arah Jenna.


Semuanya menjawab serentak ikut terbawa suasana.


"Mau ngapain, Raa?" geram Jenna mencubit paha mulus Amira.


"Oyy, kamu pikir nih kulit aku modelan Squeshy." Sentak Amira menghempaskan tangan Jenna sedikit kasar


"Kamu yang bilang ya, bukan aku," balas Jenna tidak mau mengalah.


"Dasar gadis bar-bar," sungut Amira.


"Kamu tuh yang gadis pecicilan."


"Idih, anak manja."


"Aku anak kesayangan Mama, catat."


Alhasil, Janna mulai terbawa emosi hanya karena salah berucap justru malah jadi bahan ledekan sahabat laknatnya itu.


"To the point. Mau kamu apa?" masa bodoh kini seisi ruangan menyaksikan pertengkaran mereka.


Amira tersenyum menang berhasil memprovokasi si gadis manis kesayangan Aksa tersebut.


"Kamu tahu ngga Naa--,"


"Jangan berbelit-belit, aku males," potong Jenna.


"Cih, biasa ajah." Cebik Amira kembali menatap ke arah pria tampan yang masih dalam posisi berdiri tegap diam menyaksikan


Hihi kayaknya bakal ada hukuman bersihin lapangan. Jeritnya dalam hati


Tidak menyenangkan kalau rencananya kali ini gagal.


"Sebenarnya aku tuh udah lama suka sama Kak Aksa, kasih aku ajah ya, Naa?" ucap Amira lantang membuat seisi ruangan tercengang dengan mata membulat sempurna.

__ADS_1


Tawanya langsung pecah menyaksikan raut wajah penuh permusuhan Jenna siap melayangkan buku tebal ke arahnya.


"Kamu bilang apa tadi, hmm? Aku ngga dengar soalnya."


Jenna menatap nyalang ke arah pria tampan tersebut sebelum kembali menatap Amira.


"Bilang apa tadi?" ulangnya bertanya.


Amira menarik sudut bibirnya ke atas merasa tertantang.


"Kenapa, kamu ngga terima kalau aku suka sama Kak Aksa?"


"Maksud kamu, mau nyari ribut?" mendadak kepala Jenna langsung panas.


"Ngga juga sih, tapi itulah kenyataannya kalau aku terlanjur suka sama Kak Aksa."Jawab Amira tersenyum puas berhasil menyalakan api cemburu sahabatnya


Sedetik kemudian gadis itu siap berlari.


"Kak Aksa tolong Amira ..." pekiknya berlari cepat ke arah Aksa demi menghindari amukan Jenna.


Panas dan hawa ruangan mulai terasa dingin.


Amira yang berhasil sembunyi di balik punggung Aksa tanpa henti tertawa aksi nekatnya berhasil dengan melihat kemarahan Jenna.


Sedangkan Aksa hanya bisa menghela nafas panjang terlalu pusing meladeni tingkah kenakalan dua anak gadis itu.


"Jangan nakal, sayang." Peringatnya menyadari tatapan penuh dendam gadis manisnya yang melangkah cepat ke arahnya


"Minggir Abang," pinta Jenna dingin.


"Kembalilah duduk!" titah Aksa tegas.


"Ngga mau," tolak Jenna enggan menuruti ucapan pria tampan itu.


"Duduk atau Amira ..." ucapan Aksa terputus kala gadis manis itu secepat kilat menyela.


"No! Abang cuma punya Jenna," pekiknya langsung berhambur ke dalam pelukan Aksa.


Telinga Jenna panas mendengar kata suka keluar dari mulut sahabatnya.


Sementara di sisi lain tampak jelas raut wajah kaget dan kecewa sebagian mahasiswi saat menyaksikan di hadapan mereka sendiri bagaimana Aksa memeluk sayang sembari mencium kening Jenna begitu lembut.


Jeritan penuh kekecewaan terdengar jelas bukan lagi ujian dadakan membuat mereka sedih melainkan kenyataan begitu mendadak perihal hubungan Jenna dan Dosen tampan tersebut yang melemaskan semangat mereka.

__ADS_1


Sementara Amira justru sudah berpindah tempat duduk memilih aman dari pada menerima amukan.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2