Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 45 ~ Ya Ampun Mama


__ADS_3

Aksa sudah masuk ke dalam kamar miliknya, sementara Jenna kembali naik ke lantai atas usai mengambil buku yang katanya tertinggal di ruang tengah.


Tring


Baru saja pintu lift terbuka, dari arah kamar milik Aksa terlihat Lestari berjalan pelan menuju kamar Jenna.


"Mama ..." seru gadis manis itu memanggil Mama Lestari.


Jenna berjalan cepat sampai di depan kamar miliknya.


"Loh, Adek dari mana?" tanya wanita cantik itu setelah Jenna sudah berdiri tepat di hadapannya seraya tersenyum manis.


"Dari ruang tengah, ambil buku tadi ngga sengaja ketinggalan di atas meja," jawabnya.


Gadis manis itu segera membuka pintu kamarnya agar sang Mama ikut masuk ke dalam.


Ceklek


"Ayo masuk, Mah!" ajaknya membiarkan Mama Lestari memasuki kamar lebih dulu.

__ADS_1


Pintu kembali di tutup rapat setelah keduanya sudah berada di dalam kamar, seperti biasanya Jenna membawa sang Mama duduk di sofa panjang yang berada di sudut kamar.


"Mama tunggu sini bentar ya, Jenna mau taruh bukunya di tas dulu. Takut nanti lupa," ucapnya seraya berjalan cepat menuju lemari pakaian.


Lestari yang lupa tujuannya menemui sang putri karena apa berusaha untuk mengingatnya.


"Ah iya, sampai lupa apa tujuan ku datang kemari," rutuknya pelan sembari memastikan keberadaan Jenna.


Melihat sang putri berjalan pelan ke arahnya membuat jantung Lestari mendadak berdetak kencang.


Dalam hatinya merutuki diri sendiri hanya karena belum menceritakan perihal acara pertunangan yang akan di adakan minggu depan.


"Mama jahat," gumam Jenna masih bisa di dengar Lestari.


"Kenapa cuma Jenna yang belum di kasih tahu, sih?" sambungnya terdengar kesal.


Jenna melepaskan pelukannya dari sang Mama demi melihat wajah cantik dan tatapan teduh yang selalu membuatnya luluh.


"Kata Abang, minggu depan akan di adakan acar pertunangan. Benar Mah?" Wanita itu mengangguk pelan sebagai jawaban.

__ADS_1


"Mama ngga mau terlalu lama menunda waktu baik lagi, sayang. Apalagi kalian berdua sudah tinggal serumah, apa kata orang nanti mengenai keluarga kita?"


Jenna meringis pelan tidak tahu harus berbicara apa lagi, terlebih yang di katakan Mama angkatnya itu semuanya benar.


Mungkin sudah waktunya dia keluar dari zona nyaman yang mengurungnya terlalu lama.


"Ya udah, Jenna ikut apa kata Mama dan Papa. Gimana baiknya menurut kalian insya Allah kedepannya Jenna sama Abang jauh dari fitnah dan dosa." Tanpa beban Jenna mengatakan apa yang ada dalam hatinya


"Mama, Papa juga Abang sudah berhasil membawa Jenna keluar dari rasa takut dan trauma masa lalu, apalagi yang Jenna khawatirkan sementara bersama kalian sudah membuat hidup Jenna mengalami banyak perubahan." Ungkapnya jujur dengan mata bekaca-kaca


Lestari langsung memeluk erat putri kesayangannya itu saking terharu dan sangat bahagia.


"Jangan pernah lagi mengungkit semua yang pernah terjadi di masa lalu, OK?" pintanya lirih begitu takut Jenna kembali merasa terpuruk dan berada dalam bayang-banyang masa lalu.


"Mama tenang ajah, Jenna ngga akan lagi menjadikan masa lalu sebagai dinding kokoh pemisah antara Jenna dengan Abang. Kapok Mama ..." rengek gadis manis itu kembali menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan Lestari.


Keduanya sangat nyaman dan betah berlama-lama masih saling berpelukan tanpa peduli teriakan dari arah pintu kamar seakan ingin menghancurkan benda mati tersebut.


"Ya ampun Mama ... Dari tadi Papa tungguin katanya mau ambil minum, kenapa malah singgah di sini?"

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2