
Lestari menatap horor suaminya karena merasa tidak terima.
"Papa jangan asal ngomong ya, lagian Adek itu putri Mama. Jelas ikut Mama dong kelakuannya," cebiknya mulai mengomel tanpa henti.
Dari pada berhadapan lama-lama dengan kedua putra kesayangannya itu, lebih baik Lestari turun ke lantai bawah untuk melihat persiapan acara pertunangan kedua anaknya.
Masih ada sisa beberapa hari tetapi wanita cantik itu bersikeras ingin menyiapkan semuanya sendiri tanpa ada yang kurang sedikit saja.
"Ehh, Mama mau kemana?" teriak Abyan juga Aksa secara bersamaan mendapati Lestari sudah hilang di balik pintu lift yang tertutup rapat.
Kedua pria tampan itu hanya bisa saling pandang merasa ada yang tidak beres.
"Nah, gini nih kalau Mama udah tahu salah kebiasaan banget langsung kabur pake alasan inilah ... Itulah ..." Aksa memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut akibat di paksa bangun padahal rasa kantuknya begitu besar.
Abyan sangat kasihan melihat sang putra sepertinya begitu lelah dan butuh waktu untuk istirahat.
"Kembalilah ke kamar, Bang! Maafkan Papa dan Mama sudah mengganggu waktu tidur Abang," ucapnya menatap bersalah ke arah putranya.
Aksa menggeleng pelan seraya menjadikan lengan sang Papa sebagai tumpuan agar tubuhnya tidak ambruk ke lantai.
"Abang kenapa?" panik Abyan segera memapah tubuh tinggi putranya tersebut menuju arah kamar yang masih tertutup.
Meski sulit meraih gagang pintu kamar karena kedua tangannya menopang tubuh lemah sang putra, akhirnya Abyan berhasil membukanya.
Ceklek
Perlahan pria itu membawa Aksa menuju arah tempat tidur, ia langsung membaringkan tubuh lemah putranya masih dengan raut wajah panik juga khawatir.
"Sakit, Pah ..."
Hanya dua kata itu yang Abyan dengar terucap dari bibir pucat Aksa.
Pria itu langsung menghubungi istrinya yang mungkin saja tengah sibuk mempersiapkan banyak hal di lantai bawah.
__ADS_1
Ketika sambungan telefon sudah terhubung, suara Lestari terdengar kecil karena banyaknya orang di sana.
[Ada apa, Pah?]
"Abang pingsan, tolong Mama naik ke lantai atas sekalian minta Bibi buatkan teh hangat." Seru Abyan masih dengan nada panik
[Apa? Bagaimana bisa Abang, pingsan? Mama kesana sekarang,]
Tutt
#Halaman Utama Adhitama
Lestari yang tidak kalah ikut panik dan khawatir bersamaan setelah menerima telefon dari suaminya, secepat kilat berlari masuk ke dalam rumah dalam keadaan berusaha tetap tenang.
Tidak mungkin wanita cantik itu memperlihatkan kepanikannya pada semua orang, langkahnya menuju arah dapur bersih dimana sang Bibi terlihat sangat sibuk menata berbagai macam bahan makanan untuk makan malam nanti.
"Bibi ..." panggil Lestari berjalan masuk ke dalam dapur menghampiri wanita tua itu.
Lestari tersenyum tipis melihat beberapa pelayan sepertinya ikut menatap ke arahnya.
"Ngga Bik, cuma mau minta tolong buatkan teh hangat buat Aksa." Jawabnya pelan seolah tidak ada yang terjadi
Bibi yang paham segera melaksanakan apa yang di perintahkan padanya, tidak butuh waktu lama untuk membuat segelas teh hangat yang rasa manisnya pas.
"Sudah Nyonya, apa mau sekalian Bibi antar ke lantai atas?" Lestari menangguk pelan sebagai jawaban.
Wanita cantik itu melangkah keluar dari dapur terlebih dahulu di ikuti oleh Bibi yang mengekor di belakangnya.
Ketika sudah berada di dalam Lift barulah Lestari mulai menceritakan kejadian sebenarnya.
"Apa tidak sebaiknya Tuan muda di bawah berobat keluar negri, Nyonya? Bagaimana kalau justru malah semakin tambah parah?" Bibi yang ikut khawatir akan kesehatan Tuan muda Adhitama tersebut merasa sedih dan kasihan.
"Bujuklah Tuan mudah agar mau berobat," mohon wanita tua itu dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Andai saja membujuk Abang semudah kita berucap," kekeh Lestari.
"Memangnya sulit?" heran Bibi.
"Hmm. Tidak mudah Bibi, hanya jika Adek sendiri yang merayu Abang baru mungkin saja bisa." Ucap Lestari pelan namun hal itu membuat Bibi semakin heran dan bingung
"Apa sepenting itukah kehadiran Nona muda dalam hidup Tuan muda?" tanya Bibi penasaran sebab baru kali ini dia mengetahui fakta mengenai Aksa.
Lestari sampai tertawa geli melihat raut wajah penasaran Bibi yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Aku ini Ibunya, Bik. Jelas aku tahu betul sepenting apa keberadaan Adek dalam hidup Abang, sejauh ini Abang sengaja mengundurkan pengobatannya hanya karena ingin Adek juga ikut bersamanya tetapi sudah dalam keadaan Abang dan Adek terikat hubungan pernikahan yang SAH."
Wanita tua itu mengangguk paham tidak lagi bertanya apapun sebab kini pintu lift sudah terbuka yang artinya mereka telah sampai di lantai atas.
Tring
Tepat Mereka berjalan keluar dari lift rupanya berpapasan dengan Jenna yang membuka pintu kamarnya perlahan.
"Abang, Mah ..." adu gadis manis itu sudah berhambur ke dalam pelukan Lestari.
"Jenna kaget waktu Papa telfon bilang Abang pingsan," sambungnya sudah terisak pelan.
"Bibi duluan saja! Aku mau menenangkan Adek dulu takut tangisannya di dengar Abang." Bisik Lestari pada Bibi
Wanita tua itu hanya mengangguk segera berjalan cepat menuju kamar milik Tuan muda Adhitama.
Sekarang hanya tersisa Lestari bersama Jenna masih dalam keadaan menangis, sungguh tidak mudah untuk menenangkan gadis manis itu namun Lestari akan tetap mencobanya.
Seketika sebuah ide cemerlang terlintas di benak Lestari yang mendadak tersenyum menyeringai seolah baru saja mendapatkan harta karun.
"Acara tunangannya batal ajah ya, Dek. Bagaimana kalau langsung intinya saja? Lagi pula menikah sepertinya Mama dan Papa tidak keberatan, asal tidak mempengaruhi kuliah Adek."
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1