Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 9 ~ Cukup Doakan


__ADS_3

Lestari kembali mengetuk pintu kamar Jenna setelah berhasil menenangkan putranya yang begitu mencintai putri angkatnya tersebut.


Ada rasa sedih timbul dalam hati wanita cantik itu kala melihat kondisi sang putra.


Ingin rasanya Lestari menceritakan alasan mengapa gadis cantik yang di angkatnya menjadi anak tersebut selalu menolak lamaran Aksa.


Akan tetapi, Lestari terlanjur terikat dengan sumpah yang di minta Jenna agar menyembunyikan masalahnya dari Aksa, mengingat cerita mengenai kehidupan gadis manis itu tidak sesederhana yang orang lain pikirkan.


"Jenna sayang, buka dong pintunya! Masa Mama di tinggal sendirian sih," teriak Lestari dari balik pintu kamar sang putri.


Berulang kali sang Mama terus mengetuk pintu dan memanggil Jenna, namun belum juga ada balasan atau adanya pergerakan gadis manis itu membuka pintu kamarnya.


Yang di dalam kamar hanya menatap malas ke arah pintu, masih terasa sekali betapa kesalnya Jenna pada pria yang selalu saja memintanya menjadi pendamping hidup tersebut.


"Gini nih kalau tiap hari di gangguin sama Abang, tetap ajah ujung-ujungnya balik Mama lagi yang di repotin." Gerutu Jenna masih setia menatap malas ke arah pintu kamarnya meski sang Mama terdengar mulai kesal sendiri


Tatapan mata gadis itu mulai sayu dan terlihat jelas raut wajah lelahnya.


"Tidak bisakah sehari saja Abang berhenti mengganggu ku, wahai sang penyejuk hati?"


"Rasanya aku ingin kabur saja dari rumah." Teriak Jenna lumayan kuat


Pikirannya terasa kosong, entah apalagi yang akan dia terima setelah hukuman di kampus.


"Abang kalau kayak gini terus, lama-lama aku bisa bosan dan pergi menjauh." Gumam Jenna lirih dengan wajah di tekuk


Tanpa gadis itu sadari, kalimat terakhir yang barusan di ucapkannya telah di dengar Lestari setelah berhasil membuka pintu kamar menggunakan kunci cadangan.


Wanita cantik yang tidak pernah membedakan kasih sayangnya terhadap sang putra dan putri angkatnya itu hanya tersenyum geli.


Kabur? Bahkan satu jengkal saja kaki mu melangkah keluar dari rumah ini akan sangat sulit Jenna sayang, apa kamu lupa bagaimana posesifnya Abang bila sudah bersangkutan dengan mu. Bathin Lestari menatap gemas ke arah Jenna


Wanita itu kembali tersenyum geli ketika tanpa sengaja mata indahnya melihat ke arah Jenna yang meluapkan kekesalannya lewat bantal dan selimut.


Semua yang berada di atas ranjang termasuk boneka beruang besar yang di belikan Lestari sebagai hadiah ulang tahun sudah berserakan di atas lantai.


Aarrghh


"Abang Aksa, i kill you."


Mata Jenna mengisyaratkan rasa kekesalan tidak terbendung terhadap sang Abang.


Betapa kesalnya perasaan gadis manis itu kala mengingat kembali setiap detik hukuman yang dia terima dari Aksa.


Bukan hanya sekali dua kali melainkan setiap ada kesempatan luang, pastinya pria tampan itu datang membuat mood Jenna hancur berantakan.


"Dasar Abang jelek, kutu buku, sok ganteng."

__ADS_1


"Iihhh, kenapa bisa sih Jenna ketemu dengan pria modelan kayak Abang?"


"Huaaa, kalau bukan karena Mama dan Papa lebih sayang Jenna. Mana mau Jenna tinggal satu atap dengan Abang."


"Huh, dasar Abang gila."


Segala unek-unek yang selama ini di pendam Jenna dalam hatinya keluar semua tanpa ada yang tersisa, mungkin bagi orang lain apa yang Jenna lakukan bukanlah hal biasa.


Akan tetapi, bagi gadis itu setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulutnya semata-mata hanya karena ingin menyembunyikan rasa sakit dalam hatinya yang paling dalam.


Apa yang di lakukan Aksa tidak sepenuhnya suatu kesalahan, melainkan niat pria tampan itu justru malah baik untuk Jenna.


Belum sempat gadis manis itu kembali mengumpat, tiba-tiba suara benda jatuh mengagetkannya.


"Astagfirullah, itu apaan?" pekiknya seraya kepalanya menoleh ke arah pintu.


DEG!


Lidah Jenna terasa kelu dengan mulut menganga sempurna, dari arah pintu kamar yang tertutup jelas dia tahu bagaimana sang Mama diam-diam memasuki kamarnya.


"Ma-mama--," gumamnya pelan.


Lestari berjalan santai mendekat ke arah ranjang atau lebih tepatnya menuju tempat di mana Jenna tengah duduk bersila dengan bantal kecil di atas pahanya.


"Mama kok bisa masuk?" tanya gadis itu berusaha menghilangkan rasa takutnya.


Wanita cantik itu memperlihatkan sebuah benda yang Jenna tahu itu adalah kunci cadangan.


"Maafin Abang ya, Dek!"


"Jenna juga minta maaf udah bikin Mama pusing, bukan maksud Jenna sengaja mengurung diri dalam kamar. Mama tentu jauh lebih tahu bagaimana posisi Jenna saat ini, terlalu sulit untuk di ungkapkan meski hati terus meminta lebih." Ucap gadis itu lirih dengan mata berkaca-kaca


Lelah rasanya terus menolak keinginan baik seorang pria yang jelas dari segi akhlaknya saja begitu mulia dan sempurna.


Banyak yang ingin Jenna lakukan termasuk memilih menjalani masa depan dengan sosok yang tidak pernah mencari tahu atau mempermasalahkan kekurangannya.


Akan tetapi, semua tinggal rencana yang tidak pasti akan tercapai atau justru malah menambah masalah hidupnya.


.


.


Setengah jam kemudian.


Lestari mengangguk paham setelah mendengar penjelasan dari mulut sang putri.


"Mungkin Abang rindu sama kamu, Dek." Godanya sembari tertawa geli

__ADS_1


"Cuma alasan Abang itu sih, Mah." Kilah Jenna tidak mau membenarkan ucapan sang Mama


"Mana ada sampai rindu Jenna sementara tinggalnya saja kita seatap." Protesnya yang aneh sendiri dengan kelakuan Aksa


"Percuma seatap kalau belum satu kamar, benar ngga Dek?" kekeh Lestari begitu senang membuat putri angkatnya itu sampai merah pipinya karena malu.


"Apaan sih, Mama. Nanti Jenna aduin Papa, loh." Elak Jenna sebenarnya malu dan pipinya kini memerah bak tomat masak


Mereka tertawa lepas seolah meluapkan segala sesuatu yang membuat perasaan tidak nyaman.


"Kalau sudah ada jawabannya segera kasih tahu Mama ya?" pinta Lestari dengan nada sedikit memohon.


Satu hal kecil yang sangat mustahil di tolak Jenna, berbicara soal hati yang telah lama di tutup rapat membuatnya berada dalam pilihan yang sulit.


"Insha Allah, Mama. Cukup doakan Jenna semoga ada jalan keluar terbaik yang Allah berikan tanpa harus melibatkan masa lalu."


"Selalu sayang, doa Mama akan tetap bersama mu."


.


.


.


#Kamar


Aksa terus memikirkan apa yang di katakan sang Mama beberapa waktu lalu. Ia memang sangat suka membuat Jenna kesal dan berakhir merajuk.


Namun, ia tahu betul seperti apa kelakuan Jenna bila di rumah.


"Apa sikap ku sudah membuatnya tidak nyaman?" gumam pria itu bertanya pada dirinya sendiri.


"Tapi hanya itu cara agar dia mau melihat ku."


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar lumayan kuat kembali terdengar, mengalihkan fokus Aksa yang semula melamun.


"Ngga mungkin itu Mama, kan?" herannya menebak asal.


Perginya sang Mama yang katanya mau membujuk Jenna agar keluar dari kamar belum ada sekitar satu jam.


"Siapa?" teriaknya hendak bangkit dari tempat duduk.


"Buka pintunya! Ada yang ingin Papa bicarakan."


Suara bariton milik seorang pria merupakan sang Papa membuat Aksa dengan cepat membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Jangan di tanyakan apa yang di lakukan suami tercinta Lestari pada putranya tersebut.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2