Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 25 ~ Siapa Dia


__ADS_3

Jam kuliah telah selesai. Waktunya bagi Jenna untuk pulang ke rumah bersama dengan sang Abang.


Gadis manis itu sudah berjanji tidak akan lagi melakukan hal-hal konyol hanya demi mendapatkan perhatian dari Aksa.


Sejauh mana Jenna menahan diri agar tidak terlalu bergantung pada Aksa, nyatanya kehadiran pria tampan itu teramat penting dalam hidupnya.


Rasa trauma karena pernah patah hati dan terluka di masa lalu membuat Jenna berjanji pada dirinya sendiri agar tidak lagi percaya pada setiap ucapan janji manis yang keluar dari mulut pria.


Sejujurnya gadis manis itu terlalu takut untuk berbicara jujur pada Aksa, perihal alasan apa yang membuatnya keras hati membuka diri dan menerima lamaran pria tampan itu.


"Jangan ingat lagi deh, nanti kalau aku sakit Mama dan Papa bisa khawatir." Gumam Jenna teramat pelan nyaris tidak terdengar


Dia berjalan santai menyusuri lorong sepanjang kampus menuju ruangan milik Aksa. Jangan sampai pria tampan itu mengamuk hanya karena di buat menunggu oleh Jenna.


Tiba di depan pintu ruangan milik sang Abang tanpa mengetuk pintu Jenna langsung masuk ke dalam.


Namun langkahnya terhenti kala matanya tidak sengaja melihat bayangan seseorang yang berdiri membelakangi pintu ruangan.


Perlahan Jenna mundur ke belakang jangan sampai membuat mereka terkejut.


"Abang lagi bicara dengan siapa?" gumamnya bertanya.


Dari apa yang di lihat gadis manis itu sepertinya Aksa tengah berbicara dengan seseorang atau lebih tepatnya seorang wanita.


Postur tubuh orang itu lumayan tinggi dengan high heals rendah yang menopang kaki jenjangnya yang putih mulus bersih kinclong tanpa bekas noda.


Baju kali yaa ... Wkwk


Perasaan Jenna mulai tidak nyaman melihat adanya seorang wanita di dalam ruangan milik Aksa, tidak tahu apa yang membuat orang itu datang kemari.


"Bukannya Abang selalu bilang ke aku kalau selama ini ngga ada wanita lain selain aku seorang," monolog Jenna seraya menggigit gemas jari tangannya.


Segala macam pikiran negatif mulai terlintas di benak gadis manis itu, bagaimana kalau justru benar adanya sang Abang ternyata sudah memiliki seorang kekasih tanpa dia ketahui.


"Ihhh, ngga mau. Abang cuma punya aku titik," geram Jenna hendak berlari masuk ke dalam ruangan Aksa namun belum apa-apa langkahnya dengan cepat di cegah oleh seseorang.


Gadis manis itu menoleh ke belakang guna memastikan siapa yang berani menghalanginya masuk ke dalam ruangan milik Aksa.


"Ja ... Eh, Mama kok bisa di sini?" kagetnya menyadari sang Mama yang ternyata menahannya agar tidak masuk kesana.


Lestari tersenyum manis segera membawa putrinya pergi menjauhi ruangan milik sang putra yang kini masih bersama seorang wanita kata Jenna barusan.


Perlakuan sang Mama justru membuat Jenna di liputi rasa penasaran dan takut bagaimana keadaan sang Abang.

__ADS_1


"Mama mau bawa Jenna kemana?" tanya gadis manis itu seraya langkah kakinya berusaha mengimbangi langkah kaki panjang Lestari.


Tubuh mungilnya jelas tidak bisa di bandingkan dengan tubuh tinggi semampai sang Mama yang notabennya merupakan mantan seorang Model sebelum menikah dengan Papa Abyan.


Wanita cantik itu tidak menjawab dan memilih diam seraya langkah kakinya sengaja diperlambat agar sang putri tidak kesusahan.


.


.


Sepuluh menit kemudian Lestari sampai di sebuah Restaurant yang jaraknya tidak jauh dari kampus.


Wanita cantik itu memesan dua jus sebelum meladeni berbagai pertanyaan Jenna yang begitu penasaran pada sosok wanita di ruangan Aksa.


Lima menit kemudian seorang pelayan datang membawa pesanan Lestari, tidak lupa wanita cantik itu mengucapkan terima kasih.


Jenna meminum setengah jus strawbery favoritnya, masih kesal dengan sikap Mama Lestari karena sudah berani menghalanginya masuk ke dalam ruangan milik Aksa.


"Mama aneh banget deh, sumpah." Jenna sungguh tidak habis pikir sedari tadi pertanyaannya belum juga mendapatkan jawabannya


"Kenapa Mama nahan Jenna masuk ke ruangan Abang?" kali ini gadis itu berusaha untuk sabar.


Raganya berada di sini, namun hati dan pikirannya masih tertuju pada Aksa.


"Mama jawab?" sentak Jenna tidak sabar ingin mengetahui siapa sosok wanita yang bersama Aksa.


Lestari yang hendak menelan minumannya sampai tersedak saking kuatnya suara Jenna.


Uhuk .. uhuk


Wajah wanita itu mulai memerah karena banyaknya jus yang sepertinya masuk ke bagian hidung.


Sementara Jenna meringis takut dan panik melihat sang Mama kesulitan bernafas.


"Ya ampun, Mama ..." pekiknya segera bangkit dari kursi berpindah ke belakang kursi Lestari.


Jenna menepuk pelan punggung sang Mama seraya menormalkan pernapasan wanita itu.


"Tuh kan, kualat sih." Oceh Jenna tanpa dosa masih juga kesal karena dia tidak sempat masuk ke ruangan Aksa


"Lagian Mama ngapain bawa Jenna kesini kalau ujung-ujungnya pertanyaan Jenna ngga di jawab juga?"


Lestari hanya diam mendengar putri angkatnya itu mengoceh. Bukan karena apa dia belum juga menjawab apa yang sejak tadi di tanyakan Jenna.

__ADS_1


Dan kepergian mereka secara tiba-tiba nyatanya di ketahui Aksa yang menyadari ada Jenna di depan pintu masuk ruangannya.


Aksa segera mengirim pesan singkat pada Mama Lestari yang mengatakan jangan beritahu apapun pada Jenna, biar ia sendiri yang berbicara langsung.


Melihat sang Mama sudah baikan akhirnya Jenna meminta maaf namun masih tetap merasa kesal sendiri.


Rasa cemburunya berlipat ganda kala melihat sosok wanita cantik yang tadi berada di ruangan Aksa tengah berjalan dengan santainya ke arah mereka.


Semakin langkah wanita itu mendekat darah Jenna seketika mendidih siap melabraknya.


"Jangan nakal sayang," tegur Aksa yang entah datang dari arah mana.


Gadis manis itu sampai kaget menyadari sang Abang kini sudah berdiri tegak di belakang tubuhnya hendak memeluk namun dengan cepat Jenna menghindar.


"Mau apa?" ketusnya menatap penuh permusuhan bukan pada Aksa melainkan ke arah wanita cantik yang berdiri di depan Mama Lestari.


"Jauh-jauh sepuluh meter dari Mama!" kali ini Jenna beralih berpindah tempat di mana Mama Lestari duduk tenang tanpa merasa terganggu.


Sikap posesif gadis manis itu naik 180 derajat.


"Ngapain kamu ikut kemari sih?" Jenna sungguh kesal dan geram sendiri ketika menyadari wanita itu ternyata sangat cantik dan ...


"Eehh, tunggu sebentar. Berapa usiamu?" tanyanya menelisik dari ujung kaki sampai ujung rambut lalu berhenti di wajah tampa polesan make up milik wanita itu.


Yang di tanya tersenyum tipis sesekali ekor matanya melirik Aksa yang kini sudah duduk santai di samping Mama Lestari.


Wanita itu menatap Jenna seraya tersenyum menyeringai.


"Untuk apa menanyakan umurku? Bukannya aku yang harusnya bertanya siapa kamu dan apa hubungan mu dengan Abang?"


"What ABANG ..." pekik Jenna kuat sampai mengganggu beberapa pengunjung yang begitu fokus makan siang.


Betapa terkejutnya gadis manis itu mendengar ada wanita lain selain dirinya memanggil Aksa dengan sebutan Abang.


"Jangan kamu memanggilnya dengan sebutan itu," hardik Jenna tersulut emosi.


Di balik punggung Mama Lestari sekuat tenaga Aksa menahan diri agar tidak tertawa.


Mengapa gadis manisku sangat menggemaskan ketika marah. Teriak pria tampan itu dalam hati


Betapa bahagianya Aksa dapat dengan jelas melihat reaksi Jenna yang cemburu dan posesif pada dirinya.


"Siapa dia, Abang?"

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2