Se Indah BERLIAN

Se Indah BERLIAN
Bab 24 ~ Mengerjai Sang Abang


__ADS_3

Drama pertengkaran yang sebenarnya tidak lah penting dan hanya masalah kecil akhirnya berakhir dengan keduanya saling meminta maaf dan berbaikan.


Perasaan Jenna mulai kembali tenang, mata indahnya tidak lagi mengeluarkan cairan bening yang menguras emosi.


"Abang habis dari kampus mau kemana?" tanya Jenna memulai percakapan.


Keduanya duduk saling berdampingan di sofa panjang yang sengaja di sediakan pihak kampus di karenakan Jenna begitu suka berlama-lama istirahat di dalam ruangan milik sang Abang.


Aksa menoleh ke arah samping di mana gadis manisnya itu berada.


"Ngga tahu sayang, pulang mungkin." Jawab Aksa jujur


"Kenapa? Mau jalan-jalan dulu sebelum pulang atau mampir di toko buku depan Butik punya Mama?"


Pria tampan itu berpindah posisi duduk agar lebih leluasa melihat wajah cantik alami milik Jenna.


Apa yang di lakukan Aksa membuat jantung Jenna berdetak sangat kencang. Tidak tahu mengapa akhir-akhir ini ada yang tidak beres dengan isi hatinya.


"Jangan liatin Jenna kayak gitu, bisa kan?" panik Jenna mulai merasakan gugup.


Aksa menatap penuh intens ke arah gadis itu, tatapan mata seperti mengisyaratkan sesuatu membuat Jenna mulai salah tingkah sendiri.


"Abang kenapa lagi? Liatinnya biasa ajah dong," protes gadis itu sebenarnya takut dan gugup.


Takut karena mungkin saja ada orang lain yang datang dan mendapati mereka tengah duduk saling berdekatan, dan gugup karena jantung gadis itu serasa ingin melompat dari tempatnya.

__ADS_1


Tawa Aksa langsung pecah membuat Jenna kebingungan.


"Lah malah ketawa, jangan-jangan Abang kemasukan jin?" pekik Jenna lumayan kuat.


Gadis itu hendak bangkit dari sofa namun dengan cepat di tahan Aksa.


"Mau kemana kamu?" tanyanya dengan sorot mata tajam.


"Abang aneh, Jenna 'kan takut." Jawab Jenna jujur dengan mata sudah berkaca-kaca hendak menangis


"Eh, eh. Loh kenapa malah nangis, ya ampun sayang." Kekeh Aksa langsung menarik pelan tubuh mungil gadis kesayangannya itu agar masul ke dalam dekapannya


Jenna benar-benar menangis, karena melihat Aksa seperti bukan sang Abang yang dia kenal tentu rasa takutnya langsung muncul.


"Udah dong sayang, jangan nangis lagi." Pinta Aksa berusaha menenangkan Jenna


Pria tampan itu sama sekali tidak menyangka bila apa yang barusan ia lakukan ternyata membuat Jenna sampai menangis ketakutan.


Bunyi dering ponsel di atas meja mengalihkan fokus Aksa yang masih setia menenangkan Jenna.


"Hallo, Mah." Sapa pria tampan itu ketika telefon sudah tersambung


[Adek lagi sama Abang?]


"Iya Mah, lagi nangis ngga mau berhenti." Jawab Aksa berbicara jujur

__ADS_1


[Kok bisa? Abang apain Adek sih, kenapa sampai nangis kayak gitu?]


"Maaf Mama, tadi cuma iseng ajah mau jahilin Aira. Tapi malah jadi nangis anaknya, gimana dong? Ini Abang bingung cara bikin Aira tenang kayak gimana," adu Aksa mulai bingung sendiri.


[Astaga Abang, mana Mama tahu. Kalau pun Mama tahu caranya, ngga bakalan Mama kasih tahu ke Abang. Usaha sendiri!]


"Hallo, Mama."


"Hallo ..."


"Ya ampun malah di matiin lagi."


Betapa kesalnya Aksa karena tidak mendapatkan bantuan dari sang Mama.


Sedari tadi pria tampan itu uring-uringan bingung sendiri tidak tahu cara membuat Jenna berhenti menangis.


"Tolonglah sayang, jangan hukum Abang dengan cara seperti ini. Serius deh, Abang bingung mau nenangin gadis yang lagi nangis itu kayak gimana." Ucap polos Aksa terlihat pasrah


Sementara di balik dada bidang pria tampan itu, bibir mungil Jenna tidak henti-hentinya tersenyum geli.


Jenna merasa sangat puas telah berhasil mengerjai sang Abang.


Siapa suruh buat aku nangis. Bathinnya tertawa puas


Beruntung sang Mama tidak mau ikut campur dalam masalah mereka, bisa ketahuan kalau Jenna sebenarnya tidak benar-benar menangis.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2